Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Perkara Perkara Yang Dapat Membatalkan Wudhu

 قال المصنف:

((والذي ينقض الوضوء ستة أشياء))

((Dan perkara-perkara yang dapat membatalkan wudhū’ ada 6 macam))

Pada hakikatnya para ulama membahas lebih dari 6 perkara tentang pembatal wudhū’.

● PEMBATAL PERTAMA ●

قال المصنف:

((ما خرج من السبيلين))

((Apa-apa yang keluar dari 2 jalan))

⇒ Yaitu maksudnya adalah qubūl maupun dubur.

Yang keluar dari qubūl maupun dubur ada 2 kategori;

◆ ⑴ Hal-hal yang keluar dengan wajar

Misalnya: buang air kecil, buang air besar, cairan mani, cairan madzi, cairan wadhi, darah haidh, darah nifas dan buang angin.

Dalil:

• ⑴ Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟

“Dan jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah dan jika kalian dalam keadaan sakit atau buang air atau menyentuh wanita dan kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah.” (Al-Maidah 6)

• ⑵ Hadīts riwayat Bukhāri

سئل ابو هريرة رضي الله عنه عن الحدث قال رضي الله عنه ( فساء أو ضراط )

Ketika Abū Hurairah ditanya tentang (makna) hadats, maka beliau menjawab, “Dia adalah fusāun (buang angin yang tidak bersuara) atau dhurāthun (buang air yang bersuara).”

• ⑶ Hadīts ‘Ali radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu

Tatkala ‘Ali radhiyallāhu ‘anhu bertanya dengan mengutus seseorang bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang cairan madzi maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab,

يغسل ذكره ويتوضأ

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhū’.” (HR. Abū Dawūd, An-Nasāi dan Bayhaqi)

• ⑷ Ijmā’ para ulama bahwasanya air mani membatalkan wudhū’.

Dan dalil-dalil lain yang menjelaskan tentang batalnya wudhū’ seseorang dari hal-hal yang keluar dari qubūl maupun dubur secara wajar.

◆ ⑵ Hal-hal yang keluar dengan tidak wajar (jarang terjadi)

Misal: keluarnya batu, ulat, belatung, darah wasir (ambeien)

Jumhūr (mayoritas) fuqaha dari kalangan Syāfi’iyyah, Hanāfiyyah dan Hanābilah berpendapat bahwa hal itu semua membatalkan wudhū’.

Kenapa? Karena sesuatu tadi itu keluar dari tempat keluarnya hadats/kotoran sehingga tidak terlepas dia akan keluar bersama kotoran walaupun sedikit.

■ Ada beberapa catatan tambahan yang perlu ditambahkan;

CATATAN TAMBAHAN ⑴

Bagaimana apabila buang angin keluar bukan dari dubur melainkan keluar dari qubūl? Dan ini banyak terjadi di kalangan wanita.

Jawaban:

Hal itu membatalkan wudhū’.

Dalil:

Ijmā’, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd dan Ibnu Qudāmah.

Berdasarkan keumuman hadits, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ قال رجل من حضرموت : ما الحدث يا ابا هريرة ؟ قال : فساء أوضراط

“Tidak diterima shalat seseorang yang hadats sampai dia berwudhū’.”

Kemudian seseorang dari Hadramaut bertanya kepada Abū Hurairah: “Apa yang dimaksud dengan hadats, wahai Abū Hurairah?”.

Maka beliaupun mengatakan: “Fusāun (buang angin yang tidak bersuara) atau dhurāthun (buang air yang bersuara).”

(HR Bukhari dari shahābat Abū Hurairah)

CATATAN TAMBAHAN ⑵

Buang air besar dan buang air kecil jika keluar tidak melalui qubūl maupun dubur, maka hukumnya juga termasuk hal yang membatalkan wudhū’.

Dalil:

Berdasarkan keumuman hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“… Akan tetapi dari buang air besar, kencing maupun tidur.” (HR Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

⇒ Maksudnya dalam hadits ini adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk tidak melepaskan khauf saat bersuci kecuali apabila terjadi 3 perkara yaitu buang air besar, kencing maupun tidur.

Dan disini keumuman hadīts, apabila seseorang keluar kencingnya atau buang air besarnya walaupun bukan dari dubur maupun qubūl maka batal wudhū’nya.

Adapun selain itu seperti darah atau nanah, jika keluar bukan dari qubūl maupun dubur maka dia tidak membatalkan wudhū’ nya.

CATATAN TAMBAHAN ⑶

Tentang kelembaban yang terjadi di kemaluan wanita (ruthūbah farjil mar’ah)

Kelembaban ini banyak terjadi di kalangan wanita dan kelembaban tersebut berbeda-beda antara satu wanita dengan yang lain, ada yang sedikit dan ada yang banyak atau bahkan keluar menjadi cairan atau lendir.

Oleh karena itu, hal ini dijelaskan oleh Imām An-Nawawi di dalam Al-Majmū’ Syarh Muhadzdzab tentang ruthūbah farjil mar’ah. Kata beliau,

“Ruthūbah farjil mar’ah adalah cairan putih yang wujudnya antara madzi dan keringat.”

Dan disini hukumnya para ulama berbeda pendapat, diantara salah satu pendapatnya bahwasanya hukumnya sama dengan cairan yang keluar dari tubuh manusia yang wajar seperti keringat, maka hal itu tidaklah membatalkan wudhū’.

Pendapat ini dipilih oleh Imam Syāfi’i, Ibnu Hazm dan dikuatkan (dirajihkan) oleh Syaikh ‘Utsaimin rahimahumullāh.

Dalil:

⑴ Bahwasanya tidak ada dalil, hadits atau riwayat yang sharih yang menjelaskan tentang batalnya wudhū’ seseorang disebabkan ruthūbah (kelembaban) tersebut.

⑵ Bahwasanya hal ini terjadi secara alami dan hampir terjadi di semua wanita. Dan merupakan kesulitan yang besar dan masyaqqah apabila seorang wanita harus senantiasa berwudhū’ apabila terjadi kelembaban di dalam kemaluannya.

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

● PEMBATAL KEDUA ●

قال المصنف:

((والنوم على غير هيئة المتمكن ))

((Tidur pada posisi yang tidak kokoh))

⇒ Maksudnya posisi selain posisi duduk, maka itu membatalkan wudhū’.

Dalil:

⑴ Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

العينان وكاء السه ، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء ، ومن نام فليتوضأ (رواه : ابو داود ر ابن ماجه)

“Kedua mata adalah pengikat dubur, apabila kedua mata itu tertidur maka pengikat itu akan lepas. Maka barangsiapa yang tertidur maka hendaknya dia berwudhū’.”

(HR Abū Dāwud dan Ibnu Majah dari shahābat Mu’āwiyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu)

⑵ Namun disana ada riwayat yang lain yang menjelaskan bahwasanya para shahabat tertidur tatkala menunggu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk melaksanakan shalat berjama’ah namun mereka tidak berwudhū’.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّؤُونَ

“Mereka para shahabat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tertidur kemudian bangkit untuk melaksanakan shalat dan mereka tidak berwudhū’.” (HR Muslim)

Disini menggabungkan 2 hadits tersebut diatas bahwasanya ini adalah dalam tidur yang ringan dan posisi yang duduk, maka seseorang tidak batal wudhū’ nya.

Akan tetapi apabila tidur yang pulas & panjang dan juga tidur pada posisi selain posisi duduk maka dia membatalkan wudhū’ (Dan ini adalah pendapat jumhur).

● PEMBATAL KETIGA ●

قال المصنف:

((وزوال العقل بسكر أو مرض))

((Hilangnya akal disebabkan karena mabuk atau karena penyakit))

Termasuk didalamnya adalah seorang yang pingsan yang kemudian hilang akalnya atau dibius maka hal-hal tersebut membatalkan wudhū’ seseorang.

Kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya tentang pembatal-pembatal wudhū’ yang lainnya dan in syā Allāh Ta’āla, Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita dalam menuntut ilmu.

MATAN KITAB

(فصل) والذي ينقض الوضوء ستة أشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد.

Perkara yang membatalkan wudhu ada 6 (enam):

① Sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur),

② Tidur pada posisi yang tidak kokoh,

③ Hilangnya akal disebabkan karena mabuk atau karena penyakit,

④ Sentuhan kulit seorang lelaki terhadap wanita ajnabi/asing (wanita yang bukan mahramnya) tanpa adanya pembatas,

⑤ Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan,

⑥ Menyentuh lubang duburnya berdasarkan qaul jadīd.

■ PEMBATAL KEEMPAT

قال المصنف:

((ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل))

((Dan sentuhan kulit seorang lelaki terhadap wanita ajnabi/asing (wanita yang bukan mahramnya) tanpa adanya pembatas))

Di dalam madzhab Syāfi’iyyah, termasuk pembatal wudhū’ adalah seorang lelaki dewasa yang menyentuh kulit seorang wanita dewasa tanpa penghalang (semisal kain) yang bukan mahramnya, baik mahram secara nashab maupun mahram karena susuan.

Dan termasuk wanita selain mahram adalah istrinya dan ini adalah termasuk ajnabi.

◆ Dalil pendapat ini, diantaranya firman Allāh Ta’āla:

(وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مِّنكُم مِّن الْغَآئِطِ…)

… أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

“…Atau kalian menyentuh wanita dan tidak mendapatkan air maka bertayamumlah.”

(An-Nisā 43)

Didalam ayat ini, Allāh Ta’āla menggandengkan kalimat :

أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ

“Menyentuh wanita”

Setelah kalimat:

أَوْ جَاء أَحَدٌ مِّنكُم مِّن الْغَآئِط

“Atau apabila salah seorang dari kalian datang dari tempat buang air”

⇒ Hal ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita itu membatalkan wudhū’ sebagaimana buang air membatalkan wudhū’.

Dan kata لامس maknanya secara zhāhir adalah menyentuh antara kulit dengan kulit.

Disana ada permasalahan yang perlu kita ketahui yaitu,

APAKAH MENYENTUH WANITA MEMBATALKAN WUDHŪ’ ATAU TIDAK?

Para ulama ahli fiqh terbagi menjadi 3 pendapat;

● PENDAPAT ⑴

Menyentuh wanita selain mahram yang baligh & berakal membatalkan wudhū’.

Ini adalah madzhab Syāfi’iyyah sebagaimana yang sudah dijelaskan.

● PENDAPAT ⑵

Menyentuh wanita membatalkan wudhū’ apabila disertai dengan syahwat atau rasa lezat.

Ini adalah pendapat Imam Mālik dan juga salah satu riwayat di dalam madzhab Hanbali.

● PENDAPAT ⑶

Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhū’.

Ini adalah pendapat Imam Abu Hanīfah dan juga salah satu riwayat dalam madzhab Hanbali.

Pendapat yang kuat, wallāhu a’lam, adalah pendapat yang ke ⑶, yaitu bahwasanya menyentuh wanita baik dengan adanya pembatas atau tanpa adanya pembatas tidak membatalkan wudhū’, KECUALI jika keluar sesuatu dari kemaluannya.

Dan pendapat ini adalah pendapat sebagian para salaf dan dipilih juga oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Imam Ash-Shan’āni, Syaikh Bin Bāz, Syaikh Al-Albāni, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan juga merupakan fatwa dari Lajnah Dāimah (Lembaga Fatwa) yang berada di Saudi Arabia.

Diantara dalilnya:

◆ Dalil ⑴

Makna kata “الامس” didalam ayat tersebut tidaklah dimaksud zhāhir secara maknanya dan (tidak) diartikan “menyentuh” antara kulit dengan kulit.

Karena kata “الامس” banyak digunakan di dalam ayat-ayat Al-Qurān dan yang dimaksudkan adalah jima’ atau kinayah dari jima’ (berhubungan antara suami & istri).

Sebagaimana dalam firman Allāh Subhānahu Wa Ta’āla :

وَإِن طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ

“Dan jika kalian mencerai/menthalaq mereka (yaitu para istri) sebelum kalian menyentuh mereka.”

(Al-Baqarah 237)

⇒ Menyentuh disini adalah jima’.

◆ Dalil ⑵

Ibnu ‘Abbās yang dijuluki sebagai “Penterjemah Al-Qurān” mentafsirkan makna “الامس” yang terdapat surat An-Nisā 43 maknanya adalah jima’.

… أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

“…Atau kalian menyentuh wanita dan tidak mendapatkan air maka bertayamumlah.”

(An-Nisā 43)

⇒ Menyentuh wanita disini adalah jima’, kata beliau.

◆ Dalil ⑶

Hadits shahīh riwayat Tirmidzi, Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah.

عن عُروة، عن عائشةَ رضي الله عنها قالت: أنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ قَبَّل امرأةً من نسائه، ثمَّ خرج إلى الصَّلاة ولم يتوضَّأ. قال عروة: فقلتُ لها: مَن هي إلَّا أنتِ؟! فضَحِكت

Dari ‘Urwah dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau berkata: “Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mencium salah seorang dari istri-istri Beliau kemudian Beliau keluar untuk melaksanakan shalat dan tidak berwudhū’.”

‘Urwahpun berkata kepada ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā: ‘Siapakah gerangan wanita ini kalau bukan anda?’. Maka ‘Āisyahpun tertawa.”

■ PEMBATAL KELIMA

قال المصنف:

(( و مس فرج الآدمي بباطن الكف))

((Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan))

Ada 2 pendapat dikalangan ulama, yaitu:

• PENDAPAT PERTAMA

Merupakan pendapat Syāfi’iyyah dan juga mayoritas jumhūr para ulama bahwasanya:

“Menyentuh kemaluan baik kemaluan diri sendiri ataupun oranglain, orang dewasa maupun anak kecil, laki-laki maupun wanita dengan syahwat ataupun tanpa syahwat maka itu adalah membatalkan wudhū’.”

◆ Dalil:

Keumuman hadits Busyra tatkala beliau meriwayatkan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya maka berwudhū’lah.”

(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan Nasāi)

Dan hadits ini secara tarikh asbābul wurūdnya dia lebih akhir daripada hadits Thalaq bin ‘Ali yang digunakan dalam pendapat kedua.

• PENDAPAT KEDUA

Merupakan pendapat Imām Abū Hanīfah bahwa:

“Menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhū’.”

◆ Dalil:

Hadits Thalaq bin ‘Ali bahwasanya beliau mengatakan:

قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعنده رجل كأنه بدوي فقال: يا رسول الله! ما ترى في مس الرجل ذكره بعد ان يتوضأ؟ فقال صلى الله عليه وسلم: و هل هو إلا بضعة منك

“Manakala kami datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ternyata di sisi Beliau ada seseorang laki-laki sepertinya dia adalah orang Baduwi.

Maka diapun bertanya: ‘Wahai Rasūlullāh, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah dia berwudhū’?’.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab: ‘Bukankah itu adalah bagian dari anggota tubuhmu?’.”

(HR Abū Dāwūd dan Tirmidzi)

⇒ Maksudnya, disini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak membedakan antara kemaluan dengan anggota tubuh yang lain dan bahwasanya hal itu tidak membatalkan wudhū’.

Kedua pendapat diatas masing-masing adalah pendapat yang diriwayatkan dari para shāhabat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum.

Dan pendapat yang lebih hati-hati adalah pendapat yang pertama.

Dan sebagian para ulama ada yang menggabungkan antara kedua hadits tersebut, bahwasanya maksudnya adalah:

“Menyentuh yang disertai dengan syahwat adalah sentuhan yang bisa membatalkan wudhū’, namun apabila tidak disertai dengan syahwat maka hal itu tidak membatalkan wudhū’.”

Dan pendapat ini adalah salah satunya diantara pendapat Syaikh ‘Utsaimin rahimahullāh.

■ PEMBATAL KEENAM

قال المصنف:

(( و مس خلقة دبره على الجديد))

((Dan menyentuh lubang duburnya berdasarkan qaul jadīd))

⇒ Qaul jadīd adalah pendapat Imām Syāfi’i yang terbaru ketika beliau ada di Mesir.

Ketahuilah, bahwasanya Imām Syāfi’i memiliki:

※ Qaul qadīm

Pendapat yang lama, sebelum beliau pindah ke Mesir.

※ Qaul jadīd

Pendapat yang baru, setelah beliau pindah ke Mesir.

Qaul jadīd berbeda dengan qaul qadīm, diantara perbedaanya adalah:

Imām Syāfi’i berpendapat menyentuh lubang dubur adalah membatalkan wudhū’.

Dan ini juga pendapat madzhab Hanbali dan dipilih oleh Imām Asy-Syaukāni dan dirajihkan oleh Syaikh Bin Bāz rahimahullāh.

◆ Dalil

Hadits ‘Abdullāh bin ‘Umar saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أيُّما رجلٍ مسَّ فَرجَه فلْيَتوضَّأ، وأيُّما امرأةٍ مسَّت فرجَها فلْتتوضَّأْ

“Lelaki siapa saja yang menyentuh farji (lubang kemaluan)nya, maka hendaklah dia berwudhū’. Dan perempuan siapa saja yang menyentuh farjinya maka hendaklah dia berwudhū’.”

(HR Ahmad dan Dāruquthni)

Dan makna farji adalah lubang. Dan dubur termasuk didalam makna farji dalam hadits tersebut.

Demikianlah pembatal-pembatal wudhū’ yang disebutkan dalam matan Abū Syujā’.

Dan disana masih ada pembatal-pembatal lainnya yang tidak disebutkan di matan ini.

Dan kita cukupkan dengan nukilan hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ  ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia maka akan terputuslah amal perbuatannya kecuali dari 3 perkara:

⑴ Shadaqah jāriyah (sedekah yang senantiasa mengalir pahalanya kepada dirinya)

⑵ Ilmu yang bermanfaat

⑶ Anak shalih yang senantiasa mendo’akan kedua orangtuanya.”

(HR Muslim No. 1631, dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

Para Sahabat sekalian,

Ilmu agama ataupun ilmu syari’at adalah ilmu yang sangat bermanfaat bagi pemiliknya.

Dan akan terus mengalir pahalanya apabila mengajarkannya dan menyebarkannya.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar