Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Puasa Yang Diharamkan

Kita lanjutkan pelajaran kita dalam kitāb Ash Shiyām (Kitāb Puasa) dan kita sampai pada puasa yang diharamkan.

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويحرم صيام خمسة أيام: العيدان وأيام التشريق الثلاثة))

Dan diharamkan puasa pada 5 (lima) hari, yaitu:

⑴ Dua hari ‘Ied (العيدان)

(yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.)

⑵ Tiga hari pada hari Tasyrīq ( التشريق الثلاثة)

Hari tasyrīq adalah hari pada tanggal 11,12 dan 13 Dzuhijjah.

Kemudian:

((ويكره صوم يوم الشك إلا أن يوافق عادة له))

“Dan dimakruhkan berpuasa pada hari syak, kecuali dia bersamaan atau bertepatan dengan puasa yang biasa dia kerjakan.”

Hari syak adalah hari yang ragu, artinya apakah dia masuk ke dalam bulan Ramadhān atau masih di bulan Sya’bān, itu yang disebut sebagai hari syak.

Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bahwasanya diharamkan puasa pada 5 (lima) 

hari.

⑴ ‘Iedul Fithr

⑵ ‘Iedul Adha

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Said AlKhudri radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam)  bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang puasa dari dua hari (‘Iedul Adha dan ‘iedul fithr).”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 827)

Perkara ini merupakan kesepakatan para ulamā (ijmā’ ulamā) bahwa puasa pada dua hari tersebut hukumnya adalah haram.

Apakah puasa sunnah atau puasa wajib seperti puasa nadzar atau puasa kafarah, maka tidak boleh dilakukan pada hari tersebut.

Di dalam hadīts yang lain, yang disebutkan oleh Abū ‘Ubaid Maulā Ibnu Azhar beliau berkata:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ فَقَالَ هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلم عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ.

Saya menyaksikan (melaksanakan shalāt) ‘Ied bersama ‘Umar bin Khaththāb maka beliau pun berkata:

“Bahwasanya ini adalah dua hari yang dilarang oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam  untuk berpuasa pada hari tersebut, (yaitu) pada hari fithr setelah kita berpuasa Ramadhān dan hari yang lain adalah pada saat kalian makan, makanan sembelihan kalian yaitu pada saat ‘Iedul Adha.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1990)

Begitu juga hadīts dari Abū Said Al Khudriy yang tadi disebutkan.

Kemudian hari berikutnya adalah tiga hari pada saat hari-hari tasyrīk, yaitu:

⑶ 11 Dzulhijjah

⑷ 12 Dzulhijjah

⑸ 13 Dzulhijjah

Dan tidak boleh seorang berpuasa sunnah. Ini merupakan jumhur mayoritas para ulamā berdasarkan hadīts dari Nubaysyah Al Hudzaliy beliau berkata, Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari tasyrīk adalah hari makan dan minum.”

(Hadīts riwayat Imām Muslim nomor 1141)

Oleh karena itu puasa pada hari tasyrīk hukumnya adalah haram kecuali bagi jamā’ah haji yang dia tidak mendapatkan hadyu (hewan untuk disembelih) apakah karena tidak ada atau karena tidak punya.

فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ

“Apabila kalian tidak mendapatkan hadyu (binatang sembelihan) apakah dia tidak mampu maka dia boleh menggantikannya dengan berpuasa tiga hari pada saat pelaksanaan haji dan tujuh hari pada saat pulang.”

(QS AlBaqarah 196)

Dan para ulamā telah membahas ini dan diperbolehkan apabila memang harus berpuasa pada hari tasyrīk bagi jamā’ah tersebut.

Adapun selain mereka maka tidak diperbolehkan untuk berpuasa pada hari tersebut (hari tasyrīk).

Dan juga berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, dari Ka’ab bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَنَادَىى  ” أَنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ . وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ”

Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus beliau dan juga mengutus Ausa bin Al Hadatsān pada hari tasyrīk. Maka keduanyapun menyeru (mengumumkan) bahwa perintah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Bahwasanya tidak ada yang masuk surga kecuali orang berimān dan hari-hari Minā adalah hari makan dan minum.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 1142)

⇒ Ini adalah perintah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk menjadikan hari tasyrīk sebagai hari makan dan minum.

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويكره صوم يوم الشك))

“Dan dimakruhkan puasa pada hari syak.”

Jadi apabila seseorang ragu-ragu maka dia kemudian jaga-jaga jangan sampai masuk bulan Ramadhān dan dia tidak berpuasa maka dia berpuasa pada akhir bulan Sya’ban (tanggal 30 Sya’ban) ini disebut hari syak (hari yang ragu-ragu).

Apakah dia masuk bulan Ramadhān atau tidak, karena bulan di dalam bulan qamariyyah apakah dia 29 atau 30 hari.

Jadi tanggal 30 ini mungkin bisa masuk tanggal 1 Ramadhān apabila sudah terlihat hilal, maka seorang yang ragu-ragu dia berpuasa pada tanggal tersebut ini disebut hari syak. Maka kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ini tidak diperbolehkan.

Kalimat: ويكره , yang disebutkan makruh di sini oleh penulis, yang dimaksudkan mungkin adalah makruh tahrim, karohiyatu tahrim, artinya tidak disukai tapi masuk dalam hukum haram, karena yang mu’tamat (yang dikenal) di dalam madzhab syāfi’i hukumnya adalah haram.

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Amar bin Yāssir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari dimana orang-orang ragu apakah dia masuk pada bulan Ramadhān atau tidak, maka dia telah bermaksiat kepada Abū Qāsim (Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam).”

(Hadīts riwayat Bukhāri 4/119, Abū Dāwūd 2334, An Nassā’i 4/153, At Tirmidzī 686, Ibnu Mājah 1645)

⇒ lni menunjukkan bahwasanya larangan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang berpuasa pada hari syak.

(( إلا أن يوافق عادة له))

“Kecuali bila bertepatan dengan puasa yang sering dia kerjakan.”

Misalnya:

Dia sering puasa Senin Kamis dan tanggal 30 Sya’ban bertepatan dengan hari Kamis, maka diperbolehkan puasa pada hari Kamis tersebut.

Kalau dia tidak pernah berpuasa pada Senin Kamis, kemudian dia berpuasa pada hari Kamis tersebut maka ini tidak diperbolehkan.

Para shahābat sekalian.

Di sana ada beberapa puasa yang juga dilarang, yaitu:

• Puasa di hari Jum’at

Puasa di hari Jum’at secara sendiri tidak dibarengi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya, maka puasa ini tidak diperbolehkan.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ أَنْ يَصُومَ قَبْلَهُ أَوْ يَصُومَ بَعْدَهُ

“Tidak boleh seseorang dari kalian berpuasa hari Jum’at saja kecuali dia berpuasa hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

(Hadīts riwayat Bukhāri 1985, Muslim 1144)

⇒ Jadi harus digandeng dengan puasa hari sebelumnya atau hari sesudahnya.

Kemudian puasa yang lain, yaitu:

• Puasa Dahr (puasa terus menerus)

Puasa Dahr (puasa terus menerus), tidak pernah putus, setiap hari dia berpuasa, maka ini juga tidak diperbolehkan.

Dari Abdullāh bin Āmr bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tatkala sampai kepada beliau bahwa Abdullāh bin Āmr itu berpuasa terus menerus maka beliau mengatakan kepada Abdullāh bin Āmr.

Beliau bersabda:

لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ, لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ, لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ

“Tidak ada puasa (tidak dapat pahalanya) bagi orang yang berpuasa terus menerus. Tidak ada puasa (tidak dapat pahalanya) bagi orang yang berpuasa terus menerus. Tidak ada puasa (tidak dapat pahalanya) bagi orang yang berpuasa terus menerus.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri 1977, Muslim 1159)

⇒ Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengulang sebanyak 3 (tiga) kali.

• Puasa di hari Sabtu

Di sana ada khilāf para ulamā tentang puasa khusus pada hari sabtu saja. Boleh atau tidak?

Maka di sana:

√ Sebagian membolehkan, seperti madzhab Mālik.

√ Sebagian mengatakan makruh menyendirikan puasa di hari sabtu saja, ini adalah madzhab jumhur (Syāfi’i, Hanafiyyah dan Hanabilah).

• Puasa Wishāl

Dan di sana ada larangan yaitu untuk puasa wishāl, yaitu seseorang yang tidak sahur dan tidak berbuka menyambung terus puasanya, maka ini juga tidak diperbolehkan berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

إيكم و اَلْوِصَالِ, إيكم و اَلْوِصَالِ, إيكم و اَلْوِصَالِ

“Hati-hati kalian, jangan berpuasa wishāl. Hati-hati kalian, jangan berpuasa wishāl, Hati-hati kalian, jangan berpuasa wishāl.”

Maka sunnahnya sebagaimana sudah disebutkan bahwa seorang muslim /mukmin tatkala berpuasa mengikuti sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu makan sahūr dan kemudian mempercepat berbuka puasa.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar