Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Fiqh Shalat Jum’at

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء

Dan syarat wujūbnya (wajibnya) shalāt ada tujuh macam.

Para hadirin sekalian.

Hukum shalāt Jum’at adalah wajib bagi yang terpenuhi syarat yang disebutkan. Dan kewajiban ini sifatnya adalah wajib ‘ain, (artinya) apabila ditinggalkan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at maka dia berdosa.

Hal ini berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian dipanggil untuk melaksanakan shalāt Jum’at, maka bersegeralah untuk mengingat Allāh (melaksanakan shalāt Jum’at) dan tinggalkanlah jual beli.”

(QS Al Jumu’ah: 9)

Dan juga  berdasarkan hadīts yang telah disebutkan tentang ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan shalāt Jum’at, menunjukan bahwasanya shalāt Jum’at adalah hukumnya wajib ‘ain.

⇒ Dan shalāt Jum’at ini memiliki syarat wajib dan syarat sah shalāt.

Diantara syarat wajibnya sebagaimana disebutkan penulis adalah:

الإسلام ،والبلوغ ،والعقل، والحرية، والذكورية، والصحة، والاستيطان

⑴ Islām

⑵ Bāligh

⑶ Berakal

⑷ Merdeka (bukan budak)

⑸ Laki-laki

⑹ Sehat

⑺ Penduduk tempatan atau mukim ( bukan musāfir).

⇒ Maksud syarat wajib adalah apabila tidak terpenuhi syarat ini maka hukum shalāt Jum’at tidak wajib atasnya.

① Islām

⇒ Bagi seorang non muslim (bukan Islām) tidak wajib baginya untuk melaksanakan shalāt Jum’at (dia wajib untuk masuk Islām terlebih dahulu)

② Bāligh

⇒ Bagi orang yang belum bāligh hukumnya tidak wajib, hal ini berdasarkan hadīts-hadīts yang sudah pernah diterangkan sebelumnya tentang syarat taklif syariah (syarat pembebanan syariat kepada seseorang).

Dalam sebuah hadīts, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رفع القلم عن ثلاثة ، عن النائم حتى يستيقظ ، و عن الصبي حتى يشب ، و عن المعتوه حتى يعقل, و في رواية : ” و عن المجنون حتى يفيق

“Pena (kewajiban beban taklif) diangkat dari 3(tiga)  kelompok orang, yaitu dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai dewasa (bāligh) dan dari orang yang linglung sampai berakal (maksudnya orang tidak berakal sampai dia kembali akalnya).”

Dalam  riwayat yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Diangkat dari orang gila sampai dia tersadarkan”

③ Berakal

⇒ Bagi orang yang hilang akalnya seperti orang gila,  orang yang pingsan, atau yang semisalnya (hilang akalnya), maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan shalāt Jum’at, sebagaimana sudah disebutkan hadītsnya.

④ Merdeka (Bukan Budak)

⇒ Orang yang tidak merdeka (para budak), shalāt Jum’atnya tidak wajib bagi mereka hal ini berdasarkan hadīts dari Thariq bin Syihab secara marfu dan diriwayatkan oleh Imam Abū Dāwūd dalam sebuah hadīts, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الجمعة حق واجب على كل مسلم إلا أربعة : مملوك ، أو امرأة ، أو صبي ، أو مريض

“Shalāt Jum’at wajib bagi setiap muslim kecuali 4 (empat)  kelompok orang yaitu; hamba (budak), wanita atau anak kecil atau orang yang sakit.”

Maka tidak wajib bagi mereka untuk melaksanakan shalāt Jum’at.

⑤ Laki-laki

⇒ Tidak wajib shalāt Jum’at bagi seorang wanita, sebagaimana hadīts yang sudah disebutkan.

⑥ Sehat

⇒ Orang yang sakit pun tidak wajib melaksanakan shalāt Jum’at, sebagaimana hadīts yang telah disebutkan.

⑦ Mukim atau Bukan Musāfir

⇒ Dan disini adalah pendapat dalam madzhab Syāfi’i sebagaimana disebutkan Imam Nawawi didalam Kitāb Majmu’ :

لا تجب الجمعة على المسافر هذا مذهبنا لا خلاف فيه عندنا

Berkata Imam Nawawi:

“Shalāt Jum’at tidak wajib bagi seorang musāfir, dan ini adalah madzhab kami (madzhab Syāfi’iyah) dan hal itu telah disepakati.”

  Ada beberapa catatan disini, yaitu:

Apabila seorang (sekelompok orang) yang dia tidak wajib untuk melakukan shalāt Jum’at seperti wanita, budak, anak-anak dan seterusnya (tapi melaksanakan shalat Jum’at), maka bagaimana hukum shalātnya?

Maka hukum shalātnya adalah sah dan mencukupi sebagai pengganti shalāt dhuhur (artinya)  dia tidak perlu lagi mengulangi shalāt dhuhur.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وشرائط فعلها ثلاثة:

Dan syarat untuk melaksankannya ada 3 (tiga) perkara:

 أن يكون البلد مِصرا أو قرية، وأن يكون العدد أربعين من أهل الجمعة، وأن يكون الوقت باقيا.

فإن خرج الوقت أو عُدِمت الشروط صُلِّيت ظهرا

Syarat untuk melaksanakan shalāt Jum’at ada 3(Tiga) yaitu:

⑴ Tempat yang ditinggali adalah kota atau perkampungan.

⑵ Jumlah orang yang shalāt berjamaah dala. shalāt Jum’at ada 40 orang.

⑶ Dan waktunya mencukupi.

Apabila keluar dari waktunya, atau syaratnya tidak terpenuhi, maka dilakukan shalāt dhuhur (bukan shalāt Jum’at).

Dalam melaksanakan shalāt Jum’at tidak disyaratkan di kota saja, namun juga boleh dilakukan di perkampungan, yang penting adalah penduduk yang tinggal secara tetap, bukan yang tinggal sementara (nomaden).

Adapun pemukiman yang tidak tetap  yang berpindah-pindah, maka tidak sah didirikan shalāt Jum’at.

Dan dipersyaratkan dalam madzhab Syāfi’i bahwa jumlah bilangannya  mencapai 40 orang, dan apabila kurang dari itu maka dilaksanakan shalāt dhuhur (bukan shalāt Jum’at).

Dan ini adalah pendapat dari madzhab Syāfi’i namun pendapat yang lebih kuat adalah disyaratkan 2 (dua) orang selain imam, apabila terdapat disana imam kemudian ma’mum 2 (dua) orang, maka wajib untuk melaksanakan shalāt Jum’at.

Dengan dalīl firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ الله

“Apabila kalian diseru untuk shalāt Jum’at pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian untuk mengingat Allāh (melaksanakan shalāt Jum’at).”

(QS Al Jumu’ah: 9)

أنَّ قولَه: فَاسْعَوْا جاءَ بصيغةِ الجَمْعِ، فيَدخُلُ فيه الثلاثةُ

Disini ada kalimat فَاسْعَوْا yang menunjukan bahwasanya kalimat فَاسْعَوْا ini adalah shighahnya jama’ dan jama’ yang terkecil adalah 3 (tiga) orang.

Oleh karena itu pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

 Adapun mengenai waktu shalāt Jum’at.

Pendapat Imam Syāfi’i  dan Jumhūr mayoritas ulamā, waktunya adalah sama seperti waktu shalāt dhuhur, yaitu mulai  tergelincirnya matahari atau zawal sampai masuk  waktu ashar.

Apabila waktu Jum’at hampir habis dan tidak cukup untuk melaksanakan shalāt Jum’at maka shalāt Jum’at nya diganti menjadi shalāt dhuhur.

Artinya tidak dilaksanakan shalāt Jum’at melainkan dilaksanakan shalāt dhuhur karena tidak cukup waktnya.

Adapun permasalahan yang lain, permasalahan bolehkah shalāt Jum’at dilakukan sebelum dhuhur?

Maka di sana ada khilaf para ulamā. Pendapat Ahmad bahwasanya mengatakan boleh, namun Jumhūr, mayoritas, ulamā sebagaimana tadi sudah disebutkan bahwa waktunya sama seperti waktu shalāt dhuhur dan tetap dilaksanakan setelah zawal.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وفرائضها ثلاثة :

Dan kewajiban (farāidh) atau rukun  didalam shalāt Jum’at ada 3(tiga):

خطبتان يقوم فيهما ويجلس بينهما، وأن تصلَّى ركعتين في جماعة

Yaitu:

√ 2 (dua) kali khutbah yang dilakukan berdiri dikeduanya.

√ Diselingi duduk diantara keduanya,

√ Dan shalāt dua raka’at dengan berjama’ah.

Diantara syarat sahnya shalāt yaitu harus dimulai dengan 2(dua) kali khutbah yang dipisah dengan duduk diantara keduanya. Kemudian shalāt berjama’ah 2 (dua) raka’at.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Jābir yang diriwayatkan Imām Bukhāri dan Muslim.

أنَّه صلَّى الله عليه وسلَّم كان يَخطُب يومَ الجُمُعة خُطبَتَيْنِ يَجلِسُ بيْنَهُم

“Bahwasanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkhutbah pada hari Jum’at dengan 2 (dua)  kali khutbah, dan duduk diantara keduanya.”

Dan Imām Muslim meriwayatkan dengan lafadz yang lain:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة قائما ثم يجلس ثم يقوم

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berkhutbah pada hari Jum’at dalam keadaan berdiri kemudian duduk kemudian berdiri kembali”

Ini menunjukan bahwa shalāt Jum’at dengan urutan: 2 (dua) kali khutbah dengan duduk diantara keduanya dan juga shalāt 2(dua) raka’at secara berjama’ah.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وهيآتها أربع خصال: الغُسل وتنظيف الجسد، ولبس الثياب البيضاء، وأخذ الظفر، والطِّيب.

  Adapun sunnahnya ada 4 (empat) macam:

⑴ Mandi dan membersihkan badan.

⑵ Memakai pakaian putih.

⑶ Memotong kuku.

⑷ Menggunakan wewangian.

  Sunnah bagi orang yang hendak melaksanakan shalāt Jum’at diantaranya:

⑴ Mandi besar dan membersihkan badan.

Hal ini berdasarkan hadīts dalam shahīhain.

إِذا جَاءَ أَحدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ ، فَلْيَغْتَسِل

“Apabila kalian hendak datang untuk melaksanakan shalāt Jum’at, maka mandilah.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒ Sebagian ulamā ada yang berpendapat bahwa hukum mandi sebelum Jum’at adalah wajib.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Abū Sa’id Al khudrī Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu:

عن أَبي سعيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه: أَنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  قال: غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ واجب عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَسِوَاكٌ، ويَمَسُّ مِنْ الطِّيبِ، مَا قَدَرَ عليه

Dari Abū Sa’id Al-khudrī beliau berkata, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang muhtalim (bāligh), adapun siwak dan memakai minyak wangi yaitu sesuai dengan kadar yang dia mampu (maksudnya)  adalah sebanyak yang dia mampu.”

Ala kuli hal, bahwasanya mandi untuk shalāt Jum’at hukumnya sangat ditekankan, apakah dia sunnah muaqaddah ataupun wajib.

Diantara tujuan mandi adalah menghilangkan kotoran dan bau yang menempel dibadannya, sehingga tidak menganggu orang yang duduk maupun shalāt di sebelahnya.

Oleh karena itu, mandi yang dimaksud adalah mandi yang bisa menghilangkan bau badan dan membersihkan diri dari kotoran. Bukan hanya sekedar mengguyur dengan air akan tetapi masih tersisa bau yang bisa mengganggu orang lain.

⑵ Memakai pakaian berwarna putih.

⑶ Memotong kuku.

⑷ Memakai minyak wangi.

Dan ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dengan lafazh:

وقد رواه أحمد بلفظ: من اغتسل يوم الجمعة، واستاك ومسَّ من طيب إنْ كان عنده، ولبسَ أحسنَ ثيابه، ثم خرج حتى يأتي المسجد، فلم يَتخطّ رقابَ الناس، حتى ركعَ ما شاء أنْ يركع، ثم أنصتَ إذا خرج الإمام، فلم يتكلم حتى يفرغ من صلاته، كانت كفارة لما بينها، وبين الجمعة التي قبلها»

“Barangsiapa yang mandi hari Jum’at dan dia  bersiwak kemudian  memakai minyak wangi yang dia punya dan dia memakai pakaian yang terbaik, kemudian dia keluar sampai datang ke masjid, dan dia tidak melangkahi pundak-pundak orang-orang, kemudian dia shalāt semampu dia untuk shalāt, kemudian dia diam tatkala Imām keluar untuk berkhutbah dan dia  tidak berbicara sampai Imām selesai dari shalātnya maka itu adalah sebagai penghapus  dosa, pahalanya dia mendapatkan kafārah (penebus) dosa antara shalāt Jum’at tersebut dengan shalāt Jum’at sebelumnya.”

Ini menunjukan beberapa adab diantara adab-adab pada shalāt Jum’at.

Dan di sana perlu diperhatikan masih ada adab yang lain. Diantaranya adalah untuk bersegera kemasjid dan memiliki pahala atau fadhilah yang besar.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau berkata, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : من راح في الساعة الأولى فكأنّما قرّب بَدَنَة ، ومن راح في الساعة الثانية فكأنّما قرّب بقرة ، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنّما قرّب كبشاً أقرن ، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنّما قرب دجاجة ، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنّما قرّب بيضة ، فإذا صعد الإمام المنبر حضرت الملائكة يستمعون الذكر

رواه البخاري ( 841 ) ومسلم ( 850 )

“Barangsiapa yang pergi menuju masjid pada waktu yang pertama maksudnya bersegera pada waktu yang pertama, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor unta, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang kedua, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor sapi, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang ketiga, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor kambing yang memiliki tanduk,  barangsiapa yang berangkat pada waktu yang keempat, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor ayam, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang kelima, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban sebutir telur, Apabila Imām telah naik mimbar, maka para Malāikat yang tadi hādir (mencatat) kemudian dia menutup buku catatannya dan duduk untuk  mendengarkan khutbah dari Imām.”

(Hadīts riwayat Bukhāri no. 841 dan Muslim no. 850)

Hadīts ini menunjukan tentang keutamaan orang yang bersegera untuk datang ke masjid untuk melaksanakan shalāt Jum’at.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

ويستحب الإنصات في وقت الخطبة

ومن دخل والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين ثم يجلس.

Dan disunnahkan untuk inshāt (diam mendengarkan) pada saat khutbah. Barangsiapa yang masuk masjid dan Imām sedang berkhutbah, maka hendaknya dia shalāt 2 (dua) raka’at yang ringan maksudnya adalah agak cepat, kemudian dia duduk.

Berbicara pada saat khutbah maka dia mengurangi kesempurnaan dari shalāt Jum’at itu sendiri, namun tidak membatalkannya.

Ini adalah pendapat yang rājih. Hal ini berdasarkan penjelasan dari Imām Ibnu Hajar dalam Fathul Bari tatkala beliau menjelaskan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

ومن تكلم فلا جمعة له

“Barangsiapa yang berbicara, maka tidak ada Jum’at baginya.”

Apa maksudnya?

Maksudnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala Jum’at yang sempurna.

Dan ini sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ : أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ ؛ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Apabila kamu mengatakan kepada kawanmu pada hari Jum’at ‘Diamlah!’ sementara Imām sedang khutbah, maka kamu telah berbuat laghwu (sesuatu kesia-siaan).”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan  Muslim)

Jadi, menunjukan bahwa seorang yang berkata maka dia telah mengurangi pahala shalāt Jum’atnya karena telah berbuat yang sia-sia.

Dan perkataan diperbolehkan atau tidak memberikan ta’tsir (pengaruh) baik dalam shalātnya ataupun dalam pahalanya, (artinya) perkataan tersebut diperbolehkan sebelum dan sesudah khutbah berlangsung.

Dan selama kutbah maka tidak boleh untuk berucap atau berkata-kata.

Dan dianjurkan untuk melaksanakan shalāt tahiyyatul masjid, walaupun Imām sedang berkhutbah. Namun hendaknya melakukannya dengan shalāt cara atau bacaan yang ringan atau yang cepat.

Berdasarkan hadīts Jābir dalam Shahīhain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إذا جاء أحدكم يوم الجمعة والإمام يخطب فليركع ركعتين وليتجوز فيهما

“Apabila salah seorang dari kalian datang untuk melaksanakan shalāt Jum’at dan Imām sedang berkhutbah, maka hendaknya shalāt 2 (dua)  raka’at dengan ringan (cepat).”

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar