Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Tayammum

PERTAMA | APA YANG DIMAKSUD DENGAN TAYAMMUM?

Tayammum (التيمم) ;

• Secara bahasa maknanya adalah القصد (al-qashdu: maksud/yang dituju) dan الطلب (ath-thalab: mencari)

• Secara istilah adalah:

القصد إلى الصعيد ومسح الوجه واليدين به على صفة مخصوصة بشرائط مخصوصة بديلاً عن الوضوء أو الغسل

“Bermaksud atau menuju atau menggunakan ash-sha’īd dan mengusap wajah & kedua tangan dengannya (ash-sha’īd tersebut) dengan cara yang khusus dengan syarat-syarat yang khusus juga, yang dia adalah sebagai thaharah pengganti dari wudhū’ maupun mandi.

⇒ Ash-sha’īd ditafsirkan oleh para ulama dengan makna التراب الطهور (at-turāb ath-thahūr: tanah yang suci). Atau sebagian ulama mengatakan ash-sha’īd adalah:

كل ما صعد على الارض

“Semua yang muncul ke permukaan bumi.”

■ KEDUA | DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA TAYAMMUM

⑴ AL-QURĀN

Allāh Ta’āla berfirman:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Apabila kalian tidak mendapati air maka bertayammumlah dengan tanah yang suci.” (QS An-Nisā: 43)

⑵ HADITS RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

Diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَ جُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَتْ لَنَاتُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَااءَ

“Dan dijadikan untuk kami bumi seluruhnya adalah masjid dan dijadikan untuk kami tanahnya suci & mensucikan jika kami tidak mendapatkan air.” (HR Muslim)

⑶ IJMA’ PARA ULAMA

⇒ Bahwasanya tayammum adalah disyari’atkan di dalam Islam.

■ KETIGA | HIKMAH DISYARI’ATKANNYA TAYAMMUM

Bahwasanya dia adalah rahmat (kasih sayang) dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap kaum muslimin dengan memberikan kemudahan berupa disyari’atkannya tayammum.

Allāh Ta’āla berfirman:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَييْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allāh tidak menghendaki kesulitan bagi kalian, justru Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghendaki untuk kalian agar membersihkan kalian serta menyempurnakan nikmatnya agar kalian bersyukur.” (QS Al-Māidah: 6)

■ KEEMPAT | SYARAT DIPERBOLEHKANNYA TAYAMMUM

قال المصنف:

((و شرائط التيمم خمسة أشيآء))

((Dan syarat-syarat tayammum ada 5 perkara))

• SYARAT ⑴

((وجود العذر بسفر أو مرض))

((Adanya udzur/alasan disebabkan Shafar/bepergian atau disebabkan penyakit))

⇒ Disini ada dhābith (ketentuan) bolehnya seseorang bertayammum, diantaranya:

❶ Al-‘Ajz (العجز)

Yaitu ketidakmampuan dalam menggunakan air, apakah karena tidak bisa menggunakan air atau dikhawatirkan dalam menggunakan air tersebut akan menyebabkan kemudharatan yang lebih besar.

❷ Al-Faqdu (الفقد)

فقدان الماء

“Tidak mendapatkan air sama sekali.”

Diantara sebab al-‘ajz (ketidakmampuan) tersebut diantaranya adalah Shafar (bepergian) dan sakit, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مِّنكُم مِّن الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَممْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ…

“Dan apabila kalian dalam keadaan sakit atau dalam keadaaan Shafar dan kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah… “(QS An-Nisā: 43)

⇒ Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu menafsirkan ayat ini bahwasanya: “Jika kalian sakit maka bertayammumlah dan jika kalian dalam keadaan Shafar dan tidak mendapatkan air maka bertayammumlah.”

• SYARAT ⑵

((ودخول وقت الصلاة))

((Dan masuknya waktu shalat))

Firman Allāh Ta’āla:

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Apabila kalian akan mendirikan shalat maka cucilah wajah-wajah kalian.” (QS Al-Māidah: 6)

Oleh karena itu diperintahkannya untuk thahārah pada saat masuk waktu shalat.

Adapun wudhū’ maka disana terdapat dalil yang lain yang MENGECUALIKAN bahwasanya wudhū’ diperbolehkan sebelum masuk waktu shalat. Sedangkan tayammum, maka dia tetap pada kaidah asal yaitu dilakukan pada saat masuk waktu shalat.

Oleh karena itu disyaratkan pada tayammum adalah masuknya waktu shalat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا أينما أدركتني الصلاة تيممت وصليت

“Dan dijadikan bumi ini sebagai masjid yang dia adalah suci, dimana saja shalat mendapati saya maka saya bertayammum dan saya shalat.” (HR Ahmad)

⇒ Dan disini kita melihat bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertayammum pada saat shalat mendapati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kemudian kata para ulama bahwasanya tayammum juga dia adalah thahārah yang disebabkan oleh sesuatu yang darurat dan darurat itu dimulai pada saat waktu shalat sudah masuk.

• SYARAT ⑶

((وطلب الماء))

((Mencari air))

⇒ Maksudnya pada saat tidak mendapatkan air dan setelah berusaha sungguh-sungguh untuk mencari air dan tidak mendapatkannya maka diperbolehkan untuk bertayammum.

• SYARAT ⑷

((و تعذر استعماله إعوازه بعد الطلب))

((Tidak bisa menggunakan air disebabkan kebutuhan akan air setelah mencari air tersebut))

Apabila seseorang mencari dan mendapatkan air tidak melebihi dari kebutuhan yang darurat seperti untuk minum, untuk menyelamatkan hidupnya dan lain sebagainya, maka diperbolehkan dia untuk tidak menggunakan air yang dia butuh padanya, untuk beralih kepada tayammum.

• SYARAT ⑸

((والتراب الطاهر الذي له غبار فإن خالطه جص أو رمل لم يجز))

((Tanah yang suci yang memiliki debu, apabila bercampur dengan semen/plester atau bercampur dengan kerikil maka tidak sah))

Ini adalah pendapat madzhab Syāfi’iyyah bahwasanya disyaratkan tanah suci yang memiliki debu.

Ada beberapa pembahasan yang akan kita tambahkan:

● PEMBAHASAN PERTAMA | HUKUM TAYAMMUM MENGGUNAKAN TANAH

Ini diperbolehkan secara umum oleh para ulama. Dalilnya adalah:

⑴ Firman Allāh Ta’āla:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Dan bertayammumlah dengan sha’īd yang baik.” (QS An-Nisā: 43)

⇒ Makna ash-sha’īd disini lebih utama untuk ditafsirkan/diterjemahkan sebagai ath-thurāb (tanah).

⑵ Hadits Hudzaifah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فُضِّلْنا عَلَى النَّاسِ بِثَلاثٍ : جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلائِكَةِ ، وَ جُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا ، وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

“Kami diutamakan atas manusia (umat yang lain) dengan 3 hal; dijadikan shaf-shaf kami seperti shaf malaikat, dijadikan untuk kami bahwa semua permukaan bumi adalah masjid, dijadikan untuk kami tanahnya suci dan mensucikan apabila tidak mendapatkan air.” (HR Muslim)

● PEMBAHASAN KEDUA | HUKUM TAYAMMUM DENGAN MENGGUNAKAN SELAIN TANAH

Para ulama berbeda pendapat pada masalah tayammum dengan selain tanah.

✓PENDAPAT PERTAMA

Bahwasanya tayammum dengan selain tanah tidak boleh dan tidak sah.

Dan ini adalah madzhab Syāfi’iyyah dan Hanābilah dan salah satu riwayat dari Mālikiyyah.

Dalilnya adalah firman Allāh Ta’āla:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

(QS An-Nisā: 43)

⇒ Maknanya adalah bahwasanya ash-sha’īd adalah tanah yang memiliki debu dan dikuatkan dengan hadits Hudzaifah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bahwasanya disebutkan dalam hadits tersebut:

وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا

“Dan dijadikan tanahnya bagi kami adalah suci dan mensucikan.”

⇒ Disebutkan dalam hadits tersebut makna kalimat “ath-thurāb” secara teks redaksinya. Oleh karena itu yang dimaksudkan ash-sha’īd adalah ath-thurāb.

✓PENDAPAT KEDUA

Diperbolehkan untuk bertayammum dengan seluruh bagian (unsur) bumi yang muncul ke permukaan seperti tanah, kerikil, keramik, batu, batu yang licin dan sebagainya.

Ini adalah madzhab Hanafiyyah, Mālikiyyah dan pendapat yang dipilih oleh Imām Ath-Thabariy, Imām Ibn Hazm, Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Syaikh Bin Bāz, Syaikh Al-Albaniy dan Syaikh ‘Utsaimin.

Dalilnya adalah:

⑴ Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Dan bertayammumlah dengan sha’īd yang baik.” (QS An-Nisā: 43)

⇒ Makna ash-sha’īd disini diambil dari kalimat ash-shu’ūd dan maknanya adalah al-‘uluw (tinggi/muncul).

Jadi seluruh unsur bumi yang muncul dipermukaan bumi maka bisa dikatakan sebagai ash-sha’īd yang diperbolehkan untuk tayammum.

⑵ Hadits dari Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وجعلت لي الأرض مسجدا و طهورا

“Dan dijadikan bagi saya seluruh permukaan bumi adalah sebagai masjid dan sebagai sesuatu yang suci dan mensucikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa setiap tempat yang diperbolehkan diatasnya shalat maka dia diperbolehkan untuk tayammum dengannya.

⑶ Hadits Abū Juhaym Al-Haritsi Ibn Shammah Al-Anshāriy.

أَبِي جُهَيْمِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ الصِّمَّةِ الْأَنْصَارِيِّ فَقَالَ أَبُو الْجُهَيْمِ الْأَنْصَارِيُّ أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

Abu Juhaym Ibn Hārits Al-Anshāriy berkata: Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menghadap ke salah satu sisi dari sumur Jamal kemudian seorang laki-laki bertemu Beliau dan mengucapkan salam kepada Beliau namun Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam tidak menjawab salam sampai beliau menghadap kepada tembok kemudian mengusap wajahnya dan kedua tangannya dengan tembok tersebut kemudian Beliau baru menjawab salam orang tadi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertayammum dengan selain tanah yaitu dengan tembok dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.

■ PEMBAHASAN PERTAMA | Tentang syarat-syarat diperbolehkannya untuk seseorang tayammum

Dan sudah dijelaskan pada halaqah sebelumnya.

■ PEMBAHASAN KEDUA | Tentang perkara yang wajib di dalam tayammum (Furūdhut Tayammum)

قال المصنف:

((وفرائضه أربعة أشياء))

((Dan kewajiban-kewajiban di dalam tayammum ada 4 macam))

● KEWAJIBAN KE ⑴

((النية))

((Niat))

Tidak sah tayammum tanpa niat.

⇒ Ini adalah kesepakatan para Imam Madzhab dan dikatakan bahwa ini adalah ijmā’ berdasarkan hadits.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alayh, hadits Bukhari Muslim)

Dan tayammum adalah termasuk jenis ibadah yang membutuhkan untuk niat sehingga niat adalah salah satu kewajiban didalam tayammum.

Niat seorang yang bertayammum adalah agar diperbolehkan untuk melaksanakan shalat. Dan tayammum adalah badal (pengganti) dari wudhū’.

● KEWAJIBAN KE ⑵

((ومسح الوجه))

((Dan mengusap wajah))

Dengan debu dan tanah.

⇒ Ini adalah ijmā’, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Qudāmah dan Ibnu Rajab.

Mengusap wajah sebagaimana yang dilakukan pada saat berwudhū’ yaitu pada area wajah, dan batas-batasannya sudah pernah kita jelaskan sebelumnya.

● KEWAJIBAN KE ⑶

((و مسح اليدين مع المرفقين))

((Dan mengusap kedua tangan sampai kedua siku))

Pada pembahasan ini ada 3 point;

• POINT PERTAMA | MENGUSAP KEDUA TANGAN

Dikatakan ini adalah ijmā’ oleh Ibnu Qudāmah dan Ibnu Rajab.

• POINT KEDUA | APAKAH MENGUSAP TANGAN HARUS SAMPAI SIKU ATAUKAH CUKUP PADA PERGELANGAN TANGAN SAJA?

Pendapat Syāfi’īyyah dan Hanafiyyah bahwasanya adalah wajib sampai kedua siku.

Berdasarkan:

• ⑴ Perbuatan para shāhabat

• ⑵ Sisi pendalilan bahwasanya tayammum adalah pengganti wudhū’, manakala seseorang berwudhū’ sampai siku maka tayammum sebagai penggantinya pun sampai siku.

Dan pendapat yang lain adalah pendapat Hanabilah dan Malikiyyah bahwasanya mengusap tangan pada saat tayammum hanya sampai pada pergelangan tangan saja, berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yāsir radhiyallāhu ‘anhu bahwasanya disana tidak disebutkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengajarkan sampai siku (yaitu pada saat mengajarkan tata cara tayammum).

• POINT KETIGA | TATA CARA TAYAMMUM

• ⑴ Seseorang menepukkan telapak tangan ke tanah atau yang lainnya 1 kali saja.

• ⑵ Mengusap wajah.

• ⑶ Mengusap kedua tangan sampai pergelangan tangan atau sampai kedua siku.

● KEWAJIBAN KE ⑷

((والترتيب))

((Tertib))

Wajib melakukan secara berurutan.

■ PEMBAHASAN KETIGA | Tentang sunnah-sunnah di dalam tayammum.

قال المصنف:

((وسننه ثلاثة أشياء))

((Dan sunnah-sunnah di dalam tayammum ada 3 macam))

● SUNNAH PERTAMA

((التسمية))

((Membaca basmalah-sebelum bertayammum))

Ini adalah pendapat Syāfi’īyyah dan jumhur (mayoritas) para ulama berdasarkan dalil-dalil yang sudah disebutkan sebelumnya.

● SUNNAH KEDUA

((وتقديم اليمنى على اليسرى))

((Mendahulukan bagian kanan atas bagian yang kiri))

Berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau mengatakan:

كانَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ في تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفي شَأْنِهِ كُلِّهِ (رواه البخاري)

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyukai untuk mendahulukan bagian kanan pada saat memakai sandal, pada saat bersisir dan pada saat berthaharah (bersuci) dan pada seluruh keadaan Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.” (HR Bukhari)

● SUNNAH KETIGA

((والمولات))

((Bersambung/sambung menyambung tidak berhenti))

Berdasarkan qiyas terhadap wudhū’.

Tambahan dari sunnah-sunnah yang disebutkan dalam matan di atas,

● SUNNAH KEEMPAT

((نفخ الأيدي بعد ضربهما))

((Meniup kedua tangan setelah memukulkan ke tanah))

Bertujuan untuk mempersedikit tanah-tanah yang masih menempel di tangan.

■ PEMBAHASAN KEEMPAT | Tentang pembatal-pembatal tayammum.

قال المصنف:

((والذين يبطل التيمم ثلاثة أشياء))

((Dan perkara-perkara yang membatalkan tayammum ada 3 macam))

● PEMBATAL ⑴

((ما يبطل الوضوء))

((Semua perkara yang membatalkan wudhū’))

Maka hal itu membatalkan tayammum, misalnya buang angin dan lain sebagainya.

● PEMBATAL ⑵

((ورؤية الماء في غير وقت الصلاة))

((Dan melihat/mendapatkan air sebelum melaksanakan shalat))

Hal itu membatalkan tayammum karena tayammum adalah pengganti dari wudlu disebabkan tidak ada air

Dalam masalah melihat air ini ada beberapa keadaan:

• ⑴ Apabila dia melihat/mendapatkan air SEBELUM melaksanakan shalat maka tayammum seseorang itu batal dan tidak sah shalat dengan tayammumnya.

Dan ini dikatakan oleh para ulama adalah ijmā’.

• ⑵ Apabila dia melihat air pada saat SEDANG shalat maka wajib membatalkan shalat kemudian berwudhū’ dengan air dan mengulangi shalatnya.

Ini adalah pendapat Hanafiyyah dan Hanabilah dan dipilih oleh Imam Asy-Syāfi’ī dan juga oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

• ⑶ Apabila melihat air SETELAH melaksanakan shalat dan MASIH di dalam waktu shalat tersebut, maka tidak diulangi shalatnya.

Ini adalah kesepakatan para Imam madzhab.

• ⑷ Apabila dia melihat/mendapatkan air SETELAH selesai shalat dan telah KELUAR waktu maka dia tidak mengulangi shalatnya.

Dan ini berdasarkan ijmā’ para ulama.

● PEMBATAL ⑶

((والردة))

((Murtad))

Keluar dari agama islam, sebagaimana murtad membatalkan thahārah lainnya, maka murtad pun membatalkan tayammum.

■ PEMBAHASAN KELIMA | Tentang orang-orang yang diperban atau digips atau yang semisalnya.

((وصاحب الجبائر يمسح عليها ويتيمم))

((Dan bagi orang-orang yang mengenakan jabāir, mereka mengusap diatasnya dan bertayammum))

Al-Jabāir (الجبائر) adalah jama’ dari al-jabīrah (الجبيرة), dia adalah kayu atau benda yang keras yang digunakan untuk meluruskan dan mengencangkan bagian yang patah agar tersambung kembali (seperti gips untuk patah tulang, perban dan semisalnya) maka cukup diusap diatasnya dan bertayammum.

Berdasarkan hadits Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu tentang seorang shāhabat yang terluka kepalanya dan diperban kemudian junub dan bertanya kepada para shāhabat. Maka diperintahkan untuk mandi, maka airpun masuk ke dalam lukanya dan kemudian meninggal dunia.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bersabda:

إنما كان يكفيه أن يتيمم ويعصر أو يعصب شك موسى على جرحه خرقة ثم يمسح عليها ويغسل سائر جسده (رواه أبو داود)

“Cukup baginya untuk bertayammum dan membalut kain di atas lukanya dan mengusap di atas kain tersebut.” (HR Abū Dāwud)

Disini perawi Mūsa ragu kalimat yang dipakai apakah ya’shira (يعصر) atau ya’shiba (يعصب)

Mushannif pun melanjutkan:

((و يصلي ولا إعادة عليه إن كان وضعها على طهر))

((Apabila demikian, maka dia kemudian melaksanakan shalat dan tidak perlu mengulangi shalat tersebut apabila memakai perban didalam keadaan demikian))

■ PEMBAHASAN KEENAM | Tentang tayammum di dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.

قال المصنف:

((ويتيمم لكل فريضة و يصلي بتيمم واحد ماشاء من النوافل))

((Dan bertayammum untuk setiap akan melaksanakan shalat fardhu dan untuk shalat sunnah maka dapat dilakukan sekehendaknya dengan sekali tayammum saja))

Ini pendapat madzhab Syāfi’ī, bahwasanya:

• ⑴ 1 tayammum hanya untuk 1 shalat fardhu.

• ⑵ 1 tayammum boleh untuk shalat sunnah dalam beberapa shalat sunnah.

Demikian yang bisa disampaikan.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar