Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Pembagian Jenis Air berdasarkan Penggunaannya dalam Thahārah

Berkata Muallif (Pengarang) rahimahullāhu Ta’āla:

((ثم المياه على أربعة أقسام))

((Kemudian pembagian air ada 4 macam))

Pembagian 4 macam ini di dalam mahdzab Syāfi’iyyah, dimana 3 macam adalah masyhūr di kalangan para fuqahā dan 1 macam khusus di dalam madzhab Syāfi’iyyah.

Tiga macam yang masyhūr di dalam pembagian oleh para fuqahā:

⑴ AIR YANG THAHŪR

Yaitu air yang suci dan mensucikan.

Contoh: Air hujan.

⑵ AIR YANG THĀHIR

Yaitu air yang suci namun tidak mensucikan.

Contoh: (-) air teh dan (-) air musta’mal.

⑶ AIR YANG NAJIS

Yaitu air yang terkena benda najis dan air tersebut kurang dari 2 qullah. Atau disyaratkan berubah untuk lebih dari 2 qullah.

Kemudian pembagian yang KHUSUS di dalam madzhab Syāfi’ī yaitu:

⑷ AIR YANG THAHŪR WA MAKRUH

Air yang suci dan mensucikan akan tetapi air tersebut makruh untuk digunakan, yaitu air musyamasy.

Berkata Muallif (Pengarang) rahimahullāhu setelah menjelaskan bahwasanya pembagian air ada 4 macam;

((طاهر ومطهر غير مكروه وهو الماء المطلق))

((Air yang suci dan mensucikan yang dan dia tidak makruh penggunaannya, maka ini adalah air mutlak))

Para ikhwah fiddīn a’āzaniyallāhu wa iyyākum (semoga Allāh memuliakan kita),

Air ini adalah:

√ Air yang digunakan untuk kita bersuci.

√ Air yang dia dapat mengangkat hadats dan menghilangkan najis.

√ Dia adalah air mutlak.

Dan apa itu air mutlak?

Dikatakan para ulama:

◆ كل ماء بقي على وصفه التي خلقه الله عليه

◆ Yaitu setiap air yang dia masih tetap pada sifat aslinya yang Allāh ciptakan dia (air tersebut).”

Maka ini disebut sebagai air mutlak, yaitu setiap air yang dia tetap pada sifat asli yang Allāh ciptakan dia dengannya.

Kemudian, atau kita katakan:

◆ كل ماء نزل من السماء أو نبع من أرض بدون أن يغيره إستخدام البشر و هذا و ماؤه طهور

◆ Setiap air yang dia turun dari langit atau muncul ke permukaan dari bumi dan tidak berubah dengan penggunaan manusia maka ini adalah air yang thahūr (suci dan mensucikan).”

Apa yang dimaksud dengan:

بقي على أصله القطعه

“Dia tetap pada sifat asalnya.”

Yaitu maksudnya adalah tidak berubah 3 sifat asli yang terkait dengan warna, maupun baunya, maupun rasanya.

◆ Apabila berubah salah satu saja maka air tersebut berubah dari sifat aslinya sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci.

◆ Apabila berubah karena benda yang suci maka dia menjadi air yang suci dan tidak mensucikan.

◆ Apabila berubah dikarenakan benda yang najis maka dia menjadi air yang najis yang tidak suci dan tidak mensucikan.

Kemudian perlu diketahui bahwa perubahan air disebabkan benda yang suci ada 2 macam;

⑴ Perubahan yang tidak mungkin dihindari.

Seperti misalnya air sungai yang mengalir di tanah atau di batu kapur atau di permukaan lain yang menyebabkan perubahan warna, bau maupun rasanya.

Walaupun berubah akan tetapi air tersebut tetap memiliki predikat thahūr (suci dan mensucikan).

Berbeda apabila perubahan yang kedua yaitu;

⑵ Perubahan yang bisa dihindari.

Seperti air teh, ini bisa dihindari. Maka apabila air kemudian diberi dengan teh dan berubah warna, rasa dan baunya atau salah satunya maka dia menjadi air yang suci namun tidak mensucikan.

Oleh karena itu, air disebut air mutlak adalah air yang apabila kita menyebutkan kepada orang lain “air” maka akan terbetik di dalam pikirannya air yang dimaksud yaitu air yang masih tetap pada sifat penciptaannya yang pertama kali.

MATAN KITAB:

ثم المياه على أربعة أقسام طاهر مطهر، مكروه وهو الماء المشمس وطاهر غير مطهر وهو الماء المستعمل والمتغير بما خالطه من الطاهرات وماء نجس

Jenis air ada 4 (empat) yaitu:

⑴ Air suci dan mensucikan; ⑵ Air yang makruh yaitu air musyammas; ⑶ Air suci tapi tidak meyucikan yaitu air mustakmal dan air yang air berubah karena kecampuran perkara suci; ⑷ Air najis.

(Fiqh At-Taqrīb Matan Abū Syujā’)

➖➖➖➖➖➖➖➖

Para Sahabat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, pada kesempatan ini kita akan membahas macam-macam air berikutnya. Ini adalah pembagian yang kedua. Sebelumnya kita sudah sebutkan pada pembagian yang pertama طَاهِرٌ وَ مُطَهِّرٌ, yang disebut sebagai air mutlak, di mana dia air suci dan mensucikan.

Adapun pembagian yang kedua di sini:

قال المصنف رحمه الله:

Penulis menyebutkan:

((طَاهِرٌ وَ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ اِسْتِعْمَالُهُ وَهُوَ المَاءُ الْمُشَمَّسُ))

((Air yang suci dan dia bisa mensucikan, akan tetapi dia makruh penggunaannya dan disebutkan yaitu air musyammas))

Apa maksudnya air musyammas?

Air musyammas yaitu air mutlak yang berada di dalam bejana logam selain emas dan perak, yang dia terkena terik matahari yang sangat.

Jadi, disyaratkan di dalam madzhab Syāfi’ī ini ada 2 syarat bahwasanya dia dikatakan sebagai air musyammas:

• ⑴ Dia berada di dalam bejana logam selain emas dan perak.

Karena logam-logam tersebut akan terpengaruh oleh sengatan matahari, dimana partikel-partikel dari logam tersebut akan larut dan memberikan mudharat bagi orang yang menggunakannya.

• ⑵ Air tersebut terkena terik matahari yang sangat kuat.

Jadi,

◆ Apabila air mutlak atau air berada dalam logam bejana emas dan perak atau pun selain logam maka tidak dikatakan sebagai air musyammas.

Ataupun,

◆ Berada di dalam daerah yang tidak memiliki terik matahari yang sangat, maka juga tidak dikatakan sebagai air musyammas.

Dan pembagian ini adalah KHUSUS di dalam madzhab Syāfi’ī, di mana jumhur yang lain tidak melihat adanya pembagian air suci dan mensucikan namun makruh penggunaannya.

Di antara dalil-dalil yang digunakan oleh Syāfi’iyyah adalah beberapa hadits yang tidak lepas dari riwayat yang dha’īf. Di antaranya adalah hadits Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan:

أَنَّ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: نَهَي عَائِشَةَ رَضِى الله تعالى عَنْهَا عَنِ المُشَمَّسِ, وَقَالَ: إِنَّهُ يُورِثُ البَرَصَ

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang ‘Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anha untuk menggunakan air musyammas dan Beliau bersabda: ‘Karena air tersebut bisa menimbulkan penyakit kusta (yaitu penyakit barash)’.”

(HR Imam Daruquthni dengan derajat hadits yang dha’īf)

Sehingga tidak dapat digunakan sebagai sandaran.

Oleh karena itu pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwasanya:

✓Air musyammas tidaklah makruh.

✓Dia seperti air mutlak yang lainnya yang suci & mensucikan.

✓Setiap orang bisa menggunakannya.

Dan pendapat ini di rajihkan pula oleh Imam Nawawi Asy-Syāfi’ī dalam kitab Ziyādatur Raudhah, beliau berkata:

وَهُوَ الرَّاجِحُ من حَيْثُ الدَّلِيل وَهُوَ مَذْهَب أَكثر الْعلمَاء وَلَيْسَ للكراهية دَلِيل يعْتَمد

“Pendapat ini adalah pendapat yang rajih jika menilik dari dalil yang digunakan. Dan dia adalah madzhab kebanyakan para ulama (mayoritas para ulama). Dan untuk pendapat makruhnya penggunaan air musyammas tidak ada dalil yang bisa dijadikan sebagai sandaran.”

MATAN KITAB

وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَهُوَ اْلمَاءُ اْلمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ

وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ

Jenis yang suci namun dia tidak mensucikan, yaitu air musta’mal (air bekas) & air yang berubah karena tercampur dengan benda-benda suci.

Air yang berubah disebabkan tercampur dengan benda-benda suci

〰〰〰〰〰〰〰〰

Pada penjelasan kali ini penulis ingin menjelaskan bagian ke-3 dari jenis air dari sisi thaharahnya, yaitu “Jenis yang suci namun tidak mensucikan”.

قال المصنف رحمه الله:

((وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَهُوَ اْلمَاءُ اْلمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ))

((Jenis yang suci namun dia tidak mensucikan, yaitu air musta’mal (air bekas) & air yang berubah karena tercampur dengan benda-benda suci))

Dua jenis ini termasuk air yang suci namun tidak mensucikan (thāhir ghairu muthahhir).

Disini Penulis menjelaskan tentang:

● PERTAMA

Air bekas (air musta’mal)

Apa yang dimaksud air bekas? Adalah air bekas cucian dari thahārah yang wajib. Misalnya:

• Wudhū’ yang wajib

• Mandi yang wajib

Maka air bekas tersebut dikatakan sebagai air musta’mal, yang mana di dalam madzhab Syāfi’ī, air musta’mal ini termasuk air yang suci tapi dia tidak bisa mensucikan.

Akan tetapi, pendapat yang benar adalah pendapat jumhur yang mengatakan bahwasanya:

√ Air musta’mal itu adalah tetap dia air mutlak selama tidak berubah warnanya, baunya maupun rasanya, yang bisa digunakan untuk bersuci.

Dalil:

Sebuah hadits dari Abū Daud rahimahullāh, yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu, beliau berkata,

اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَتَوَضَّأَ مِنْهَا أَوْ يَغْتَسِلَ فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَاءَ لَا يُجْنِبُ

Bahwasanya salah seorang dari istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mandi dari sebuah bejana. Kemudian datang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin berwudhu dari bejana tersebut (ingin mandi).

Berkata istri Beliau:

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya tadi saya itu junub (mandi junub).”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun berkata:

“Sesungguhnya air itu tidak junub.”

Ini adalah dalil bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggunakan air bekas cucian (air musta’mal), bekas thahārah wajib dan digunakan untuk bersuci (berwudhū’).

Dan ini menunjukkan bahwasanya pendapat jumhur-wallāhu a’lam-lebih rajih (lebih kuat), bahwasanya:

√ Air musta’mal selama dia masih bersifat sebagai air mutlak (yang tidak berubah warna, bau maupun rasanya) maka dia bisa digunakan untuk bersuci.

Wallāhu a’lam.

● KEDUA

Kemudian yang ke-2 yang disebutkan sebagai jenis air yang thāhir ghairu muthahhir (suci tapi tidak mensucikan) yaitu:

((وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ))

((Air yang berubah disebabkan tercampur dengan benda-benda suci))

Kita bisa lihat bahwasanya:

◆ ⑴ Yang tercampur adalah benda-benda suci.

Jika benda-benda najis maka dia tidak termasuk pada jenis ini.

◆ ⑵ Air mutlak tersebut berubah, baik warnanya, baunya maupun rasanya.

Salah satu dari sifat ini apabila berubah maka dia tercabut dari sifat mensucikan, maka dia termasuk jenis yang suci namun tidak mensucikan.

Contohnya: Air teh

Tatkala air mutlak kemudian dicampur teh maka berubah menjadi air teh, berubah warnanya, bau atau rasa maka air teh ini tidak dapat digunakan untuk berwudhū’ atau bersuci.

Kemudian contoh lainnya misalnya:

• Air kopi

• Air susu

• Dan contoh-contoh yang lainnya.

Disebutkan oleh para ulama, diantara PATOKAN dalam perubahan tadi adalah:

• ⑴ Sebuah perubahan yang JELAS.

Jadi apabila perubahannya tidak jelas atau sangat sedikit sekali maka tidak merubah sifat air mutlak tadi, dari sifatnya sebagai air yang suci dan mensucikan.

Namun, apabila perubahannya itu jelas maka dia akan mencabut sifatnya dari sifat mensucikan menjadi sifat yang suci namun tidak mensucikan.

Kemudian yang kedua,

• ⑵ Perubahan tersebut disebabkan benda-benda suci yang DAPAT DIHINDARI.

Contohnya: teh, kopi.

Ini bisa dihindari. Apabila bercampur dengan benda-benda tersebut maka sifat air mutlak menjadi thāhir ghairu muthahhir (suci namun tidak mensucikan).

Apabila tercampur dengan benda-benda suci yang tidak dapat dihindari. Contohnya:

⑴ Air sungai yang tercampur dengan lumpur yang kemudian berubah warnanya, baunya maupun rasanya.

⑵ Mata air yang tercampur dengan daun-daun yang berguguran sehingga merubah sifat warnanya, baunya maupun rasanya.

Yang semua itu tidak dapat dihindari maka air tersebut TETAP pada sifat asalnya yaitu thāhir wa muthahhir (suci dan mensucikan).

MATAN KITAB

وماء حلت فيه نجاسة وهو دون القُلَّتين أو كان قلتين فتغير

Dan air yang tercampur ke dalamnya benda-benda yang najis, Dan dia air yang kurang dari 2 qullah, Jika air tersebut 2 qullah atau lebih dan berubah

~~~~~~~~

● AIR NAJIS

قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللّهُ:

((وماء حلت فيه نجاسة))

((Dan air yang tercampur ke dalamnya benda-benda yang najis))

Disini dibahas tentang air mutlak yang dia tercampur atau terjatuh ke dalamnya benda-benda najis, baik dia secara langsung ataupun secara tidak langsung.

◆ Secara langsung, benda tersebut jatuh kedalam air tersebut.

◆ Secara tidak langsung jika dengan melalui peresapan atau perembesan dan lain sebagainya.

Maka hukumnya disini dibedakan di dalam Madzhab Syāfi’ī tentang air tersebut apakah banyak atau sedikitnya. Disebutkan:

⑴ Apabila air kurang dari 2 qullah

⑵ Apabila air 2 qullah atau lebih.

Dan qullah adalah ukuran volume air, yang nanti akan dijelaskan oleh beliau pada akhir pembahasan.

※ PERTAMA

((وهو دون القُلَّتين))

((Dan dia air yang kurang dari 2 qullah))

Air yang kurang dari 2 qullah apabila terkena najis maka hukumnya adalah air yang najis walaupun dia tidak berubah baik sifat, warna, bau maupun rasa, jadi tidak berubah sifatnya. Maka tetap air tersebut adalah air yang najis.

※ KEDUA

((أو كان قلتين فتغير))

((Jika air tersebut 2 qullah atau lebih dan berubah))

Berubah apanya? Berubah sifatnya, baik warna, bau maupun rasanya.

Dan disini, 2 qullah atau lebih yang tercampur ke dalamnya najis (misalnya bangkai, air kencing atau lainnya) kemudian merubah salah satu sifat air tersebut maka walaupun dia 2 qullah ataupun lebih maka air tersebut menjadi air yang najis.

Namun apabila dia tidak berubah salah satu sifatnya, maka air tersebut merupakan air yang suci dan mensucikan.

Dalil: Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ النَّجَسَ)

“Apabila air telah mencapai 2 qullah maka dia tidak mengandung khabats.” (atau dalam riwayat lain: najis).

(Hadits shahih riwayat Abū Dāwūd dan Imam Tirmidzi)

Didalam pemahaman hadits ini disebutkan bahwasanya air terbagi menjadi 2 :

⑴ Apabila lebih dari 2 qullah

⑵ Apabila kurang dari 2 qullah

√ Dan apabila kurang dari 2 qullah maka dia terpengaruh dengan adanya najis.

√ Namun apabila air mencapai 2 qullah atau lebih maka dia tidak berpengaruh dengan adanya najis.

Ini adalah pendapat dalam madzhab Syāfi’ī dan juga pendapat Imām Abū Hanifah dan Imām Ahmad, yang merupakan pendapat jumhur (mayoritas ulama).

Namun disana ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwasanya:

“Selama air tersebut tidak berubah sifatnya baik sedikit maupun banyak maka air tersebut adalah tetap suci dan mensucikan.”

Ini pendapat Imām Mālik, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, yang diperkuat oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz.

Kemudian beliau mengatakan:

((والقلتان خمسمائة رطل بالعراقي))

((Dan 2 qullah itu sama dengan 500 rithl ‘iraqi))

Qullah yang dimaksud disini oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah qullah dari negeri Hajar.

Berkata Imām Syāfi’ī,

رأيت قلال هجر، والقلة تسع قربتين، أو قربتين ونصف

“Bahwasanya saya sudah pernah melihat qullah-qullah yang ada di negeri Hajar dan 1 qullah itu dia bisa untuk memenuhi 2 qirbah atau 2,5 qirbah.”

√ Qirbah adalah kantung-kantung untuk menampung air.

√ 1 qirbah sekitar 100 rithl ‘iraqi.

√ Jadi 2 qullah = 5 qirbah= 500 rithl ‘iraqi.

Qullah adalah tempat menyimpan air yang terbuat dari batu atau biasa kita sebut sebagai bak air.

Ukuran pasti dari qullah sendiri berbeda-beda disebutkan oleh para fuqaha atau para ulama.

√ Ada yang menyatakan dengan ukuran volume yaitu sekitar 60 cm kubik atau sekitar 216 liter.

√ Ada yang disebutkan seperti diatas (500 rithl ‘iraqi).

Dimana 1 rithl = 406,25 gram.

Jadi, 500 rithl ‘iraqi = 203,125 kg = 203,125 liter

Dalam kitab Fiqih muyassar disebutkan bahwa:

1 qullah = 93,075 shā’ = 160,5 liter.

Oleh karena itu, sebagaimana diperkuat oleh Syaikh ‘Utsaimin rahimahullāh bahwasanya yang benar adalah TIDAK ADA UKURAN YANG STANDAR (PASTI) UNTUK 2 QULLAH.

Dan yang dimaksudkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits adalah air yang banyak dengan perkiraan 2 qullah yang disebutkan sebagai qullah Hajar (qullah dari negeri Hajar).

Demikian yang bisa kita sampaikan.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar