Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Pengertian dan Syarat Wajib Puasa

Kita lanjutkan pembahasan tentang kitābush shiyām, kemarin kita telah membahas keutamaan ibadah shaum yang memiliki kedudukan khusus disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla  dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memasukan kita termasuk golongan orang-orang ٱلصَّـٰٓئِمِينَ وَٱلصَّـٰٓئِمَـٰتِ orang-orang yang rajin berpuasa karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di sini penulis memulai kitābush shaum yaitu kitāb yang membahas masalah puasa.

Secara lughawi (bahasa) Ash-Shaum (الصوم) berasal dari kalimat Al-Imsāk (الإمساك) yang artinya menahan.

Maksudnya adalah dia satu ibadah Al-Imsāk (الإمساك) ibadah dengan menahan dari perkara-perkara yang membatalkan, dimulai dari fajar yang kedua (fajar Shadiq) sampai tenggelamnya matahari dengan niat untuk melaksanakan ibadah puasa.

Puasa yang disyari’atkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ada dua macam, yaitu:

⑴ Puasa wajib

Puasa wajib ada tiga macam:

① Puasa wajib karena waktu tertentu (seperti) puasa di bulan Ramadhān diwajibkan bagi seluruh kaum muslimin melaksanakannya di bulan Ramadhān.

② Puasa wajib dikarenakan adanya sebab (misalnya) puasa kafarah, misalnya seseorang bersumpah dan dia melanggar sumpahnya maka di sana ada puasa kafarah.

③ Puasa yang disebabkan seseorang yang mewajibkan kepada dirinya sendiri, seperti puasa nadzar, (misalnya) seorang menginginkan sesuatu kemudian dia mengatakan, “Apabila saya mendapatkanya maka saya akan berpuasa”, maka hukum puasanya menjadi wajib.

⑵ Puasa yang mustahab

Dan di sana banyak, ada beberapa puasa mustahab yang dianjurkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagaimana yang beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tentang puasa senin dan kamis.

Contoh puasa mustahab; Puasa senin kamis, puasa Dāwūd (sehari puasa sehari berbuka), puasa di tiap bulannya (puasa ayāmul bidh), puasa Arafah, puasa Asy syurā dan lain sebagainya.

Di dalam matannya penulis rahimahullāh mengatakan:

((وشرائط وجوب الصيام أربعة أشياء: الإسلام والبلوغ والعقل والقدرة على الصوم.))

Bahwa syarat wajibnya puasa ada empat macam, yaitu;

⑴ Islām (الإسلام)

⑵ Bāligh (البلوغ)

⑶ Beraqal (العقل)

⑷ Mampu untuk melaksanakannya ibadah puasa (القدرة على الصوم)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda tentang bulan Ramadhān:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila telah datang bulan Ramadhān, akan dibuka pintu-pintu surga dan akan ditutup pintu-pintu neraka dan akan dibelengu syaithān-syaithān.”

(Hadīts riwayat Imām yang lima kecuali Abū Dāwūd)

⇒ Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhān adalah wajib dan memiliki keutamaan yang besar.

• Syarat pertama adalah Islām.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla  berfirman:,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang berimān ! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS Al-Baqarah: 183)

Perintah di sini adalah kepada orang-orang yang berimān, orang yang memiliki imān di dalam dirinya dan mereka adalah orang-orang Islām.

• Syarat kedua dan ketiga adalah Bāligh (البلوغ) dan ber’aqal (العقل)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Telah diangkat pena dari tiga golongan: ⑴ dari orang tidur hingga ia bangun, ⑵ anak kecil hingga ia bāligh dan ⑶ dari dari orang gila sampai ia sadar.”

(Hadīts riwayat Ashabun sunnan dan berkata Imām Tirmidzī bahwa hadīts ini hadīts hasan)

⇒ Ini dalīl bahwasanya wajibnya bāligh dan beraqal di dalam syarat puasa.

• Syarat keempat adalah Mampu untuk melaksanakannya ibadah puasa (القدرة على الصوم)

Dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

(QS Al-Baqarah: 185)

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar