Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Pentingnya Kita Belajar Agama

 مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan maka niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya.”

(HR Bukhāri dan Muslim)

➖➖➖➖➖➖➖

PENTINGNYA KITA BELAJAR AGAMA

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وصحبه ومن تبع سنة، أما بعد

Ikhwah fiddīn a’āzaniyyallāhu wa iyyakum,

Muqaddimah bagian pertama, kita akan menjelaskan tentang “Pentingnya Belajar Agama”.

Belajar agama adalah salah satu tanda seseorang diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan.

Dimana sekarang orang-orang meninggalkan agama, meninggalkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang mana dia adalah sumber kebaikan dan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat.

Di dalam sebuah hadits riwayat Mu’āwiyah radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu beliau berkata:

Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan maka niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya.”

(HR Bukhāri nomor 6768, versi Fathul Bari nomor 7312 dan HR Muslim nomor 1721, versi Syarh Muslim nomor 1037)

Hadits ini menunjukkan pentingnya pemahaman di dalam agama karena dia adalah alamat kebaikan yang Allāh kehendaki dalam diri seseorang.

Dan kebalikannya, seseorang yang tidak Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya niscaya dia tidak akan difahamkan dalam agama, tidak akan ada keinginan untuk belajar agama.

Dia sama sekali tidak menoleh kepada ilmu agama, sehingga bagaimana dia akan mendapatkan kebaikan manakala dia tidak faham akan kebaikan itu sendiri?

Oleh karena itu, Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah mengatakan:

◆ فكل من أراد الله به خيرا فلا بد أن يفقهه في الدين

◆ فمن لم يفقهه في الدين لم يرد به خيرا

◆ وليس كل من فقهه في الدين قد أراد به خيرا بل لا بد مع الفقه في الدين من العمل به

◆ فالفقه في الدين شرط في حصول الفلاح

[الصفدية (2/ 266)]

◆ Dan setiap orang yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka pasti Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya.

◆ Dan orang-orang yang dia tidak difahamkan dalam urusan agamanya maka dia tidak diinginkan kebaikan pada dirinya.

#CATATAN

◆ Akan tetapi tidak setiap orang yang dia itu difahamkan dalam urusan agamanya pasti akan dikehendaki Allāh kebaikan pada dirinya, karena tidak cukup (hanya) memahami agama, akan tetapi harus disertai dengan mengamalkan pemahaman tersebut.

◆ Oleh karena itu pemahaman agama itu adalah salah satu syarat untuk mendapatkan keberhasilan (kemenangan, kebahagiaan, kebaikan dan seterusnya).

Oleh karena itu, bagi siapapun yang menginginkan kebaikan, keselamatan di dunia dan di akhirat, maka :

■ PERTAMA

Dia harus mempelajari agama yang Allāh turunkan kepada rasulNya (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Karena apa yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bawa itu adalah sumber kemashlahatan (sumber kebaikan dan sumber keselamatan) di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa yang berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka sungguh dia tidak ada kebaikan pada dirinya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bagaimana seseorang bisa menempuh jalan-jalan keselamatan apabila dia tidak mengetahuinya?

Bagaimana dia bisa mendapatkan kebaikan berupa surga sementara dia tidak tahu jalannya?

Oleh karena itu, ini adalah pintu pertama pembuka bagi setiap orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

⇒ Dia harus memahami perintah Allāh dan perintah RasulNya (harus faham agamanya) karena itu adalah sumber keselamatan di dunia dan di akhirat.

■ KEDUA

Dia mengamalkan ilmunya, mengamalkan apa yang dia fahami.

⇒ Pemahaman tadi tidak akan bermanfaat apabila tidak diamalkan.

Bagaimana seseorang bisa selamat tatkala dia mengetahui jalan keselamatan akan tetapi dia tidak menempuhnya?

Oleh karena itu tidak cukup dengan memahami agama, akan tetapi kita juga mengamalkannya.

Oleh karena itu kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar senantiasa diberikan pemahaman terhadap agama dan diberikan kemudahan untuk mengamalkannya dan diberikan taufiq untuk diterima amalan-amalan kita.

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدِنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَهْمًا وَارْزُقْنِي َعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allāh berikanlah saya manfaat terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah ilmu-ilmu yang bermanfaat kepadaku dan tambahkanlah ilmu dan berikanlah rizki berupa pemahaman dan berikanlah rizki berupa amal-amal yang diterima disisi Engkau.”

Dan kepada Allāh lah kita berharap dan kita berdoa agar senantiasa membimbing kita di atas hidayah Islam, hidayah Iman sehingga kita bisa bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan hati yang bersih, hati yang diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai pelajaran kita tentang ringkasan Fiqh Syar’iyyah Matan Abū Syujā’.

● PERTAMA

Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah dan bagian dari jihad fī sabīlillāh.

Allāh Ta’āla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk memurnikan keta’atan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” (Al-Bayyinah:5)

Ikhwah fiddīn a’āzaniyyallāhu wa iyyākum,

Dan niatkan kita menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita dan juga kita berusaha mengangkat kebodohan yang ada pada diri orang lain, agar kita semua dan mereka bisa memahami apa yang diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan RasulNya.

● KEDUA

Hendaknya bersabar di dalam menuntut ilmu dan tidak tergesa-gesa. Hendaknya bertahap, mulai dari tahap yang dasar, kemudian menengah dan dilanjutkan dalam tahap berikutnya.

Diantara tahap dasar bagi seseorang dalam menuntut ilmu adalah mengetahui perkara-perkara yang mendasar yang wajib ‘ain bagi dirinya.

Dan diantara tahap awal dalam masalah cabang ilmu fiqih adalah memulai memahami gambaran permasalahan secara ringkas sebelum mendalami atau menyibukkan diri dalam permasalahan-permasalahan yang mendetail, misalnya perbedaan para ulama, dalil-dalil mereka dan seterusnya.

Allāh Ta’āla berfirman :

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ

“Dan jadilah kalian seorang yang Rabbani.” (Āli ‘Imrān:79)

Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu, beliau mengatakan tentang ulama Rabbani, mereka adalah:

أَنَّهُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

“Mereka adalah orang-orang yang mengajarkan manusia perkara-perkara yang mendasar sebelum perkara-perkara yang lanjut.”

(Shahih Bukhari, kitab ilmu, bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan)

Oleh karena itu, ikhwah fiddīn a’āzaniyyallāhu wa iyyākum,

Adalah sebuah kesalahan apabila kita menyibukkan diri kita atau menyibukkan orang lain pada perkara-perkara khilaf diantara para ulama. Padahal kita sendiri atau orang lain belum mengetahui perkara yang mendasar yang wajib untuk diketahui.

Kemudian ikhwah fiddīn a’āzaniyyallāhu wa iyyākum,

● KETIGA

Bahwasanya para ulama, baik yang terdahulu maupun yang terkini, mereka senantiasa mengajarkan kitab-kitab fiqih secara bertahap. Mulai dari tahap yang dasar, menengah kemudian lanjut.

Sebagaimana para ulama terdahulu, mereka menulis kitab-kitab dari dasar. Seperti Imam Nawawi rahimahullāhu, beliau menulis Kitab Al-Minhāj yang merupakan ringkasan fiqih Asy-Syāfi’ī. Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Ar-Raudhah yang lebih panjang penjelasannya. Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Majmū’ yang merupakan disana dijelaskan tentang perbedaan pendapat para ulama, dalil-dalil dan diskusi diantara mereka.

Begitu juga Ibnu Qudāmah Al-Hanbali. Beliau menulis kitab dasar, Kitab ‘Umdatul Fiqh, kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Kāfi, kemudian dilanjutkan kitab-kitab panjang yaitu Kitab Al-Mughni sebagaimana yang kita ketahui.

Perkara yang ke-4 yang perlu kita sampaikan,

● KEEMPAT

Bahwasanya didalam mempelajari kitab Madzhab Syāfi’ī ini, bukan berarti kita fanatik terhadap Madzhab Syāfi’ī ataupun kita taqlid. Karena sesungguhnya, semua perkataan selain dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa diterima ataupun ditolak.

Oleh karena itu para ulama, baik terdahulu maupun terkini, bahkan Imam Syāfi’ī sendiri, beliau mengatakan :

إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثِ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

“Apabila hadits itu shahih maka itu adalah pendapatku.”

(Siyar A’lāmin Nubalā’, 10:35)

Oleh karena itu, hendaknya penuntut ilmu berpegang kepada Al-Kitāb dan Sunnah di dalam berpendapat.

Kemudian perkara yang ke-5 di dalam mempelajari matan Abū Syujā’ yang merupakan ringkasan fiqih Syāfi’ī ini,

● KELIMA

Akan kami jelaskan secara ringkas saja dan lebih fokus kepada bagaimana masalah-masalah (gambaran masalah) yang dibahas oleh para ulama, bukan pada khilaf ataupun perbedaan pendapat diantara mereka. Dan akan kami jelaskan secara ringkas dalil-dalil apabila nanti dibutuhkan.

● KEENAM

Pada pembahasan kitab fiqih ini tentu akan memakan waktu yang sangat panjang, oleh karena itu jika ada kesempatan mendatang, mungkin kita bisa selesaikan pada kajian intensif, baik secara offline maupun online. Maka akan kami sampaikan linknya kepada para ikhwah sekalian agar faidahnya bisa lebih menyeluruh.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar