Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Pembahasan Mengenai I’tikāf

Alhamdulilāh, kita kembali mempelajari perkara-perkara di dalam urusan agama, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberkahi kita semua.

Alhamdulilāh, kita masuk pada bab tentang I’tikāf (اعتكاف).

• Secara Bahasa

  الحبس ولزوم  الإقامة علي الشيء

(I’tikāf (اعتكاف) secara bahasa maksudnya) menahan diri, dia berdiam pada satu tempat.

• Secara Syari’at

 حبس النفس في المسجد بنية العبادة

Yaitu berdiam diri di masjid dalam rangka untuk beribadah.

⇒ Jadi yang dimaksud dengan i’tikaf secara syar’i adalah seorang dia berdiam di masjid dengan niat untuk ibadah.

Berkata penulis rahimahullāh:

((والاعتكاف سنة مستحبة وله شرطان))

((Bahwasanya i’tikāf adalah sunnah mustahabah.))

⇒ Hukumnya adalah sunnah yang disukai oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalīlnya adalah hadīts Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّام فَلمَّا كَانَ العَامُ الذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوماً

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beri’tikāf setiap bulan Ramadhān sepuluh hari, dan pada tahun dimana beliau meninggal dunia beliau beri’tikāf selama dua puluh hari.”

(Hadīts riwayat Bukhāri)

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam senantiasa mendawamkan (kontinue) di dalam ibadah i’tikāf ini.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mengqadha tatkala beliau tidak bisa i’tikāf di bulan Ramadhān, beliau qadha dengan i’tikāf di bulan Syawwāl.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau i’tikāf di sepuluh hari terakhir di bulan Syawwāl, sebagai qadha dari bulan Ramadhān, hadīts itu diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Namun yang paling afdhal adalah di bulan Ramadhān, terutama di akhir bulan Ramadhān sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

كان النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قال كان يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam senantiasa beri’tikāf di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān, sampai Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewafatkan beliau.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan petunjuk bahwa i’tikāf pun boleh dilakukan tidak harus sepuluh hari, i’tikāf bisa dilakukan satu hari.

Sebagaimana tatkala ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

“Saya bernadzar waktu saya masih jāhilīyyah untuk beri’tikāf satu hari di masjid harām.”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Tunaikanlah nadzarmu (i’tikāf lah satu malam).”

⇒ Ini menunjukkan bahwanya boleh seseorang beri’tikāf walaupun satu malam.

Berapa masa minimal seseorang dikatakan i’tikāf?

√ Pendapat jumhur di antaranya Abū Hanifah dan juga Imām Syāfi’i:

“Tidak ada batas minimalnya, selama seorang berniat untuk i’tikāf, walau hanya satu jam, dua jam maka dia sudah terhitung i’tikāf.”

√ Pendapat yang lain ada yang mengatakan:

“Minimal satu hari satu malam, berdasarkan hadīts dari ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu. Bahwasanya disebutkan di situ satu malam dan disetujui oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak ada dalīl bahwasanya i’tikāf kurang dari satu malam.”

Yang jelas apabila seorang mampu untuk melaksanakan i’tikāf terutama di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhān dalam rangka berniat untuk ibadah maka hendaknya dia dawwamkan (rutinkan), karena ini adalah salah satu sunnah yang senantiasa dikerjakan oleh Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Penulis rahimahullāh berkata:

((وله شرطان: النية والبث في المسجد))

((Dan i’tikāf ada dua syarat, yaitu: ⑴ Niat ⑵ Berdiam diri di masjid))

• Niat

Adapun niat sebagaimana hadīts yang umum:

 إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan di dalam hatinya.”

Oleh karena itu tatkala seseorang ingin masuk ke dalam masjid dan dia berniat i’tikāf maka dia mendapatkan pahala i’tikāf. Akan tetapi tatkala dia masuk ke dalam masjid tidak meniatkan dalam hatinya untuk i’tikāf walaupun dia berdiam diri di dalam masjid selama sepuluh hari, maka dia tidak terhitung sebagai i’tikāf.

Oleh karena itu perlu diniatkan di dalam hati bahwasanya, “Saya masuk masjid berniat untuk i’tikāf mengikuti sunnah Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

• Berdiam di dalam masjid

Karena tidak disyari’atkan i’tikāf selain di masjid, berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Dan jangan kamu berhubungan (campuri mereka) sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

⇒ Di sini menunjukkan bahwasanya sifat i’tikāf dia adalah berada di masjid.

Dalīl kedua adalah bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam i’tikāf di masjid begitu juga para istri-istri beliau, mereka beri’tikāf juga di masjid.

Seandainya diperbolehkan i’tikāf di rumah atau di tempat lain niscaya istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak i’tikāf di masjid, karena i’tikāf di masjid ada masyaqah (kesulitan) sedangkan di rumah akan lebih nyaman daripada berada di masjid.

Dan masjid yang diperbolehkan adalah seluruh masjid, sebagaimana pendapat jumhur, bukan hanya tiga masjid saja (masjid Harām, masjid Nabawi dan masjid ‘Aqsa), tidak terbatas tiga masjid ini.

Selama disebut sebagai masjid maka diperbolehkan untuk i’tikāf di dalamnya berdasarkan keumuman firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Sedang kamu dalam keadaan i’tikāf di dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

Yaitu:

⑴ Masjid

Bahwasanya i’tikāf dilakukan di dalam masjid, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Dan jangan kamu berhubungan (campuri mereka) sedang kamu beri’tikāf dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

⑵ Berdiam di dalam masjid

⑶ Niat

⇒ Seorang berniat untuk melaksananakan i’tikāf

⑷ Al mutaqif (seorang yang ber i’tikāf itu sendiri)

• Syarat i’tikāf

⑴ Islām

⑵ Akal

⑶ Bersih dari hāidh dan nifās, janābah

Tatkala seseorang berniat untuk i’tikāf, dia harus sadar bahwasanya niatnya beri’tikāf adalah berdiam diri di masjid dalam rangka beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, di sana ada adab-adab yang harus diperhatikan, di antaranya:

⑴ Hendaknya seseorang yang beri’tikāf dia menyibukan diri dengan perkara-perkara yang termasuk dalam keta’atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla  seperti;

√ Membaca Al Qur’ān,

√ Menghafalkan Al Qur’ān,

√ Mengajarkan Al Qur’ān,

√ Belajar Al Qur’ān,

√ Beribadah shalāt sunnah maupun wajib,

√ Menyibukkan diri dengan pelajaran-pelajaran agama yang bermanfaat untuk dirinya.

⑵ Tidak menyibukan diri dengan perkara-perkara yang melalaikan, seperti menyibukkan diri dengan facebook, twitter, hp atau perkara-perkara lain yang banyak menimpa kaum muslim. Atau perkara lain yang melalaikan yang banyak dilakukan oleh kebanyakan orang.

⑶ Hendaknya dia berpuasa, walaupun di sini ada khilāf apakah i’tikāf disyaratkan puasa atau tidak.

Madzhab syāfi’i menyatakan bahwa i’tikāf tidak disyaratkan berpuasa akan tetapi apabila seseorang berpuasa pada hari itu maka ini lebih afdhal.

⑷ Hendaknya dia menjaga lisannya dari perkara-perkara yang buruk seperti mengghibah atau mencela, mencaci maki dan sebagainya.

⇒ Intinya seorang berusaha bagaimana dia mendapatkan keridhāan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam i’tikāfnya.

Kita lanjutkan perkataan mualif rahimahullāh:

(( ولا يخرج من الاعتكاف المنذور إلا لحاجة الإنسان))

((Bahwa seorang hendaknya tidak keluar dari i’tikāf yang wajib (i’tikāf nadzar) kecuali kebutuhan-kebutuhan manusiawi [seperti makan, minum].))

Jika seseorang keluar dari masjid karena ada kebutuhan seperti untuk makan, minum, buang air besar atau kecil misalnya maka ini tidak membatalkan i’tikāfnya.

Termasuk perkara-perkara yang membatalkan i’tikāf adalah seseorang yang keluar tanpa ada udzur syari’ adapun hajatul insan adalah termasuk udzur syari’.

Hal ini sebagaimana hadīts dari Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, beliau (Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā) menceritakan tentang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيُدْخِلُ عَلَىَّ رَأْسَهُ وَهْوَ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةٍ، إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

“Bahwasanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memasukan kepalanya dan saat itu beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sedang berada di dalam masjid kemudian rambut beliau disisiri oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak masuk ke dalam rumah kecuali untuk hajat (buang air, makan minum dan sebagainya) apabila beliau dalam keadaan i’tikāf.”

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya rumah Beliau bersebelahan dengan masjid dan di sana ada jendela dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memasukan kepalanya sedang badan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berada di dalam masjid kemudian rambut Beliau disisiri oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

⇒ Ini adalah keadaan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Beliau tidak keluar dari i’tikāfnya. Beliau menjaga i’tikāfnya.

Kemudian mualif rahimahullāh berkata:

(( أو عذر من حيض أو مرض لا يمكن المقام معه))

((Karena terhalang oleh hāidh atau sakit yang tak memungkinkan orang berdiam di masjid.))

Atau udzur dari hāidh maka seorang boleh keluar dari i’tikāfnya.

Karena i’tikāf adalah ibadah dan hendaknya kita tidak membatalkan ibadah kecuali karena udzur syari’, ini dalam rangka menjaga hurmatul ibadah (keagungan dari ibadah tersebut).

Maka seorang apabila mendapat hāidh hendaknya ia keluar dari masjid.

Atau seorang terkena sakit demam yang tinggi atau lainnya dimana apabila dia berada di dalam masjid semakin memberikan kemudharatan maka hendaknya dia keluar dari masjid dan menyelesaikan i’tikāfnya.

Berkata penulis rahimahullāh:

(( ويبطل بالوطء))

((Dan  i’tikāf batal karena sebab persetubuhan (hubungan intim).))

Hal ini berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Dan jangan kamu berhubungan (campuri mereka) sedang kamu beri’tikāf dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

Dan para ulamā menyebutkan bahwa seorang apabila melakukan jimā’ maka secara otomatis i’tikāfnya batal berdasarkan dalīl dari Al Qur’ān yang sudah disebutkan di atas.

Adapun al mubasarah (bersentuhan yang lainnya selain jimā’), apabila bersentuhan tanpa syahwat, maka tidak mengapa sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memasukan kepalanya lalu disisir oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā maka ini tidak mengapa.

Akan tetapi apabila bersentuhan dan di sana ada syahwat kemudian keluar mani (inzal) maka ini membatalkan i’tikāfnya. Kalau tidak sampai keluar mani maka ini adalah perkara yang muharam karena dia sedang beri’tikāf di masjid Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla  berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۞ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’ān ) pada malam kemuliaan⑴. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?⑵. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan⑶. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibrīl ) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan⑷. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar ⑸.”

(QS Al Qadr: 1-5)

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Di dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan yang besar tentang malam lailatul qadr.

⑴ Pada malam tersebut diturunkan Al Qur’ān, ini adalah satu mu’zijāt yang besar bagi kaum muslimin.

⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan satu uslub yang menunjukkan bahwa malam ini adalah malam yang agung, dengan cara bertanya:

 وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengajak orang-orang yang membaca ayat ini untuk berpikir: “Tahukah kalian malam kemuliaan itu?”

⑶ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan ibadah yang ada pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik daripada 83 tahun. Satu malam disetarakan bahkan lebih baik dari ibadah selama 83 tahun (Subhānallāh).

Ini adalah keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga umur mereka walaupun sedikit (60 sampai 70 tahun), akan tetapi Allāh panjangkan umurnya dengan amalan yang sedikit tersebut yaitu pahalanya lebih banyak daripada orang yang memiliki umur yang panjang pada umat-umat sebelumnya.

⑷ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan malāikat dan Jibrīl, ini menunjukkan satu keutamaan yang luar biasa, dimana Allāh tidak menurunkan pada malam-malam lainnya.

⑸ Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan malam tersebut malam yang penuh dengan kesejahteraan.

⑹ Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni orang-orang yang beribadah penuh dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla  pada malam tersebut.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhān atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allāh, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 38 dan Muslim nomor 760)

Dan Allāh khususkan satu malam yang mulia:

مَن قام ليلةَ القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه

“Barangsiapa yang beribadah (shalāt) pada malam lailatul qadr dengan penuh iman dan berharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla  maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Kapan malam lailatul qadr?

Malam lailatul qadr adalah malam di antara malam-malam bulan Ramadhān, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla  berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’ān.”

(QS Al Baqarah: 185)

Artinya pada malam-malam di antara malam bulan Ramadhān ada di sana malam yang diturunkannya Al Qur’ān yaitu malam lailatul qadr.

Kapan waktunya?

Di sana para ulamā sebagaimana disebutkan oleh Imām Al hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, para ulamā berselisih sampai 40 pendapat kapan waktunya lailatul qadr.

Dan jumhur, kebanyakan mereka, menyebutkan malam lailatul qadr adalah pada sepuluh hari yang terakhir berdasarkan hadīts Abī Saīd Al Khudriy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda:

فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Maka carilah malam tersebut pada sepuluh hari yang terakhir.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2018)

Dan kebanyakan mereka juga menyebutkan bahwasanya malam kemulian (lailatul qadr) berada pada waktu-waktu yang ganjil (malam-malam ganjil) di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts di mana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhān.”

Oleh karena itu Ikhwān Fīddīn A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Seorang yang bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir paling tidaknya dan apabila mungkin di bulan Ramadhān secara keseluruhannya maka, in syā Allāh, dia akan mendapatkan malam lailatul qadar dengan sebaik-baik keadaan. Karena pada hakikatnya setiap orang akan melalui dan akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Setiap orang akan melewati malam lailatul qadar. Akan tetapi pertanyaannya, pada saat malam tersebut apa yang kita lakukan?

Sebagian orang (wal iyaadzu billāhi) ada yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sebagian orang ada yang menyibukkan dengan perkara-perkara yang sia-sia, mengunjing sana sini (berghibah) dan lain sebagainya.

Bahkan dia menonton tontonan yang tidak diperbolehkan di dalam Islām. Dan sebagian ada yang melewati waktu-waktunya dengan tidur.

Dan sebagian yang Allāh beri taufīq, ia melewatkan waktu malam lailatul qadar ini dengan penuh beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh dengan membaca Al Qur’ān, berdzikir, shalāt malam, shalāt tarawih bersama imam dan ia bermuhasabah pada malam tersebut. Ini adalah orang-orang yang diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, disyariatkan i’tikāf dalam rangka kita mendapatkan malam yang mulia ini. Ini adalah kesempatan yang sangat rugi sekali apabila seorang melewatkannya.

Orang yang tidak diberikan taufīq untuk mendapatkannya sesungguhnya dia adalah orang yang tercegah dari kebaikan, orang yang merugi.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau adalah orang yang terbaik, beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik yang terdahulu maupuan yang akan datang, beliau bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam ini.

Dalam sebuah hadīts disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān lebih daripada malam-malam yang lainnya.”

Bahkan dalam hadīts lain:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ  أَهْلَهُ.

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān beliau mengencangkan sarungnya dan menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

⇒ Ini menunjukkan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak bersenang-senang (mendekati istrinya), tetapi beliau bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu hendaknya kita bersungguh-sungguh menjadikan sunnah i’tikāf sebagai sunnah yang kita berusaha untuk mewujudkannya. Kita singkirkan kesibukan-kesibukan dunia yang selama ini melalaikan diri kita.

Minimal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān kita bermuhasabah, kita bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh membaca Al Qur’ān, banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita untuk bisa melaksanakan sunnah Nabi kita (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk beri’tikāf.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita agar kita mendapatkan malam yang mulia, memberikan hidayah kepada kita agar hati kita senantiasa senang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang bisa disampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar