Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Pembatal-Pembatal Shalat

MATAN KITAB

(فصل) والذي يبطل الصلاة أحد عشر شيئا: الكلام العمد والعمل الكثير والحدث وحدوث النجاسة وانكشاف العورة وتغيير النية واستدبار القبلة والأكل والشرب والقهقهة والردة.

Dan perkara-perkara yang membatalkan shalāt ada 11:

① Berbicara secara sengaja

② Banyak bergerak secara berurutan

③ Hadats

④ Keluar najis atau terkena najis

⑤ Terbuka auratnya tatkala di dalam shalāt

⑥ Merubah niat

⑦ Membelakangi Kiblat

⑧ Makan

⑨ Minum

⑩ Tertawa

⑪ Murtad

قال المصنف

Penulis Rahimahullāh berkata

((والذي يبطل الصلاة أحد عشر شيئا))

Dan perkara-perkara yang membatalkan Shalāt ada 11 perkara

((الكلام العمد))

① Berbicara secara sengaja

Seseorang yang berbicara secara sengaja didalam shalātnya, maka shalātnya batal.

Hal ini berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

مسند أبي داود الطيالسي (2/ 427)

إِنَّ صَلَاتَنَا هَذِهِ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ

“Sesungguhnya shalāt kami ini tidak diperbolehkan sedikitpun ucapan manusia”

(HR Muslim, Abū Dāwūd, An-Nasai)

· Begitu juga hadīts  Zaid bin arqom

توفيق الرحمن في دروس القرآن (1/ 313)

(إنا كنا لنتكلم في الصلاة على عهد النبي – صلى الله عليه وسلم -، يكلم أحدنا صاحبه بحاجته، حتى نزل: {حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ} ، فأمرنا بالسكوت ونهينا عن الكلام) . متفق عليه.

“Bahwasanya kami dulu pada zaman Nabi  Shallallāhu ‘alayhi wa sallam saling berbicara tatkala shalāt , masing-masing mengajak temannya untuk berbicara tentang urusannya, sampai turun ayat

‘Jagalah shalāt -shalāt dan shalāt Al wustha dan berdirilah menghadap Allāh dalam keadaan khusyu’. Maka kemudian setelah itu kami diperintahkan untuk diam tatkala shalāt dan dilarang untuk berbicara.” Muttafaqun ‘alaih

(Diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim)

Namun apabila ucapan itu sedikit  atau ucapan tersebut dikarenakan lupa ataupun karena  jahil (tidak tahu)  maka hal itu ma’fu atau ma’dur dimaafkan dan  tidak membatalkan shalātnya.

((والعمل الكثير المتوالي))

② Banyak bergerak secara berurutan

Yaitu gerakan-gerakan yang diluar gerakan shalāt yang diperintahkan

Didalam mahzab Syāfi’i  3 gerakan secara berurutan baik sengaja ataupun lupa ataupun gerakan seluruh tubuhnya maka shalātnya batal.

Hal ini  berdasarkan hadits Muaiqīb dari Nabi  Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

صحيح مسلم (1/ 388)

حَدَّثَنِي مُعَيْقِيبٌ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ فِي الرَّجُلِ يُسَوِّي التُّرَابَ حَيْثُ يَسْجُدُ، قَالَ: «إِنْ كُنْتَ فَاعِلًا فَوَاحِدَةً»

Kata Rasūlullāh:

“Tatkala beliau mengomentari orang yang sedang meratakan tanah sementara dia sedang sujud, maka kata Beliau ‘Apabila  memang harus dilakukan maka cukup sekali saja’.”

(Hadīts riwayat Muslim)

· Banyak melakukan gerakan yang sia-sia baik dengan tangannya, kakinya, atau anggota tubuhnya yang lain maka ini adalah termasuk perkara yang dapat membatalkan shalāt, (karena) hal itu  menganggu shalatnya dan mengganggu kekhusyu’an  yang ada di dalam shalātnya.

· Gerakan-gerakan yang dilakukan itu adalah cerminan dari hatinya yang tidak konsentrasi di dalam shalāt.

· Jika khusyu’ hatinya, maka anggota tubuhnya pun akan khusyu’ dan tenang serta thuma’ninah, karena thuma’ninah adalah termasuk rukun di dalam shalāt, maka apabila rukun itu hilang maka shalātpun batal.

Adapun yang disebutkan dalam mahzab Syāfi’i bahwasanya 3 kali gerakan secara berturut-turut membatalkan, maka hal ini tidak ada dalilnya.

Yang jelas tidak ada batasan tertentu yang membatasi 3 gerakan baik kurang ataupun lebihnya seseorang bergerak atau menggerak-gerakan anggota tubuhnya maka selama hal itu mengganggu kekhusyu’an shalatnya maka bisa berakibat shalātnya menjadi batal.

Oleh karena itu setiap orang berusaha agar bisa shalāt dalam keadaan tenang dan dalam keadaan Khusyu’agar diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Adapun gerakan yang disana ada maslahat dan diperintahkan untuk dilakukan  maka tidak mengapa, seperti:

√ Menghalangi orang yang hendak melewati kita yang sedang shalāt.

√ Menjauhkan perkara-perkara yang bisa membuat mudharat,

Misalnya :

↝Ada ular

↝Membukakan pintu

↝Lain sebagainya (disana ada mashlahat yang jelas)

((والحدث))

③ Hadats

Baik hadats yang kecil maupun hadats yang besar maka keduanya membatalkan shalāt.

Shalāt tidak akan diterima sampai seseorang bersuci dalam shalātnya

Berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

صحيح البخاري (1/ 39)

«لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ»

“Orang yang sedang hadats tidak diterima shalātnya sampai dia berwudhu atau sampai dia bersuci sampai terangkat hadatsnya.”

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Maksudnya disini yaitu  bersuci dari hadats tersebut yaitu Thaharah.

Seseorang shalāt maka wajib bagi dia untuk berthaharah sebelum shalātnya.

 ((وحدوث النجاسة))

④ Keluar najis atau terkena najis

Dan sudah dijelaskan pada bab sebelumnya dalil-dalilnya maupun penjelasannya tentang najis itu sendiri, kemudian bagaimana  cara menghilangkannya dan juga kewajiban untuk menghilangkan najis tersebut sudah dijelaskan pada halaqah yang lalu.

Point ke 3 dan 4, ini terkait dengan thaharah.

Thaharah  adalah syarat diterimanya shalāt,tatkala syarat itu hilang maka shalātnya pun menjadi batal.

Oleh karena itu wajib untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis.

 (وانكشاف العورة))

⑤ Terbuka auratnya tatkala didalam shalāt

Tentang aurat ini juga sudah dijelaskan baik untuk laki-laki maupun untuk wanita.

Maka apabila seseorang shalāt dan terbuka auratnya maka shalātnya batal, namun apabila tersingkap dan langsung ditutup pada saat itu juga maka shalātnya tetap sah.

Menutup aurat termasuk syarat sahnya  shalāt.

((وتغيير النية))

⑥ Merubah niat

Yaitu apabila seseorang berniat dengan niat shalāt tertentu dan pada saat ditengah shalātnya dia merubah niat shalātnya untuk shalāt lainnya, maka shalātnya tidak sah atau shalātnya tersebut menjadi batal.

Hal ini berdasarkan hadīts  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»

“Sesungguhnya amalan itu  tergantung dari niatnya”

(HR Bukhāri dan Muslim)

Ada beberapa masalah dalam merubah niat ini :

⑴ Jika berniat untuk keluar dari shalāt maka merubah niat dari shalāt menjadi keluar shalāt atau batal shalāt, maka hal ini shalātnya batal dan tidak ada khilaf didalamnya

⑵ Jika merubah niat dari shalāt yang wajib ke shalāt wajib lainnya atau dari shalāt wajib ke shalāt sunnah lainnya, maka yang shahīh dalam mahzab bahwasanya shalātnya batal

Misalnya :

Seseorang niat shalāt dhuhur, ditengah pelaksanaan shalātnya dia teringat kalau sudah masuk waktu ashar dan juga ternyata dia sudah shalāt dhuhur, oleh karena itu dia langsung merubah shalāt yang terlanjur dia lakukan dia rubah,yang tadinya niat shalāt dhuhur kemudian berubah niatnya menjadi shalāt ashar maka hal yang seperti ini tidak sah atau batal shalātnya.

Atau misalnya dia merubah menjadi shalāt sunnah  ba’diyah dhuhur karena dia ingat shalāt sebelumnya shalāt dhuhur dia sudah lakukan maka ini juga batal.

Ataupun shalāt yang lainnya yang tertentu.

⑶ Jika dia berniat sungguh-sungguh ingin membatalkan shalāt setelah dia melaksanakan shalāt, maka pada saat itu otomatis shalātnya batal, walaupun kemudian setelah itu dia kembali lagi bahwasanya ingin melanjutkan shalāt maka pada saat berniat ingin sungguh-sungguh membatalkan shalāt otomatis shalātnya batal dan harus diulang.

⑷ Jika dia ragu-ragu dalam niatnya apakah dia ini sudah berniat keluar shalāt ataukah belum? Atau bagaimana,ada keraguan didalam hati maka disini ada khilaf dikalangan para ulama

Secara umum disebutkan kaedah oleh Syaikh Utsaimin dalam Majmu’ fatawa tentang perpindahan niat, kata beliau :

” تغيير النية إما أن يكون من معيَّن لمعيَّن ، أو من مطلق لمعيَّن : فهذا لا يصح ، وإذا كان من معيَّن لمطلق : فلا بأس .

“Perubahan niat itu ada beberapa kemungkinan, kemungkinannya apakah dari shalāt yang tertentu kepada shalàt lain yang tertentu juga, atau dari shalāt muthlaq ke shalāt yang tertentu, maka kedua bentuk ini tidak sah (Batal shalātnya) namun apabila dari shalāt  tertentu kemudian berubah niatnya menjadi  shalāt muthlaq maka kata beliau tidak mengapa”

  Untuk Shalāt tertentu ke shalāt tertentu

Contohnya:

→ Shalāt dhuhur (tertentu) yaitu dhuhur kemudian berubah niatnya  menjadi shalāt ashar (tertentu), atau menjadi  shalāt sunnah dhuha (tertentu juga) atau berubah niat menjadi shalāt sunnah fajar semisalnya, maka yang seperti ini shalātnya tidak sah atau batal.

Baik perpindahan dari fardhu ke fardhu atau fardhu ke sunnah atau sunnah ke sunnah, maka seperti ini tertentu ke shalat tertentu maka batal.

  Shalāt muthlak ke shalāt tertentu

Misalnya :

→ Seseorang yang sedang mengerjakan shalāt sunnah muthlak (yaitu shalāt sunnah yang dilakukan tanpa sebab apapun, seseorang hanya ingin shalāt kemudian dia shalāt 2 raka’at) kemudian dia ingat ternyata belum shalāt dhuhur maka dia langsung merubah niat shalāt sunnah muthlaknya menjadi shalāt dhuhur, maka ini juga tidak sah atau batal.

Atau merubah pada Shalāt tertentu lainnya maka juga tidak sah atau batal.

  Shalāt tertentu ke shalāt muthlaq

Misal contoh diatas :

→ Seseorang sedang shalāt dhuhur  dan kemudian teringat bahwasanya dia sudah mengerjakan shalāt dhuhur, maka dia boleh mengalihkan niatnya dari shalāt dhuhur (karena sudah dikerjakan shalat dhuhur) di ubah niatnya menjadi shalāt sunnah muthlaq, dan ini tidak mengapa.

Namun kalau tadi (misalnya) niat shalāt dhuhur dia ubah menjadi shalāt tertentu (karena dia sudah selesai shalāt dhuhur) diubah menjadi shalāt sunnah  ba’diyah dhuhur (misalnya) maka ini tidak sah atau  batal Shalātnya.

((واستدبار القبلة))

⑦ Membelakangi kiblat

Membelakangi kiblat atau berpaling dengan sebagian tubuhnya kearah selain kiblat, maka ini shalātnya menjadi batal.

Hal ini berdasarkan firman Allāh Ta’āla,

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Maka palingkanlah wajahmu kearah masjidil Harām”

(Qs. Al-Baqarah :217)

Menghadap kiblat adalah rukun didalam shalāt

Barangsiapa yang menghilangkan rukun tersebut maka shalātnya batal.

((والأكل))

⑧ Makan

((والشرب))

⑨ Minum

Kedua perbuatan ini termasuk pembatal shalāt. kenapa? Karena kedua perbuatan ini adalah perbuatan yang bertentangan dari maksud dan tujuan shalāt, dan juga bertentangan dengan khusyu’ dan juga bertentangan dengan thuma’ninah yang diperintahkan didalam shalāt dan perbuatan tersebut menunjukkan rasa berpaling dari shalāt itu sendiri.

Namun tidak mengapa, jika seseorang lupa atau yang termakan sedikit, atau terpaksa atau tidak sengaja misalnya menelan sisa makanan yang tersangkut di giginya, atau menelan air dari sisa air wudhunya (semisalnya)  maka ini tidak mengapa, adapun yang disengaja kemudian dalam jumlah yang banyak maka ini membatalkan shalāt.

((والقهقهة))

⑩ Tertawa

Yaitu apabila keluar dari lisannya 2 huruf, maka ini dianggap sebagai ucapan, dan sebagaimana tadi sudah disebutkan ucapan manusia didalam shalāt membatalkan wudhu.

3 perkara yang disebutkan sebelumnya yaitu :

⒈ Makan

⒉ Minum

⒊ Tertawa

Jika dilakukan secara sengaja maka ijma’ para ulama shalātnya adalah  batal.

((والردة))

⑪ Murtad

Ini juga membatalkan shalāt berdasarkan firman Allāh Ta’āla,

 وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ

“Barangsiapa yang murtad (keluar) dari agamanya (islam) kemudian mati dalam keadaan kāfir, maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya (batal semua amalannya termasuk shalātnya).”

(Qs. Al Baqarah : 190)

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar