Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Shalāt Berjama’ah

قال المصنف :

Berkata penulis rahimahullāh

((وصلاة الجماعة سنة مؤكدة))

“Dan shalāt berjamaah hukumnya adalah sunnah mu’akkadah”

⇛Disini pendapat dari sebagian  Syāfi’iyah tentang shalāt berjama’ah bahwasanya hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Dan kita lihat bahwasanya para ulamā telah ijma’ bahwa shalāt berjama’ah hukumnya adalah disyariatkan dan memiliki keutamaan yang besar.

Namun para ulamā berselisih pendapat mengenai hukumnya.

⇛Imām An-Nawawi menyembutkan dalam Kitāb Al Majmu’ bahwa para ulamā mahzhab Syāfi’iyah sendiri mereka berselisih pendapat tentang hukum shalāt berjama’ah bagi bagi seorang laki-laki.

· Pendapat pertama | Fardhu Kifayah

(Hukumnya wajib, namun apabila sebagian telah melaksanakan maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Dalīl nya adalah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

سنن النسائي (2/ 106)

»ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا قد استحوذ عليهم الشيطان، فعليكم بالجماعة؛ فإنما يأكل الذئب القاصية

“Apabila dalam sebuah kampung atau pedalaman ada tiga orang namun tidak menegakkan shalāt berjama’ah maka mereka telah dikuasai syaithān, Maka wajib bagi kalian untuk berjama’ah, karena sesungguhnya  serigala hanyalah memangsa kambing yang sendirian.”

(Hadīts riwayat Imām Nasāi’, Abū Dāwūd dan Hakim)

⇛Dan kata beliau (Imām Nawawi) yang shahīh (Rājih) bahwasanya yang shahīh didalam mahzhab Syāfi’ī dan menjadi rujukan dalam Madzhab Syāfi’ī, adalah pendapat bahwa shalāt berjama’ah hukumnya fardhu kifayah.

·Pendapat Kedua | Sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan)

Dan ini juga disebutkan oleh sebagian para ulamā Syāfi’iyah.

Berdasarkan dalīl hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu,

المجموع شرح المهذب (4/ 182)

لما روى أبو هريرة رضي الله عنه إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : صلاة الجماعة افضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة

“Bahwasanya shalāt berjama’ah utama dua puluh lima derajat daripada shalāt kalian sendirian”

⇛Mereka mengatakan tatkala dibandingkan dengan sesuatu yang Sunnah maka hukum shalāt berjama’ah adalah sunnah.

⇛Ini pendapat sebagian Syāfi’iyah dan juga diantaranya pendapat penulis bahwa sunnah

· Pendapat ketiga | Fardhu ‘ain

(Wajib bagi setiap muslim laki-laki)

Ini juga adalah pendapat kalangan ulamā Syāfi’iyah dan Hanābilah dan sebagian Hanafiyyah.

Dan juga dari para ulamā dari kalangan salaf dan pendapat ini dipilih oleh Imām Bukhāri, Imām Ibnu Taimiyyah, begitu juga Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

Dan ini adalah pendapat yang  Wallāhu a’lam lebih kuat dari sisi pendalīlannya dan juga lebih hati-hati.

Diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

 وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

“Dan apabila kamu (Muhammad) berada ditengah-tengah mereka, maka tegakkan lah bersama mereka shalāt (berjamaah), dan hendaknya sebagian kelompok yang shalāt bersama engkau..”

(QS An Nisā’ : 102)

Ayat diatas bercerita tentang tata cara shalāt berjama’ah dalam kondisi perang atau kondisi takut.

⇛Jika dalam kondisi perang saja, diwajibkan untuk shalāt, maka tentunya dalam kondisi aman dan tenang maka lebih utama untuk diwajibkan hukumnya.

Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata,

عن أبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه، قال:  )) أتَى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ رجلٌ أعمى، فقال: يا رسولَ الله، إنَّه ليس لي قائدٌ يقودني إلى المسجِدِ، فسألَ رسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ أن يرخِّصَ له، فيُصلِّيَ في بيتِه، فرخَّص له، فلمَّا ولَّى دعاه، فقال: هلْ تَسمعُ النِّداءَ بالصَّلاةِ؟ قال: نعَم، قال: فأجِبْ (( رواه مسلم

“Ada seorang yang buta, yang datang kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian dia berkata, ” Wahai Rasūlullāh, saya tidak punya seorang yang bisa menuntun saya masjid”, maka diapun meminta kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar memberikan rukhsah (keringanan) kepadanya sehingga dia bisa shalāt dirumahnya. Kemudian Nabipun memberikan keringanan kepadanya (orang buta tersebut) tatkal orang tersebut beranjak pergi, maka kemudian Nabi pun memanggilnya dan bersabda ” Apakah kamu mendengar adzan untuk shalāt ?” Orang buta itu pun menjawab : “Ya”,  maka Rasūlullāh pun bersabda: ” Maka jawablah atau datangilah (itu hukumnya wajib)”

(Hadīts riwayat Imām Muslim)

⇛Dalīl diatas menunjukkan bahwa hukum shalāt berjama’ah dimasjid adalah wajib, bahkan bagi orang yang buta yang dia mendengar adzan.

Maka tentunya bagi selainnya orang buta tersebut (orang yang sehat) maka hukumnya lebih wajib.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وَعَلَى المَأْمُوْمِ أَنْ يَنُوْيَ الجَمَاعَة دُوْنَ الإِمَام))

“Dan wajib bagi ma’mum untuk berniat shalāt berjama’ah, berbeda dengan imam (Imam tidak wajib).”

Disyaratkan bagi seorang makmum, sebelum shalāt untuk melaksanakan shalāt berjama’ah dan mengikuti imam, untuk meniatkan bahwasanya dia ingin shalāt berjama’ah atau ingin mengikuti imam.

Dan tidak perlu kemudian diucapkan (dilafadzkan) cukup di dalam hati tatkala ada niat untuk shalāt berjama’ah, maka itu sudah cukup.

Adapun bagi imam maka tidak disyaratkan niat untuk shalāt berjama’ah, namun apabila mengetahui lebih utama apabila seorang imam berniat shalāt berjama’ah agar mendapatkan keutamaannya.

Adapun untuk shalāt jum’at dan shalāt Eid’, maka disyaratkan bagi seorang imam untuk niat shalāt berjama’ah.

Contoh misalnya, tatkala seorang sedang shalāt kemudian tiba-tiba dibelakangnya ada ma’mum yang shalāt mengikuti orang tersebut, sementara orang tersebut tidak menyadarinya bahwasanya ada yang mengikuti shalāt nya, maka shalāt mereka adalah sah karena ma’mum disyaratkan untuk niat shalāt berjama’ah sementara imam tidak disyaratkan.

Artinya tatkala Imām tidak mengetahui dia menjadi Imām atau tidak ada niat untuk menjadi Imām akan tetapi kemudian posisi dia ternyata sebagai Imām maka ini hukumnya sah.

*Ada beberapa poin penting*

 Hukum niat ma’mum yang berbeda dengan niat Imām 

Apa hukum niat ma’mum yang berbeda niat dengan Imām ?

⇛Masalah ini dijawab secara ringkas oleh Syaikh Bin Bāz.

Kata beliau :

الصواب أنها صحيحة؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- صلى في الخوف ببعض المسلمين ركعتين صلاة الخوف، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، فصارت الأولى له فريضة، والثانية له نافلة وهم لهم فريضة، وكان معاذ -رضي الله عنه- يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في العشاء صلاة الفريضة، ثم يرجع ويصلي بقومه صلاة العشاء نافلةً له وهي لهم فرض، فدل ذلك على أنه لا حرج في اختلاف النية، وهكذا لو أن إنسان جاء إلى المسجد وصلى العصر, وهو لم يصلي الظهر, فإنه يصلي معهم العصر بنية الظهر ولا حرج عليه في أصح قولي العلماء, ثم يصلي العصر بعد ذلك. جزاكم الله خيراً

” Yang benar yang shahīh dalam masalah ini  bahwasanya shalāt tersebut (berbeda niat antara Imām dan ma’mum) adalah sah.”

Beliau berdalīl dengan shalāt khauf dan kisah shalātnya Mu’ādz bin Jabbal, manakala beliau (Mu’ādz bin Jabbal) shalāt Isya’fardhu bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau pulang untuk mengimami kaumnya dan posisi shalāt beliau adalah posisi shalāt sunnah sementara kaumnya posisinya shalāt fardhu.

*Maka berbeda niat ini diperbolehkan*

Ada beberapa pembahasan seputar niat Imām dan niat ma’mum, yang secara ringkasnya sebagai berikut:

· Yang Pertama | Terkait dengan jenis shalāt

Secara ringkas ada beberapa keadaan:

1. Ma’mum shalāt wajib dibelakang Imām shalāt wajib maka hukumnya boleh.

2. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt sunnah maka hukumnya boleh.

3. Ma’mum  shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt wajib, maka hukumnya boleh.

4. Ma’mum shalāt wajib dan Imām shalāt sunnah, disini para ulama berbeda pendapat apakah sah ataukah tidak sah?

⇛Yang shahīh dan rājih sebagaiamana yang disampaikan Syaikh Utsaimin, maka boleh tidak mengapa dan sah shalātnya.

Dalīlnya berdasarkan kisah Mu’ādz bin Jabbal yang shalāt wajib bersama Rasūlullāh,kemudian beliau pulang lalu shalāt sunnah dan beliau mengimami kaumnya.

· Yang Kedua | Terkait dengan bilangan shalāt

Ringkasan keadaannya sebagai berikut :

⑴ Apabila ma’mum shalāt dengan Imām yang bilangan raka’atnya lebih sedikit.

⇛ Misalnya : Seorang ma’mum shalāt ashar (karena qadha’ atau tertidur atau lupa atau sebab lainnya) sedangkan Imām shalāt maghrib, maka ma’mum harus 4 (empat) raka’at , Imām 3 (tiga) raka’at (Imām lebih sedikit), maka tatkala Imām selesai salam, maka ma’mum harus menyempurnakan shalāt menjadi 4 (empat) raka’at setelah Imām selesai.

⑵ Apabila ma’mum shalāt dengan raka’at yang sama dengan Imām, maka (jelas) ma’mum menyempurnakan shalātnya.

⇛ Misalnya : Ma’mum shalāt dhuhur dan Imām shalāt ashar (sama-sama 4 raka’at)

⑶ Apabila ma’mum shalāt dengan bilangan raka’at yang lebih sedikit dari Imām.

⇛Misalnya : Ma’mum shalāt maghrib 3 raka’at dan Imām shalāt isya’ 4 raka’at .

*Dan disebutkan oleh Syaikh Utsaimin beberapa keadaan:*

√ Apabila Imām berada di raka’at ke-3  (tiga) dan ma’mum mulai shalāt raka’at ke-3 (tiga) dan ke-4 (empat) bersama Imām, artinya ma’mum masbuk pada raka’at ke-3 (tiga), maka tatkala Imām salam, dia (ma’mum) tinggal menyempurnakan raka’at yang kurang (masih kurang 1 (satu) raka’at lagi).

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at ke-2 (dua), maka ma’mum ikut salam bersama Imām, tatkala Imām salam maka ma’mum pun salam (karena dia sudah selesai yaitu Maghrib 3 (tiga) raka’at dan Imām sudah selesai 4 (empat) raka’at dan selesai bersama-sama.

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at pertama, maka pada raka’at yang ke-3 (tiga), apa yang dilakukan ?

Disebutkan ma’mum duduk tasyahud dan menunggu Imām yang bangkit ke raka’at ke-4 (empat) dan tatkala Imām sudah sampai di raka’at ke-4 dan kemudian tasyahud maka ma’mum pun salam bersama Imām.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa lebih baik ma’mum ini menunggu dalam keadaan sujud, artinya dia sujud sampai Imām sujud, kemudian  mengikuti gerakan Imām sampai salamnya (salam bersama Imām)

Menurut Syaikh Utsaimin ini adalah pendapat yang rājih dalam masalah ini, sebagaimana yang beliau nukilkan dari pendapat  Syaikhul Islām Ibnu Taymiyyah rahimahullāh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ويجوز أن يأتم الحر بالعبد))

“Dan boleh bagi seorang yang merdeka mengikuti (menjadi makmum) dari seorang hamba sahaya (budak)”

Hal ini berdasarkan hadīts tentang ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri 1/140:

وَكَانَتْ عَائِشَةُ: «يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ المُصْحَفِ»

“Dan ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau diimami oleh hamba sahayanya (Dzakwan) dengan membaca mushaf”

*⇛Dzakwan adalah budak ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā*

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((والبالغ بالمراهق))

“Dan begitu pula boleh bagi seorang yang bāligh menjadi makmum bagi anak kecil”

Disini adalah madzhab dari Syāfi’iyah dan kita lihat bagaimana hukum anak kecil yang menjadi imam.

*Pendapat pertama*

⇛ Bahwasanya tidak sah seorang Imām yang belum bāligh didalam shalāt yang wajib (Tidak sah hukumnya seorang anak kecil menjadi Imām dalam shalāt yang wajib)

Namun dia diperbolehkan dalam shalāt sunnah dengan syarat telah mencapai umur mumayyaz.

⇛ Umur Mumayyaz adalah umur seorang anak kecil yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat (berbahaya)

⇛Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulamā dari kalangan :

√ Hanafiyyah

√ Mālikiyyah

√ Hanābilah

Adapun hanafiyah, mereka tidak membolehkan secara mutlak baik dalam shalāt wajib maupun shalāt sunnah.

⇛Diantara alasannya adalah bahwasanya posisi Imām adalah posisi kesempurnaan, dan anak kecil yang belum bāligh maka dia tidaklah sempurna.

*Pendapat Kedua:*

⇛Bolehnya seorang anak kecil yang mumayyaz (yang sudah tamyiz)  menjadi Imām bagi orang yang bāligh baik fardhu maupun sunnnah, namun yang lebih utama adalah seorang yang bāligh yang menjadi Imām.

⇛Ini adalah pendapat Syāfi’iyah karena mereka tidak mensyaratkan syarat bāligh untuk seorang Imām.

Dalīl mereka diantaranya adalah hadīts Amr bin salamah,” bahwasanya beliau mengimami kaumnya dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau masih berumur enam atau tujuh tahun”.

Dan pendapat ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat).

Syaikh bin Bāz, beliau  menjawab pertanyaan dalam masalah ini:

لا بأس بإمامة الصبي إذا كان قد أكمل سبع سنين أو أكثر وهو يحسن الصلاة؛ لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ولكن الأفضل أن يختار الأقرأ من الجماعة

“Tidak mengapa kata beliau, Imām  nya seorang anak kecil apabila dia telah menyempurnakan umurnya tujuh tahun atau lebih dan dia bagus dalam shalātnya, kata beliau bahwasanya hal itu ada dalīlnya dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan tentang bolehnya hal tersebut, akan tetapi yang paling  afdhal adalah memilih yang paling baik bacaannya dari jama’ah atau dari kalangan orang-orang yang besar atau bāligh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((ولا تصح قدوة رجل بامرأة))

“Dan tidak sah shalāt laki-laki yang mengikuti wanita”

* Bagaimana hukum Imamah wanita atau hukum wanita menjadi Imām di dalam shalāt  *

Ada 2 (dua) keadaan :

⑴ Apabila wanita tersebut menjadi Imām bagi para wanita yang lainnya,

maka hal ini *boleh dan sah*.

Berdasarkan dalīl-dalīl yang ada dan juga berdasarkan atsar bahwasanya ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau menjadi Imām dari kalangan shahābiat yang lainnya.

⑵ Wanita menjadi Imām bagi jama’ah laki-laki atau jama’ah campuran yang disana ada laki-lakinya atau jama’ah laki-laki yang masih kanak-kanak. Maka ini *hukumnya tidak sah*.

Menurut pendapat seluruh ulamā baik dari kalangan terdahulu maupun yang terkini, atau yang sekarang ini, baik ulama besar maupun yang kecil.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ولا قارئ بأمي))

“Dan tidak sah seorang qāri’ yang mengikuti shalāt seorang yang ummi”

√ Qāri’ disini (maksudnya) adalah orang yang baik dalam membaca surat Al Fātihah, karena Al Fātihah adalah termasuk rukun didalam shalāt.

√ Ummi disini (maksudnya) adalah orang yang jelek bacaan Al Fātihahnya, baik dalam makhrajnya, panjang pendeknya, tasydidnya dll, yang dapat merubah makna kalimat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Hendaklah yang menjadi Imām bagi sekelompok kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Al Qurānnya”

(Hadīts Riwayat Imām Muslim 1/465)

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وأي موضع صلى في المسجد بصلاة الإمام فيه وهو عالم بصلاته أجزئه ما لم يتقدم عليه))

“Ditempat mana saja seseorang shalāt di masjid dengan mengikuti shalāt Imām didalam masjid tersebut dan dia mengetahui shalāt Imām, maka shalātnya sah selama tidak berada didepan Imām”

Kita masuk pada pembahasan yang lain yaitu tentang posisi makmum dan Imām

Ada dua gambaran yang disebutkan oleh  penulis,

⑴ Bahwasanya Imām dan ma’mum  berada didalam masjid.

Atau kita dapat disimpulkan dengan judul masalah bagaimana “Hukum shalāt ma’mum sendirian dibelakang shaf (tidak menyambung shaf)” dalam arti masih didalam masjid akan tetapi ma’mum tersebut tidak bersama ma’mum yang lainnya di dalam shaf atau ma’mum tersebut berada berjauhan dari Imām namun masih didalam masjid.

⇛Pendapat Hanābilah dalam masalah ini hukum shalātnya tidak sah.

Beliau berdalil dengan hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad

عن علي بن شيبان – رضي الله عنه – أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلاً يصلي خلف الصف ، فلما انصرف قال له النبي صلي الله عليه وسلم : ( استقبل صلاتك,فإنه لا صلاة لمنفرد خلف الصف) ، وهو حديث حسن

“Dari Ali bin Syaiban Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam  melihat seseorang yang shalāt dibelakang shaf, tatkala orang itu sudah selesai maka Nabi pun berkata kepadanya “Ulangi shalātmu, karena tidak ada shalāt bagi seorang munfarid (shalāt sendirian) dibelakang shaf”

⇛Maksudnya tidak ada shalāt disini adalah tidak sah shalāt seseorang yang munfarid dibelakang shaf shalāt orang-orang.

⇛Disana ada pendapat Jumhur mayoritas ulamā bahwasanya shalātnya sah namun hal ini makruh.

Ini adalah pendapat Hanafiyyah Mālikiyyah dan Syāfi’iyah

Sebagaimana disebutkan penulis dalam masalah ini, maka sah shalāt seorang ma’mum dimana pun dia berada selama dia shalāt didalam masjid dengan 2 syarat.

Dua syarat itu adalah :

· Syarat Pertama | Ma’mun tersebut mengetahui shalāt Imām

Maksudnya mengetahui shalāt Imām adalah :

√ Apakah dengan melihat Imām secara langsung

√ Apakah melihat shaf ma’mum lainnya atau sebagian shaf ma’mum lainnya

√ Apakah mendengar suara, walaupun posisi orang tersebut tertutup dengan penutup atau ada pembatas baik berada diatas atau dibawah, dan walaupun tidak bersambung shafnya, selama berada didalam masjid dan mengetahui pergerakan-pergerakan (perpindahan shalāt Imām) maka sah shalātnya.

⇛Namun sebagian berpendapat bahwasanya orang ini walaupun sah shalātnya tidak mendapatkan pahala shalāt berjama’ah.

· Syarat yang kedua | Tidak berada didepan Imam.

Hukum shalāt ma’mum yang berada didepan Imām menurut mayoritas ulamā dari kalangan Hanafiyyah Syāfi’iyah dan Hanābilah adalah shalāt nya tidak sah secara mutlak, baik ada udzur atau tidak ada udzur.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وإن صلى الإمام في المسجد والمأموم خارج المسجد قريبا منه وهو عالم بصلاته ولا حائل هناك جاز)) وحد القرب بينهما ثلاث مائة ذراع تقريبا

“Jika Imām shalāt di masjid dan dia(ma’mum) shalāt diluar masjid dan ma’mum itu dekat dengan Imām serta ma’mum tersebut mengetahui shalāt Imām dan tidak ada penghalang antara dia dengan Imām maka sah”.

Kata beliau, dan batasan dekatnya adalah 300 dzira’ antara keduanya (kira-kira 144 m)

Disini ada perbedaan teks matan yang disebutkan disana ada yang menyebutkan kondisi yang kedua dan ada yang menyebutkan  kondisi ketiga.

Apa itu kondisi kedua dan ketiga? Kita akan ringkaskan dalam penjelasan berikut ini.

*Kondisi yang kedua*

Yang disebutkan didalam matan yang kita sebutkan sekarang bahwasanya Imām berada didalam masjid dan ma’mum berada diluar masjid

*Kondisi yang ketiga*

Kondisi yang ketiga yang disebutkan didalam matan yang lain, Imām dan ma’mum berada diluar masjid.

⇛Untuk keadaan atau kondisi kedua, Imām berada di dalam masjid dan ma’mum diluar masjid maka apabila tidak ada penghalang dan jaraknya sekitar 300 dzira’ atau 144 m, maka shalātnya sah dengan mengikuti Imām tersebut.

⇛Dengan melihat Imām secara langsung atau melihat sebagian shaf dari ma’mum, selama dia mengetahui pergerakan Imām atau perpindahan Imām secara langsung tidak ada pembatas maka shalātnya sah.

⇛Keadaan ketiga, Imam dan ma’mum berada diluar masjid.

Maka disini dipersyaratkan sama al ‘ilmu (mengetahui) yaitu dengan melihat pergerakan Imām atau perpindahan gerak Imām dengan melihat Imām atau melihat sebagian shafnya tanpa penghalang dengan jarak maksimal 300 dzira’ atau sekitar 144 m.

⇛Ini adalah tafria’at atau pengembangan masalah atau perluasan masalah bagi yang berpendapat bahwa shalāt ma’mum sendirian dibelakang imam adalah sah.

Bagi yang memandang itu tidak sah, maka seluruh keadaan ini adalah tidak sah.

Demikian, semoga bermanfaat

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar