Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Permasalahan-Permaslahan Dalam Puasa

Berkata penulis rahimahullāh:

 ((ومن مات وعليه صيام من رمضان أطعم عنه لكل يوم مد))

((Barangsiapa yang meninggal dunia dan dia masih memiliki hutang puasa di bulan Ramadhān, maka ia diganti dengan makanan, setiap harinya adalah satu mud.))

⇒ Permasalah ini adalah permasalahan orang yang meninggal dunia dan dia masih memiliki hutang.

Di sana, orang yang meninggal dunia ada dua keadaan.

⑴ Apabila dia berbuka di bulan puasa karena udzur syari’ misalnya sakit, dan sakit tersebut masih berkelanjutan, (artinya) dia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha atau menganti pada hari lain di luar bulan Ramadhān, kemudian dia meninggal dunia.  Maka orang seperti ini, dia tidak memiliki kewajiban apapun.

⇒ Tidak puasa atau tidak digantikan dengan makanan.

⑵ Orang yang berbuka puasa pada saat bulan Ramadhān karena udzur syari’, kemudian dia mampu untuk menggantikan pada hari lain setelah bulan Ramadhān. Dan dia tidak melakukan puasa tersebut artinya tidak mengqadha, apakah karena lalai atau karena hal lainnya, kemudian meninggal dunia maka orang seperti ini adalah orang yang berhutang puasa di bulan puasa.

Maka keadaan yang kedua ini yang sedang dibahas:

Pendapat Imam Syāfi’i dalam masalah ini, bahwa orang yang meninggal dunia dan dia masih memiliki hutang, maka dibayarkan hutangnya dengan cara memberikan makanan setiap satu hari satu mud.

Dan pendapat syāfi’iyyah juga, bahwasanya yang lebih aula (utama) yaitu apabila kerabatnya yang berpuasa untuk menggantikan orang tersebut.

Menggantikan hari-hari dimana orang yang meninggal tersebut berbuka, sebagaimana dalam hadīts Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Beliau berkata:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan dia masih memiliki hutang maka hendaknya walinya berpuasa atas orang tersebut, (artinya) menggantikan puasa yang ditinggalkan oleh orang tersebut.”

⇒ Walinya adalah ahli warisnya (ini lebih afdal).

Namun apabila tidak, maka cukup dengan memberikan makanan setiap satu hari satu mud.

Sebagaimana pendapat Ibnu ‘Umar radhiyallāhu 7Ta’āla ‘anhumā yang diriwayatkan oleh Imām At Tirmidzī.

Beliau berkata:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan dia masih memiliki hutang pada bulan Ramadhān, maka digantikan dengan memberikan makanan setiap harinya kepada orang-orang miskin.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 718)

Begitu juga pendapat Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd.

Beliau berkata:

 إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhān, kemudian dia meninggal, (artinya dia mempunyai kesempatan untuk menggantikannya pada hari-hari yang lain akan tetapi tidak digantikan) dan dia belum berpuasa (artinya masih memiliki hutang), maka digantikan dengan makan dan besarnya adalah satu mud (687 ml /600 gram) setiap harinya.”

⇒ Setiap harinya diberikan (1mud atau 600 gram) kepada orang-orang miskin. Dan makanan yang diberikan adalah makanan pokok pada negeri tersebut.

Misalnya di Indonesia makanan pokoknya adalah beras. Dan mungkin negeri lain gandum atau disesuaikan dengan makanan pokok negeri tersebut.

Berkata penulis rahimahullāh:

((والشيخ إن عجز عن الصوم يفطر ويطعم عن كل يوم مدا))

((Kemudian orang tua renta yang dia tidak mampu untuk melaksanakan puasa maka dia berbuka dan digantikan dengan makanan setiap harinya adalah satu mud.))

Permasalahan berikutnya adalah permasalahan orang yang sudah tua renta dan apabila dia berpuasa dikhawatirkan akan lebih mudharat (dianggap sebagai orang-orang yang tidak mampu), maka ia diberikan rukhshah, diberikan kesempatan untuk berbuka puasa dan dengan syarat digantikan setiap hari-hari yang ditinggalkan dengan memberikan makan satu mud dari makanan pokok yang digunakan di negara tersebut.

Para ulamā tidak ada khilāf di antara mereka, bahwa orang-orang hamil dan menyusui yang mereka mengkhawatirkan atas dirinya atau atas janinnya, maka mereka diperbolehkan untuk berbuka puasa.

Berdasarkan hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاةِ وَعَن الْمُسَافِرِالْحَامِلِوَالْمُرْضِع الصِّيَامَ

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah membebaskan setengah kewajiban shalat bagi musafir, dan kewajiban puasa bagi musafir, ibu hamil dan wanita yang menyusui.”

==> Bahwasanya, Allāh ‘Azza wa Jalla memberikan keringan (rukhshah) dengan menghapus (menghilangkan) sebagian dari shalāt dari empat raka’at menjadi dua raka’at bagi musāfir. Dan bagi musafir, orang hamil dan orang yang menyusui diringankan (yaitu) bolehnya berbuka puasa.”

Begitu pula dalam hadīts yang lain, hadīts riwayat Abū Dāwūd dari Ibnu ‘Abbās bahwasanya beliau berkata tentang firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla  yang menjadikan rukhshah yaitu:

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌۭ طَعَامُ مِسْكِينٍۢ

“Dan wajib bagi orang-orang yang tidak mampu untuk melaksanakan ibadah puasa maka dia membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang-orang miskin.”

(QS Al Baqarah: 184)

Maka beliau (Ibnu ‘Abbās) mengatakan:

كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا – قَالَ أَبُو دَاوُدَ يَعْنِي عَلَى أَوْلاَدِهِمَا – أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا

“Dan ayat ini rukhshah (keringan) bagi orang yang tua renta, wanita yang tua renta (nenek), mereka tidak mampu untuk melakukan puasa maka diperbolehkan untuk berbuka puasa, kemudian membayar fidyah dengan memberikan makan kepada orang miskin setiap harinya, kemudian orang yang hamil dan menyusui apabila mereka khawatir (ditafsirkan oleh Abū Dāwūd, maksudnya mengkhawatirkan atas anak-anak mereka), maka mereka berbuka puasa dan juga mereka makan.”

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd nomor 2318)

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya mereka adalah kelompok yang diberikan rukhshah untuk berbuka puasa pada saat bulan Ramadhān.

Dan di sini para ulamā berselisih pendapat tentang apa yang wajib bagi mereka.

√ Apakah qadha saja,

√ Apakah fidyah saja, atau

√ Apakah qadha dan fidyah atau

√ Tidak ada qadha dan fidyah.

Maka di sana ada 5 (lima) pendapat.

Kita fokuskan kepada pendapat madzhab syāfi’i sebagimana ditulis oleh mualif rahimahullāh.

((والحامل والمرضع إن خافتا على أنفسهما: أفطرتا وعليهما القضاء))

((Dan seorang yang hamil dan menyusui apabila mengkhawatirkan atas dirinya sendiri maka berbuka dan wajib bagi mereka untuk mengqadha [menggantikan pada hari-hari yang lain].))

((وإن خافتا على أولادهما: أفطرتا وعليهما القضاء والكفارة عن كل يوم مد وهو رطل وثلث بالعراقي))

((Pada kondisi yang kedua apabila mereka mengkhawatirkan pada anak-anak mereka (janin) maka keduanya berbuka, maka pada saat ini mereka wajib untuk mengqadha dan membayar kafarah atau fidyah. Yaitu, dengan memberikan makan setiap hari orang miskin sebanyak puasa yang  ditinggalkannya sebanyak satu mud [1/3 ritel irāqī].)’

⇒ Ini adalah takaran volume kira-kira 600 gram dari makanan pokok yang berlaku pada negara tersebut.

Kemudian berkata penulis rahimahullāh:

 ((والمريض والمسافر سفرا طويلا يفطران ويقضيان))

((Dan orang yang sakit dan orang yang musāfir atau bepergian dengan jarak yang jauh [jarak qashar, jarak bolehnya seorang mengqashar] maka pada saat itu diperbolehkan untuk berbuka puasa dan wajib untuk mengqadha.))

Berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْففُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’ān sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”

(QS Al Baqarah: 185)

Para shahābat sekalian, bahwasanya orang yang sakit ada 3 (tiga) keadaan, yaitu:

⑴ Sakitnya itu sakit yang ringan atau sakit yang tidak ada kaitannya dengan puasa (tidak berpengaruh pada puasanya).

⇒ Puasanya tidak berpengaruh pada sakitnya, maka pada perkara ini, dia tidak boleh untuk berbuka.

⑵ Apabila dia berpuasa maka akan bertambah sakitnya atau semakin lama sembuhnya.

⇒ Maka kondisi ini diperbolehkan untuk berbuka puasa.

⑶ Apabila dia berpuasa maka akan menyebabkan kematian bagi dia atau dia sangat berat dengan puasa tersebut, karena kondisi sakit yang dia derita.

Apabila dia berpuasa maka sakitnya akan bertambah parah, maka orang seperti ini wajib untuk berbuka puasa.

Berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.”

(QS An Nissā’: 29)

Adapun safar, maka safar yang dianggap dalam madzhab syāfi’i, adalah safar yang dia mencapai derajat qashar (jarak diperbolehkannya qashar, sekitar 85-90 Km).

Dan orang yang safar dengan safar ini (safar thawilan) maka diperbolehkan untuk berbuka puasa dan diwajibkan untuk mengqadha pada hari-hari yang lain.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar