Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Shalāt Jama’ Bagi Musafir

(1) Jama’ adalah rukhsah atau keringanan yang ada dalam syariat Islam, manakala adanya udzur atau kesusahan.

(2) Jama’ bisa dilakukan antara shalat dhuhur dan ashar, kemudian antara shalat maghrib dan isya.

Dan tidak boleh menjama’ sholat subuh, ataupun antara shalat ashar dan maghrib atau seluruh shalat dalam sekali waktu.

(3) Tidak ada kaitannya antara jama’ dan qashar, namun keduanya adalah keringanan bagi seorang musafir.

Adapun qashar terkait dengan safar, sedangkan jama’ terkait dengan masyaqqah atau kesulitan atau udzur.

Jadi mungkin saja seorang yang tidak safar, apabila ada udzur untuk menjama’ sho

Alat, namun tidak di qashar.

(4) Jama’ ada dua macam:

– Jama’ taqdim, yaitu menggabungkan shalat diawal waktu, dan

– Jama’ ta’khir, yaitu menggabungkan dua shalat diakhir waktu.

(5) Hukum jama’ adalah boleh, dan melaksanakan rukhsah adalah mustahab atau sunnah.

(6) Tidak boleh seseorang menjama’ tanpa alasan yang dibenarkan syariat atau tanpa udzur. Hal itu termasuk dosa besar.

قال المؤلف رحمه الله

((ويجوز للمسافر أن يجمع بين الظهر والعصر في وقت أيهما شاء))

Dan diperbolehkan bagi seorang musafir untuk menjama’ (menggabungkan dalam satu waktu) antara dhuhur dan ashar di waktu mana saja yang diinginkan.

((وبين المغرب والعشاء في وقت أيهما شاء))،

Dan antara shalat maghrib dan Isya diwaktu mana saja yang diinginkan

Yaitu baik jama’ taqdim (diwaktu awal) atau jama’ ta’khir (diwaktu yang kedua).

Dan tidak boleh menjama’ dengan subuh atau menjama’ shalat ashar dengan maghrib.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

 خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ ، فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلَاةَ ، فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ، رواه مسلم

_Pada tahun terjadinya perang Tabuk, kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam._

_Pada saat itu beliau menjama’ shalat._

_Beliau menjama’ dhuhur dan ashar sekaligus, dan antara maghrib dan isya sekaligus._

(HR. Muslim)

Beberapa permasalahan dalam jama’.

*_Masalah yang pertama: Urutan pelaksanaan shalat._*

Apakah disyaratkan tertib (sesuai urutan)?

Dijelaskan dalam Kifayatul Akhyar, disyaratkan tertib dalam jama’ taqdim, namun dalam jama’ ta’khir tidak disyaratkan.

Yang rajih adalah: disyaratkan secara mutlak.

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

” يشترط الترتيب بأن يبدأ بالأولى ثم بالثانية ؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال : ( صلوا كما رأيتموني أصلي ) ، ولأن الشرع جاء بترتيب الأوقات في الصلوات

Berkata Syaikh Utsaimin:

Dipersyaratkan untuk tertib (dilakukan secara berurutan, yaitu dengan mengerjakan yang pertama kemudian yang kedua), karena Nabi shallallhu ‘alaihu wassalam bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Dan syariat telah menjelaskan urutan waktu dalam shalat.

Dalam shalat jama’, tidak boleh mendahulukan shalat yang kedua dari shalat yang pertama.

Misal, mendahulukan shalat ashar kemudian shalat dhuhur, atau shalat isya sebelum shalat maghrib, maka ini tidak sah, karena tidak sesuai dengan urutannya.

Apabila seorang yang berniat jama’ antara dhuhur dan Ashar, kemudian mendapati Imam shalat Ashar.

Maka Makmum mengikuti imam dan meniatkan sholat dhuhur

Apabila Seorang yang berniat jama’ antara maghrib dan Isya, kemudian mendapati Imam shalat isya, maka hendaknya dia shalat bersama imam dengan berniat shalat maghrib.

Apabila imam sudah shalat satu rakaat, maka dia mengikuti tiga rakaat berikutnya, dan hal ini sudah mencukupi shalat maghrib.

Apabila makmum mengikuti sejak awal rakaat, maka pada saat imam berdiri unutk shalat rakaat yang ke empat, maka makmum menunggu sampai imam tasyahud kemudian salam bersama imam.

Perbedaan niat imam dan makmum, tidak mengapa.

Keteranagn di atas disarikan dari jawaban Syaikh bin Baz tentang masalah ini.

*_Permasalahan kedua: syarat niat dalam jama’_*

Dalam madzhab Syafi’i, disyaratkan untuk berniat sebelum shalat yang pertama ataupun dalam shalat yang pertama.

Yang rajih adalah boleh dijama’ walaupun tidak berniat sebelumnya, selama sebabnya masih ada.

Ini adalah madzhab Hanafiyyah, dan perkataan sebagian ulama dari kalangan Malikyyah, dan sekelompok ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah.

Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

*_Permasalahan ketiga: syarat muwalah atau dilakukan secara berkesinambungan._

Ini adalah syarat sebagaimana yang dikemukakan dalam madzhab Syafi’i’, Maliki dan Hambali.

Apabila terpisah dalam waktu yang sedikit maka tidak mengapa.

Apabila pemisahnya waktu yang panjang, maka tidak dilakukan shalat jama’, melainkan shalat sendir-sendiri.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar