Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Jumlah Rakaat dan Gerakan

MATAN KITAB

(فصل) وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة: فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة. وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا: في الصبح ثلاثون ركنا وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا. ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا.

Jumlah raka’at shalāt fardhu ada 17 (tujuh belas) raka’at: 34 sujud, 94 takbir, 9 tahiyat, 10 salam, 153 tasbih.

Jumlah rukun dalam shalāt ada 234 rukun: shalāt subuh 30 rukun, maghrib 42 rukun, shalāt empat raka’at ada 54 rukun.

Barangsiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalāt fardhu maka boleh shalāt duduk, yang tidak mampu duduk, boleh shalāt tidur miring.

قال المصنف

Penulis rahimahullāh berkata:

((وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة))

 Shalāt yang wajib itu ada 17 raka’at (dalam sehari semalam), yaitu:

√ Subuh 2 raka’at

√ Dhuhur 4 raka’at

√ Ashar 4 raka’at

√ Maghrib 3 raka’at

√ Isya 4 raka’at

Adapun bagi musafir maka dia  mengqashar shalāt yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at, sehingga total raka’at dalam sehari semalam menjadi 11 raka’at.

((فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة))

 Di dalam shalāt tersebut ada:

√ 17 kali ruku,

√ 34 kali sujud,

√ 94 kali takbir,

√  9 kali tasyahud, yang 5 kalinya adalah wajib,

√ 10 kali salam,

√153 kali tasbih.

((وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا؛

في الصبح وثلاثون ركنا، وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا))

  Jumlah rukun di dalam shalāt ada  234 rukun, dengan rincian:

√ Pada shalāt subuh ada 30 rukun.

√ Pada shalāt maghrib ada 42 rukun.

√ Pada shalāt yang 4 raka’at (Dhuhur, Ashar, Isya) masing-masing 54 rukun.

Ini adalah jumlah-jumlah yang disebutkan oleh penulis di sini, bahwasanya shalāt terdiri dari 17 raka’at, dan kalau ditotal maka semua macam-macam yang ada dalam shalāt baik rukunnya, sujudnya dan rukunya sebagaimana yang disebutkan oleh penulis rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

((ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا ))

Barangsiapa yang tidak mampu untuk berdiri di dalam shalāt wajib maka dia  shalāt dalam keadaan duduk.

((ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا (أي على جنبه الأيمن) ))

Barangsiapa yang tidak mampu  shalāt sambil duduk maka shalāt dalam keadaan berbaring (berbaring pada posisi bertumpu pada sisi sebelah kanan).

((ومن عجز عن ذلك يصلي بالإيماء))

Apabila dia juga tidak mampu untuk shalāt sambil berbaring maka dia shalāt dengan memberikan isyarat.

((وإن عجز عن ذلك يصلي بطرفه وينوي بقلبه))

Jika masih tidak mampu untuk shalāt dengan isyarat mengerakan sebagian dari kepalanya misalnya maka dia  shalāt dengan mengekedipkan matanya dan berniat dalam hatinya.

Ini adalah beberapa perkara yang disebutkan bahwasanya bila seseorang tidak mampu shalāt sambil berdiri maka dia shalāt dalam keadaan duduk.

Para sahabat sekalian,

Bahwasanya berdiri di dalam shalāt hukumnya adalah wajib dan termasuk di dalam rukun.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Dan berdirilah kalian untuk Allāh dalam shalātmu dalam keadaan yang khusyū’.”

(QS Al Baqarah: 238)

Oleh karena itu, hukum asal berdiri di dalam shalāt adalah rukun. Apabila seseorang meninggalkan rukun tersebut tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat maka shalātnya batal.

 Diantara alasan yang dibenarkan untuk shalāt sambil duduk atau sambil berbaring, adalah:

① Jika dia berdiri menyebabkan kesulitan yang sangat.

② Seseorang yang sakit (apabila berdiri dia akan bertambah sakit).

③ Orang yang lumpuh atau orang yang sudah tua yang tidak mampu untuk berdiri.

④ dll

Berdasarkan hadīts Bukhāri:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ ، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ ، فَقَالَ : ( صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ).

“Dari Imran bin Husain radhiyallāhu”anhu  berkata, saya dulu punya penyakit bawasir (ambeien), maka sayapun bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang shalātnya maka beliaupun bersabda, ‘Shalātlah berdiri, jika tidak mampu maka sambil duduk, jika tidak mampu maka berbaringlah’.”

وقال النووي رحمه الله : ” أجمعت الأمة على أن من عجز عن القيام في الفريضة صلاها قاعدا ولا إعادة عليه , قال أصحابنا : ولا ينقص ثوابه عن ثوابه في حال القيام , لأنه معذور , وقد ثبت في صحيح البخاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما ) . قال أصحابنا : ولا يشترط في العجز أن لا يتأتّى القيام ، ولا يكفي أدنى مشقة ، بل المعتبر المشقة الظاهرة ، فإذا خاف مشقة شديدة أو زيادة مرض أو نحو ذلك أو خاف راكب السفينة الغرق أو دوران الرأس صلى قاعدا ولا إعادة ” انتهى من “المجموع” (4/201) .

Berkata Imām Nawawi rahimahullāh dalam kitab Al majmu’, “Umat telah sepakat bahwa orang yang tidak mampu berdiri di dalam shalāt wajib maka boleh shalāt sambil duduk dan tidak perlu mengulang shalātnya.”

Beliau berkata,  “Sahabat-sahabat kami (para ulama syāfi’iyah) berkata:

Bahwasanya shalāt dalam keadaan duduk, tidak mengurangi pahalanya sedikitpun karena dia memiliki alasan (udzur syar’i).”

Dan disebutkan di dalam Shahīh Bukhāri:

( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما )

Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka akan tetap dicatatkan pahala amalan yang biasa dia lakukan dalam keadaan sehat dan mukim (tidak bepergian).

Sahabat-sahabat kami (oara ulama syāfi’iyah) mengatakan bahwa:

Tidak disyaratkan bahwa seseorang yang dikatakan tidak mampu berdiri, bahwasanya dia sama sekali tidak bisa berdiri, dan tidak cukup juga hanya dengan sedikit masyaqqoh (kesulitan) maka langsung dikategorikan sebagai seseorang yang tidak mampu (misalnya kesemutan).

Kesulitan yang masuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah kesulitan yang tampak jelas.

Jika seseorang mengkhawatirkan bahwasanya dengan berdiri akan timbul kesulitan yang sangat, atau menyebabkan sakitnya bertambah parah atau yang semisalnya, atau dikhawatirkan dia akan tenggelam jika berdiri (misalnya seseorang sedang naik perahu) atau akan merasakan pusing yang sangat, maka pada saat itu  diperbolehkan shalāt sambil duduk.

Demikian yang disampaikan oleh Imām An nawawi (Al Majmū’ 4/201).

Jadi, seseorang apabila dia tidak mampu berdiri, bukan berarti sama sekali tidak bisa berdiri, namun apabila dia memiliki alasan-alasan yang disebutkan  di atas dengan kaedah masyaqqoh dzahirah (kesulitan yang benar-benar jelas) atau di sana ada mudharat yang jelas  maka masuk pada kategori “al ajzu” atau tidak mampu yang dengan alasan tersebut boleh berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk atau berbaring.

Para sahabat sekalian,

• Posisi duduk.

Untuk posisi duduk, tidak diharuskan dengan posisi duduk tertentu, boleh dengan posisi duduk iftirasy (seperti dalam shalāt) dan boleh juga dengan posisi bersila.

Sebagian ulama mengatakan lebih afdal posisi iftirasy, sebagian mengatakan bahwasanya lebih afdal posisi bersila (karena lebih nyaman). Akan tetapi di dalam hadīts tidak dijelaskan, yang dijelaskan adalah boleh seseorang berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk.

Dan diperbolehkan juga duduk di atas kursi dan ini juga masuk dalam kaedah posisi duduk.

Adapun didalam shalāt sunnah dijelaskan oleh para ulama bahwasanya boleh seseorang duduk di dalam shalātnya (shalāt sunnah) walaupun dia mampu untuk berdiri.

Ini berbeda dengan shalāt wajib, shalāt (wajib) wajib untuk berdiri.

Dan untuk shalāt sunnah diperbolehkan untuk duduk (walaupun dia mampu untuk berdiri). Namun dia akan mendapatkan separuh dari pahala shalāt dengan berdiri.

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan Imām Muslim dari ‘Abdullah bin Amr, bahwasanya beliau dikabari bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لما روى مسلم (1214) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه قَالَ : حُدِّثْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( صَلاةُ الرَّجُلِ قَاعِدًا نِصْفُ الصَّلاةِ

“Shalāt orang yang duduk separuh (pahala) shalāt (berdiri).”

Maksudnya pahalanya separuh dari shalāt orang yang berdiri.

 TATACARA SHALĀT SAMBIL DUDUK

① Posisi Berdiri.

Kaedahnya, seseorang semampu mungkin untuk melakukan rukun sesempurna mungkin yang dia mampu, apabila tidak mampu maka berpindah pada keadaan berikutnya yaitu duduk.

Apabila mampu berdiri dengan bertelekan tongkat, atau dengan bersandar, maka tetap wajib berdiri.

Apabila mampu berdiri 1 raka’at atau 2 raka’at, maka wajib untuk berdiri walaupun pada raka’at lainnya sudah tidak mampu, maka posisi berdiri pada saat itu digantikan dengan duduk, apakah duduk iftirasy seperti dalam shalāt, atau tarabbu’ (yaitu posisi bersila) atau duduk di atas kursi.

② Posisi Ruku’

Jika seseorang tidak mampu berdiri, namun mampu ruku’, maka pada saat ruku’ mengambil posisi yang sempurna, namun apabila tidak mampu, maka semampunya dengan memiringkan badan, sambil berdiri jika mampu, atau sambil duduk jika tidak mampu.

③ Posisi sujud

Apabila mampu untuk sujud secara sempurna, maka berpindah ke posisi sujud secara sempurna, namun apabila tidak mampu, maka dengan memiringkan badan lebih rendah dari posisi ruku’

dan demikian seterusnya

 TATACARA SHALĀT SAMBIL BERBARING

Apabila tidak mampu untuk duduk dalam shalāt fardhu, maka diperbolehkan untuk shalāt sambil  berbaring sebagaimana hadits yang sudah disebutkan.

Adapun tata cara shalāt sambil berbaring sebagai berikut:

① Posisi berbaring:

→ bertumpu pada sisi kanan jika mampu dan menghadap kiblat

→ kemudian bertakbir dan meletakkan kedua tangan diatas dada jika mampu

→ kemudian ruku’ dengan cara menundukkan kepala

→ i’tidal dengan kembali lagi

→ kemudian sujud dengan menundukkan kepala

→ kemudian kembali lagi dan begitu seterusnya

(setiap perubahan pergerakan dengan menundukkan kepala).

② Jika tidak mampu bertumpu pada sisi kanan, maka pada sisi kiri, agak miring dan menghadap kiblat, dan lakukan yang sama

③ Jika tidak mampu maka berbaring diatas punggungnya, dengan posisi kiblat dikakinya, dan bertakbir dan melakukan gerakan semampu mungkin, dengan mengangkat kepala setiap perubahan gerakan.

④ Jika tidak mampu maka dengan mengedipkan mata pada setiap pergerakan

⑤ Jika tidak mampu maka dengan isyarat tangan

⑥ Jika tidak mampu maka niatkan dengan hatinya setiap perubahan gerakan

Demikianlah secara ringkas tata cara shalāt yang diajarkan dalam syariat dan kita bisa menyimpulkan tentang:

 Ibadah Shalat sangat penting dan agungnya shalāt, sehingga tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan bagaimanapun dan kondisi apapun.

 Dan juga bagaimana Islam adalah agama yang mudah dan memberikan kemudahan, memberikan keringanan dalam setiap kondisi yang tidak mungkin dilakukan secara sempurna.

Oleh karena itu hendaknya kita bersyukur atas anugrah yang Allāh berikan kepada kita berupa syariat yang lengkap dan mudah.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar