Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Zakat Pertanian

Berkata penulis rahimahullāh:

((وأما الزروع فتجب الزكاة فيها بثلاثة شرائط: أن يكون مما يزرعه الآدميون. وأن يكون قوتا مدخرا. وأن يكون نصابا))

((Adapun zakāt pertanian maka wajib zakāt pada pertanian tersebut apabila memenuhi 3 (tiga) syarat.

⑴ Hasil pertanian yang ditanam oleh manusia.

⑵ Hasil pertanian tersebut adalah jenis makanan pokok yang bisa disimpan.

⑶ Hasil pertanian tersebut sudah mencapai keadaan nishab))

[Catatan: 3 (tiga) syarat tersebut ini diluar dari syarat ketentuan umum, yaitu: ⑴ Islām ⑵ Merdeka ⑶ Memiliki secara sempurna]

Disini kita lihat kewajiban zakāt yang terkait dengan zakāt pertanian sesuai dalīl dari firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

“Wahai orang-orang yang berimān berinfāqlah (zakāt) kalian dari hasil usahamu yang baik-baik dan dari sebagian apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

(QS Al Baqarah: 267)

⇒Ini menunjukan wajibnya mengeluarkan zakāt dari apa-apa yang dikeluarkan bumi yaitu pertanian maupun buah-buahan.

Dalam ayat yang lain Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

 كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِه

“Makanlah kalian dari buah-buahan tersebut apabila dia telah berbuah dan berikanlah haknya (zakātnya) pada saat hari panennya.”

(QS Al An’am: 141)

⇒Ini menunjukan bahwa hukum dari zakāt pertanian adalah wajib.

Dengan tiga syarat yang ditambahkan dari syarat umum, yaitu:

⑴ Hasil pertanian yang ditanam oleh manusia.

Apabila tumbuhan tersebut tumbuh dengan liar maka tidak termasuk di dalam syarat ini.

⇒Yang termasuk dalam syarat ini adalah pertanian yang diusahakan atau ditanam oleh manusia.

⑵ Hasil pertanian tersebut adalah jenis makanan pokok yang bisa disimpan.

Di sini menjelaskan tentang madzhab Syāfi’i bahwasanya di dalam madzhab Syāfi’i jenis pertanian yang wajib dizakāti adalah jenis bahan pokok dan dia dapat disimpan. Ini juga merupakan pendapat Imām Mālik.

Dan di sana ada beberapa pendapat yang lain, kami akan jelaskan sedikit.

Pendapat pertama | Pendapat bahwasanya tidak ada zakāt kecuali pada 4 (empat) jenis saja sebagaimana yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena di dalam hadīts disebutkan ada 4 jenis, yaitu:

⑴ Gandum yang halus (Hinthah)

⑵ Gandum yang kasar (Sya’ir)

⑶ Kurma (Tamr)

⑷ Kismis (Zabib)

Maka 4 (empat) jenis ini saja yang wajib dizakāti, adapun selain 4 (empat) jenis ini tidak wajib untuk dizakāti.

Ini adalah pendapat madzhab Ibnu ‘Ummar, Imām Hasan Al Basri, Imām TSauri dan yang lainnya.

Pendapat kedua | Pendapat Imām Syāfi’i dan Imām Mālik bahwasanya jenis pertanian adalah semua yang termasuk bahan makanan pokok yang digunakan atau dimakan oleh manusia, dan juga bisa disimpan, maka ini termasuk di dalam hadīts walaupun di hadīts disebutkan empat akan tetapi yang dimaksudkan adalah bahan makanan pokok yang bisa disimpan.

Adapun pendapat Imām Ahmad bahwasanya zakāt tersebut pada jenis yang bisa ditakar.  Beliau (Imām Ahmad) berdalīl dengan hadīts

لَيسَ فِيمَا دُونَ خَمسِ أَوسُقٍ صَدَقَةٌ

“Dan tidak ada sedekah atau zakāt hasil pertanian yang dibawah 5 (lima) wasaq.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 1405 dan Muslim nomor 979)

Ini menunjukkan kata Imām Ahmad bahwa semua zakāt pertanian adalah pada jenis yang bisa ditakar (ditimbang).

Pendapat Abū Hanifah, secara umum bahwasanya seluruh jenis pertanian maka dia harus dizakāti.

Semua yang keluar dari muka bumi harus dizakāti dengan berdalīl dengan hadīts yang umum, sebagaimana tadi sudah disebutkan yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

“Wahai orang-orang yang berimān berinfāqlah (zakāt) kalian dari hasil usahamu yang baik-baik dan dari sebagian apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

(QS Al Baqarah: 267)

Maka seluruh pertanian yang dikeluarkan dari muka bumi maka ini wajib dizakāti.

Inilah pendapat yang hati-hati apabila seseorang ingin berzakāt menurut madzhab Hanafiyyah adalah semua jenis pertanian yang dikeluarkan dari muka bumi.

⑶ Hasil pertanian tersebut sudah mencapai keadaan nishab.

Apabila sudah mencapai keadaan nishab maka dia wajib zakāt dan apabila tidak mencapai keadaan nishab maka tidak wajib zakāt.

Berapa kadar nishabnya?

Berdasarkan jumhūr ulamā bahwasanya nishab bagi pertanian maupun buah-buahan adalah 5 ausuq.

Berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَيسَ فِيمَا دُونَ خَمسِ أَوسُقٍ صَدَقَةٌ

“Dan tidak ada sedekah atau zakāt hasil pertanian yang dibawah 5 (lima) ausuk.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 1405 dan Muslim nomor 979)

⇒5 (lima) ausuq kira-kira adalah 640 gram gandum dan ada perkiraan yang lain, ini adalah kadar kira-kiranya (yang jelas adalah 5 ausuq)

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar