Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Muqodimah Pembahasan Puasa

Pelajaran kita, masuk pada: كتاب الصيام (Kitāb yang membahas masalah puasa).

Sebelum kita masuk pada pembahasan yang ada di dalam matan Abū Syujā’, maka ana mengingatkan pada diri ana pribadi, kepada sahabat sekalian tentang keutamaan-keutamaan puasa.

Karena puasa ini adalah ibadah yang sangat mulia dan kita berharap dengan kita mengetahui keutamaan-keutamaan tersebut kita dapat menghadirkan di dalam hati kita, kita berpuasa dengan penuh semangat dan penuh harap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh.

⑴ Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengandengkan amalan puasa kepada Allāh, menjadikan bahwasanya amalan itu adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menunjukkan bahwasanya amalan tersebut adalah amalan yang sangat mulia, sebagaimana yang disebutkan didalam sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya beliau berkata, Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda di dalam hadīts qudsi.

Allāh Ta’āla berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Seluruh amalan anak Ādām adalah untuk dia kecuali shiyām, karena sesungguhnya puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

[Muttafaqun ‘alaih]

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di sini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengidhafahkan (menyandarkan) bahwasanya amalan puasa adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla, padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak butuh amalan hamba-hamba-Nya.

Allāh Maha Kaya, akan tetapi disini Allāh ingin menunjukkan bahwasanya amalan tersebut (amalan puasa) adalah amalan yang sangat mulia sehingga Allāh mengatakan:

 فَإِنَّهُ لِي

“Bahwa amalan tersebut adalah untuk-Ku.

Ini menunjukkan kemuliaan dari amalan tersebut.

⑵ Bahwasanya puasa adalah termasuk amalan yang paling afdhal di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia adalah amalan shālih yang tidak ada bandingannya.

Dari Abī Umāmah Al Bāhiliy radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِأَمْرٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهِ

“Yā Rasūlullāh, perintahkan saya dengan sesuatu hal yang Allāh berikan manfaatnya kepada saya dengan perkara tersebut ?”

قَالَ عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Berpuasalah kamu, karena sesungguhnya tidak ada yang semisalnya (tidak ada bandingannya).”

(Hadīts riwayat Imām Ahmad, An Nassā’i dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

⑶ Bahwasanya puasa itu adalah perisai dari penyakit syahwat dunia dan juga dari adzab di akhirat.

Sebagaimana sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Puasa adalah perisai, maka jangan lah berbuat rafats dan berbuat sesuatu hal yang sia-sia, apabila ada seorang yang mengajak berkelahi atau mencelanya maka katakanlah, “Saya ini berpuasa, saya ini berpuasa.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1894)

Rafats adalah perkara-perkara yang terkait dengan perkara-perkara antara laki-laki dan wanita (perkara jorok) dan lain sebagainya.

Dalam hadīts yang lain yang diriwayatkan dari Abū Hurairah bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَحِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ النَّارِ

“Bahwasanya puasa itu adalah perisai yang kuat dari api neraka dia akan membentengi seseorang dari api neraka.”

(Hadīts riwayat Imām Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

⑷ Orang yang berpuasa mendapatkan pahala sabar, karena orang yang berpuasa melakukan atau dia bersabar pada tiga hal, yaitu:

⒈ Bersabar melaksanakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (berpuasa).

⒉ Bersabar dari perbuatan maksiat.

⒊ Bersabar akan taqdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

 إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

(QS Az Zummar: 10)

⇒ Orang yang berpuasa mendapatkan pahala orang yang bersabar.

⑸ Orang yang berpuasa dia menjadikan puasanya tersebut sebagai kafarah (penebus dosa atau kesalahan-kesalahan yang dia lakukan).

Sebagaimana di dalam sebuah hadīts dari Hudzaifah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ

”Ujian seseorang itu ada pada keluarganya, hartanya, pada dirinya, pada anaknya maupun pada tetangganya. Maka hal itu akan ditebus dengan berpuasa juga shalāt dan sedekah, begitu juga perbuatan amar ma’ruf nahi munkar.”

(Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Maksud “fitnaturrajul” (فِتْنَةُ الرَّجُلِ) di sini yaitu ujian.

Manusia itu senantiasa diuji. Baik pada dirinya, anaknya sehingga terkadang dia berbuat salah berbuat dosa, maka sebagai kafarahnya (penebusnya) adalah dengan dia berpuasa.

⑹ Bagi orang yang senantiasa melaksanakannya (puasa),  maka puasa itu akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafā’at, setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagaimana hadīts dari Abdullāh bin Amr radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al Qur’ān akan memberikan syafā’at kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata:

“Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafā’at karenaku.”

Al Qur’ān pun berkata:

“Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafā’at karenaku.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka keduanya akan memberi syafā’at.”

(Hadīts riwayat Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

⑺ Puasa juga bisa menyebabkan seorang masuk ke dalam surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Di mana surga adalah angan-angan (cita-cita) setiap kita.

Hadīts yang menyebutkan tentang hal itu adalah hadīts dari Sahl bin Sa’ad radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan pintu Ar Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Dia pintu tersebut berkata:

“Di mana orang yang berpuasa?”

Maka yang berpuasa pun masuk, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang puasa, maka ditutuplah pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya.

(Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

⑻ Puasa itu termasuk amal yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla janjikan ampunan yang sangat besar bagi orang-orang yang berpuasa.

Dalam sebuah ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَـٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ وَٱلْقَـٰنِتِينَ وَٱلْقَـٰنِتَـٰتِ وَٱلصَّـٰدِقِينَ وَٱلصَّـٰدِقَـٰتِ وَٱلصَّـٰبِرِينَ وَٱلصَّـٰبِرَٰتِ وَٱلْخَـٰشِعِينَ وَٱلْخَـٰشِعَـٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَـٰتِ وَٱلصَّـٰٓئِمِينَ وَٱلصَّـٰٓئِمَـٰتِ وَٱلْحَـٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَـٰفِظَـٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allāh, Allāh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

(QS Al Ahzāb: 35)

Jadi disini orang yang berpuasa termasuk yang dijanjikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mendapatkan maghfirah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan juga pahala yang besar.

Kemudian,

⑼ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, sebagaimana di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagian yang membahagiakan mereka. Apabila dia berbuka maka dia berbahagia dan jika bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla  mereka gembira karena puasa yang dilakukannya.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⑽ Udara atau bau yang keluar dari mulut orang yang berpuasa di sisi Allāh lebih indah (lebih baik)  daripada bau minyak wangi (misk).

Sebagaimana dalam sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allāh daripada bau misk yang paling wangi.”

⑾ Do’a orang yang berpuasa mustajāb.

Dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ثلاث دعوات مستجابات : دعوة الصائم ، ودعوة المظلوم ودعوة المسافر

“Ada tiga do’a yang dikabulkan, do’a orang yang berpuasa, do’anya orang yang dizhālimi, dan do’anya musāfir.”

(Hadīts riwayat Al Baihaqī dan At Thabrani dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

⑿ Puasa akan mensucikan jiwa seseorang sebagaimana sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām An Nassā’i.

 ألا أُخْبِرُكُمْ بِمَا يُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ صَوْمُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر

“Maukah aku kabarkan kalian sesuatu yang bisa menghilangkan kedengkian atau panasnya yang ada di dalam jiwa seseorang ? Puasa tiga hari setiap bulannya.”

Puasa tiga hari setiap bulannya ini bisa menghilangkan kedengkian atau kerusakan yang ada di dalam hati.

⒀ Orang yang menutup hidupnya dengan berpuasa akan masuk ke dalam surga.

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

من صام يوما ابتغاء وجه الله ختم له به دخل الجنة

“Barangsiapa yang berpuasa pada satu hari yang dia mengharapkan wajah Allāh (keridhāan Allāh) dan dia tutup dengan puasa tersebut maka dia akan masuk ke dalam surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(Hadīts shahīh riwayat Ahmad di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

(14) Puasa menjadi jalan pada kamar-kamar yang ada di dalam surga, ini adalah salah satu keutamaannya sebagaimana sebuah hadīts.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن في الجنة غرفاً تُرى ظهورها من بطونها، وبطونها من ظهورها، فقام أعرابي فقال: لمن هي يا رسول الله قال: لمن أطاب الكلام، وأطعم الطعام، وأدام الصيام، وصلى لله بالليل والناس نيام

Sesungguhnya di dalam Surga ada sebuah kamar yang terlihat bagian luarnya dari dalam dan bagian dalamnya dari luar. Lalu seorang Arab Badui berkata:

“Untuk siapakan itu wahai Rasūlullāh?”

Beliau bersabda:

“Untuk orang yang perkataannya baik, suka memberi makan, membiasakan puasa dan shalāt malam ketika manusia tidur.”

(Hadīts riwayat Imām Tirmidzī)

Ini adalah beberapa keutamaan yang disebutkan dalam banyak hadīts dan masih banyak keutamaan lain.

Kita cukupkan, semoga bermanfaat.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar