Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Melaksanakan Shalat

MATAN KITAB

(فصل) وخمسة أوقات لا يصلى فيها إلا صلاة لها سبب: بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس وعند طلوعها حتى تتكامل وترتفع قدر رمح وإذا استوت حتى تزول وبعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس وعند الغروب حتى يتكامل غروبها.

Ada lima waktu yang tidak boleh melakukan shalat kecuali shalat yang memiliki sebab yaitu setelah shalat subuh sampai terbit matahari; saat terbit matahari sampai sempurna terbitnya dan naik setinggi ujung tombak; saat matahari tepat diatas kepala sampai tergelincir; setelah shalāt Ashar sampai tenggelamnya matahari; tatkala mulai tenggelam matahari sampai sempurna tenggelamnya.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

وخمسة أوقات لا يصلى فيها

“Dan ada 5 waktu yang tidak boleh shalāt didalamnya”.

⇒ Larangan shalāt disini adalah larangan untuk shalāt sunnah mutlak.

⇒ Larangan di lima waktu berlaku untuk semua tempat kecuali Harām Mekkah.

Apa Hukum shalāt sunnah mutlak di Harām Mekkah?

  Disana ada 2 (dua) pendapat

⑴ Syāfi’iyah

Pendapat Syāfi’iyah dalam masalah ini adalah membolehkan shalāt diwaktu yang terlarang jika dilakukan di Harām Mekkah, bahkan tidak terbatas pada masjidnya namun meliputi tanah Harām seluruhnya (Boleh shalāt di waktu yang terlarang).

Berdasarkan hadīts Jabir bin Muth’im dalam sunan Tirmidzi dan lainnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 يا بني عبد مناف، لا تمنعوا أحدا طاف بهذا البيت وصلى أية ساعة شاء من ليل أو نهار

“Wahai bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang siapapun yang hendak thawāf di rumah ini (Ka’bah) dan shalāt kapan saja di malam ataupun di siang hari.”

(HR Tirmidzi)

⑵ Jumhūr ulamā

Adapun pendapat jumhūr ulamā (mayoritas ulamā) bahwasanya hadīts tersebut maksudnya adalah hanya khusus shalāt thawāf 2 (dua) rakaat saja (shalāt sunnah thawāf).

⇒ Pendapat jumhūr dalam masalah ini lebih kuat daripada pendapat yang lainnya.

Berkata penulis :

 إلا صلاة لها سبب

“Kecuali shalāt yang memiliki sebab”

⇒ Madzhab Syāfi’iyah dan juga jumhūr membolehkan seluruh shalāt yang memiliki sebab dalam waktu yang terlarang, baik shalāt sunnah ataupun shalāt wajib, ini adalah pendapat yang lebih kuat (rajih).

Disana ada yang mengatakan bahwasanya shalāt sunnah tidak boleh dilakukan pada saat waktu yang terlarang.

· Shalāt yang memiliki waktu sebab diantaranya adalah :

√ Shalāt wajib

√ Shalāt sunnah tahiyyatul masjid

√ Shalāt sunnah wudhu

√ Dan shalāt-shalāt sunnah yang lainnya yang dia memiliki sebab.

Hal ini berdasarkan hadīts Anas, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa untuk shalāt (shalāt apa saja), maka hendaknya dia shalāt tatkala dia ingat”

(HR Imam yang lima /Al khamsah)

Disini disebutkan bahwasanya dia shalāt pada saat dia ingat (pada saat kapan saja dia ingat) maka dia shalāt.

Dan disini bisa lebih jelas yaitu hadits Ummu Salamah beliau berkata:

“Manakala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt dua raka’at setelah Ashar, maka Ummu Salamah pun bertanya akan hal itu, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam  menjawab :

يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ، إِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ بِالْإِسْلَاامِ مِنْ قَوْمِهِمْ، فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، فَهُمَا هَاتَانِ»

Wahai anak Abū Umayyah (Ummu Salamah), kamu menanyakan dua raka’at setelah shalāt Ashar ? orang-orang dari kabilah Abdil Qais, mereka mendatangiku untuk masuk Islam dari kaumnya, maka hal itu membuatku sibuk dari dua raka’at/sibuk untuk mengerjakan shalāt dua raka’at setelah dhuhur, maka dua raka’at tadi penggantinya”

(HR Bukhāri dan Muslim I/571)

Jadi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengganti (mengqadha) shalāt ba’diyah dhuhur dilakukan pada waktu shalāt Ashar.

⇒ Begitu juga shalāt tahiyatul masjid diperintahkan untuk shalāt tatkala masuk masjid kapan saja, berdasarkan hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Apabila  salah seorang dari kalian masuk masjid, maka shalātlah dua raka’at sebelum duduk”

(HR Bukhari I/96 dan Muslim)

⇒ Jadi shalāt dua raka’at dikaitkan dengan masuk dalam masjid waktunya kapan saja.

⇒ Jadi waktu-waktu yang terlarang tersebut terkait dengan shalāt sunnah muthlak.

Apa itu shalāt sunnah muthlak?

Shalāt sunah mutlak adalah semua shalāt sunah yang dilakukan,

√ Tanpa terikat waktu

√ Tanpa sebab tertentu

√ Jumlah raka’at tertentu

Sehingga boleh dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan jumlah (raka’at) berapa saja, selama tidak dilakukan di waktu atau ditempat yang terlarang untuk shalāt

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27:154)

قال المصنف:

Kemudian penulis melanjutkan tentang waktu-waktu yang terlarang diantara nya :

بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس

“Setelah shalāt subuh sampai terbit matahari”

وعند طلوعها حتى تتكامل وترتفع قدر رمح

“Dari terbit matahari sampai sempurna terbitnya dan naik setinggi ujung tombak”

⇒ Ini adalah waktu yang menyambung yaitu sejak setelah selesai subuh sampai naiknya matahari seujung tombak terhitung dari terbit matahari.

⇒ Jadi seseorang apabila masuk waktu shuruq (terbit matahari) belum diperbolehkan untuk shalāt, dan dia harus menunggu sampai matahari naik sekadar ujung tombak.

Berapa lama waktu kira-kiranya didalam menit ?

↝Disebutkan para ulamā kisaran waktunya antara 10 menit-15 menit sejak terbit matahari.

↝Syaikh Utsaimin menyebutkan kadar kira-kira 10-12 menit dari terbit matahari atau dari shuruq.

↝Syaikh bin baz dan Syaikh Jibrin memperkirakan sekitar 15 menit dari waktu terbit.

وإذا استوت حتى تزول

“Pada saat matahari tepat diatas kepala sampai tergelincir”

Berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir, beliau berkata:

ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل، وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب ”

“Bahwasanya ada tiga waktu yang  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kami untuk shalāt dan juga menguburkan orang-orang yang meninggal yaitu (1) pada saat matahari terbit  sampai dia meninggi, dan (2) tatkala matahari berada dipuncaknya sampai dia tergelincir, dan (3) manakala matahari mulai terbenam sampai dia tenggelam”

(Hadīts riwayat An Nasai)

وبعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس

“Dan setelah shalāt Ashar sampai tenggelamnya matahari”

وعند الغروب حتى يتكامل غروبها

“Dan tatkala mulai tenggelam matahari sampai sempurna tenggelamnya”

Dan semua ini berdasarkan hadīts ‘Amr bin ‘Abasah beliau berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ اللَّيْلِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ: «جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا شِئْتتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ، ثُمَّ أَقْصِرْ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَتَرْتَفِعَ قِيسَ رُمْحٍ، أَوْ رُمْحَيْنِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى يَعْدِلَ الرُّمْحُ ظِلَّهُ، ثُمَّ أَقْصِرْ، فَإِنَّ جَهَنَّمَ تُسْجَرُ، وَتُفْتَحُ أَبْوَابُهَا، فَإِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ، فَصَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ، حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ»

“Saya bertanya, Wahai Rasūlullāh bagian malam yang manakah yang paling didengar (dikabulkan), beliau menjawab “pada malam pertengahan yang terakhir”, maka shalātlah kamu sebagaimana yang kamu suka, karena shalāt itu disaksikan dan dicatat (para malaikat-pent-) sampai shalāt subuh, kemudian berhentilah sampai  matahari terbit dan kemudian sampai meninggi sekadar ujung tombak atau sekitar dua ujung tombak, karena matahari tersebut terbit diantara dua tanduk syaithān, dan pada saat itu orang-orang kāfir mereka shalāt /beribadah kepadanya (syaithān tersebut), kemudian shalātlah kamu sebagaimana yang kamu suka, karena shalāt tersebut disaksikan dan dicatat, sampai bayangan itu pada ujung tombak (tidak ada bayangan) karena berada dipuncak tombak tersebut, kemudian berhentilah karena pada saat itu neraka Jahannam dinyalakan dan dibuka pintu-pintunya, apabila matahari telah tergelincir, maka shalātlah sebagaimana yang kamu suka, karena shalāt tersebut disaksikan sampai datang waktu shalāt Ashar, kemudian berhenti lah sampai matahari tenggelam, karena Sesungguhnya matahari tersebut tenggelam diantara dua tanduk syaithan, dan pada saat itu orang-orang kāfir shalāt (beribadah) kepada syaithān tersebut.”

(HR Abū Abū Dāwūd 2/25)

Ini adalah dalīl diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd yang merupakan dalil dari waktu-waktu yang terlarang.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar