Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Fiqh Shalāt Iedul Fitri Dan Iedul Adha

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis  rahimahullāh:

((وصلاة العيدين سنة مؤكدة و هي:

ركعتان يكبر في الأولى سبعا سوى تكبيرة الإحرام وفي الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام.))

“Dan shalāt ‘Iedain  (‘Iedul fitri dan ‘Iedul Adha) hukumnya adalah  sunnah muakkadah.

Dan shalāt ‘ied adalah shalāt 2 (dua) raka’at dengan 7 (tujuh) kali takbir di raka’at pertama selain takbiratul ihram, dan takbir 5 (lima) kali pada raka’at kedua selain takbir bangun dari sujud.”

  Shalāt ‘Ied (Shalāt Hari Raya)

Adalah shalāt yang dilakukan pada hari ‘Ied, baik ‘Iedul Fitri (setelah selesai bulan Ramadhān) maupun pada ‘Iedul Adha.

Maksud ‘Ied di sini adalah berkumpulnya orang-orang secara rutin dan berulang-ulang. Karena selalu berulang setiap tahun maka dikatakan sebagai ‘Ied, yaitu “kembali”.

  Keutamaan shalāt ‘Ied

Keutamaan shalāt ‘Ied sangat besar. Hal ini ditunjukkan dengan rutinnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukannya secara terus menerus dan bahkan beliau sampai memerintahkan para wanita yang sedang hāidh, untuk keluar menyaksikan shalāt ‘Ied untuk berkumpul dengan kaum muslimin.

Begitu juga para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum jam’ian, mereka selalu menjaga shalāt ini dan rutin melaksanakan  shalāt ini.

Dan di dalam shalāt ini ada rasa syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan menampakkan syiar Islām dan bersatunya kaum muslimin. Oleh karena itu dia memiliki keutamaan yang besar. 

  Hukum Shalāt ‘Ied

Hukum shalāt ‘Ied dalam madzhab Syāfi’i adalah sunnah muakkadah, (artinya) sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, sebagaimana yang disebutkan oleh penulis bahwa shalāt ini adalah sunnah muakkadah. Dan ini merupakan pendapat Mālikiyyah dan Jumhūr ulamā. Dan pendapat ini condong lebih kuat.

Namun di sana ada sebagian yang berpendapat bahwasanya hukumnya wajib ‘ain, seperti madzhab Hanafi. Dan sebagian berpendapat wajib kifayah sebagaimana madzhab Hambali.

  Waktu Shalāt ‘Ied

Shalāt ‘Ied dilakukan antara terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari atau zawal. Dan disunnahkan untuk  diakhirkan sampai matahari tingginya sekadar ujung tombak.

  Tata Cara Shalāt ‘Ied

Untuk raka’at shalāt ‘Ied dilakukan sebanyak 2 (dua) raka’at. Hal ini merupakan ‘ijma para ulamā,  berdasarkan hadīts shahīh yang diriwayatkan Imām An Nasāi’ dan Ibnu Mājah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صلاة الأضحى ركعتان وصلاة الفطر ركعتان

“Shalāt ‘Iedul Adha itu 2 (dua) raka’at dan shalāt ‘Iedul Fitri ada 2 (dua) raka’at.”

  Hukum Takbir Tambahan

Hukum takbir tambahan adalah sunnah, berdasarkan pendapat jumhūr mayoritas ulamā fiqih dari kalangan Syāfi’iyah, Mālikiyyah dan Hanābilah.

Oleh karenanya apabila seorang Imām lupa maka tidak perlu dia mengulangi shalātnya, cukup meneruskan shalāt tersebut.

  Jumlah Takbir Tambahan

Adapun jumlah takbir tambahan berdasarkan madzhab Syāfi’i adalah sejumlah 7 kali takbir pada raka’at pertama (selain takbiratul ihram) artinya tidak menghitung takbiratul ihram.

⇒ Berdasarakan madzhab Syāfi’i,

√ 7 (tujuh) takbir pada raka’at pertama.

√ 5 (lima) takbir pada raka’at kedua.

Adapun 5 takbir pada raka’at kedua selain takbir bangun dari sujudnya.

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayat oleh Imām Tirmidzi dengan sanad yang hasan, bahwasanya:

“Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertakbir dalam shalāt ‘Iedain pada raka’at pertama 7 (tujuh) kali sebelum membaca dan pada raka’at yang terakhir 5 (lima) kali sebelum membaca.”

Adapun pendapat jumhūr mayoritas ulamā dari Mālikiyyah dan Hanābilah, adalah:

√ Raka’at pertama adalah 6 (enam) kali selain takbir yang pertama.

√ Raka’at kedua 5 (lima) kali.

  Hukum Mengangkat Kedua Tangan

⇒ Disunnahkan untuk mengangkat tangan walaupun  pada takbir tambahan.

Yaitu dikerjakan pada saat dia takbiratul ihram atau takbir bangun dari sujud. Ini adalah pendapat mayoritas ahli fiqih dari kalangan Hanafiyyah , Syāfi’iyah dan Hanābilah.

 Do’a Istiftah

√ Di sunnahkan membaca do’a istiftah setelah takbiratul ihram dan sebelum takbir tambahan.

√ Disunnahkan untuk membacaa ta’awudz sebelum membaca Al Fātihah.

⇒ Ini adalah pendapat jumhūr mayoritas fuqahā.

  Apa yang dibaca diantara dua takbir?

Para ulama berbeda pendapat:

√ Pendapat pertama disunnahkan untuk berdzikir.

√ Pendapat kedua bahwa tidak disunnahkan berdzikir

⇒ Dan ini disebutkan Imām Nawawi sebagai pendapat jumhūr mayoritas fuqaha (yaitu pendapat yang kedua)

  Bacaan Dalam Shalāt ‘Ied

Bacaan dalam shalāt ‘Ied, Imām membaca secara jahr (dikeraskan). Dinukilkan oleh Imām Nawawi dan Ibnu Qudamah bahwa hal ini adalah berdasarkan ijma’.

  Bacaan Yang Disunnahkan

Bacaan yang disunnahkan dalam dalam ‘Iedain setelah membaca surat Al Fatiha adalah:

√ Surat Al A’lā atau surat Qāf pada raka’at pertama.

√ Surat  Al Ghāsyiyah atau surat  Al Qamar pada raka’at kedua.

Ini adalah hal-hal yang terdapat dalam sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

((و يخطب بعدها خطبتين يكبر في الأولى تسعا وفي الثانية سبعاً))

“Dan khutbah setelah shalāt sebanyak 2 (dua)  kali khutbah, yaitu:

√ Takbir dikhutbah pertama sebanyak 9 (sembilan) kali.

√ Takbir dikhutbah kedua sebanyak 7(tujuh) kali.”

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

  Hukum khutbah ‘Ied

Khutbah ‘Ied  hukumnya adalah sunnah, ini berdasarkan kesepakatan Imām madzhab yang empat.

  Waktu Khutbah ‘Ied

Waktu khutbah ‘Ied dilakukan setelah shalāt, ini berdasarkan ijma’ sebagaimana yang dinukil oleh Imām Ibnu Qudammah dan Imām Ibnu Jauzy.

  Tata Cara Khutbah ‘Ied

Khutbah ‘Ied dilakukan dengan 2 (dua) kali khutbah, ini merupakan kesepakatan keempat Imām madzhab, bahkan Ibnu Hazm menukilkan ijma’ akan hal tersebut.

Adapun membuka khutbah dengan takbir maka di sana ada perbedaan pendapat apakah dibuka dengan takbir ataukah dengan tahmid.

Pendapat pertama |

Khutbah dibuka dengan takbir sesuai dengan pendapat imām madzhab.

Sebagaimana disebutkan oleh penulis dimana Imām Syāfi’i menjelaskan bahwasanya takbir 9 (sembilan) kali pada khutbah pertama dan 7 (tujuh) kali pada khutbah yang kedua.

Dan beliau katakan ini sunnah, namun sandarannya adalah hadīts yang dhaif.

Pendapat kedua |

Khutbah dibuka dengan tahmid dan ini adalah pendapat Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Syaikh Bin Baz, serta Imām Syaukani lebih condong terhadap pendapat ini.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويكبر من غروب الشمس من ليلة العيد إلى أن يدخل الإمام في الصلاة وفي الأضحى خلف الصلوات المفروضات من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق)).

“Dan hendaknya bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam ‘Ied sampai Imām masuk ke tempat shalāt.

Adapun pada ‘Iedul Adha, maka bertakbir setiap selesai dari sholāt fardhu mulai Subuh pada hari Arafah sampai ‘Ashar pada hari terakhir di hari-hari Tasyrik.”

Shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Adapun seputar takbir pada shalāt ‘Iedul Fitri dan shalāt ‘Iedul Adha, ada beberapa hal yang akan kita bahas, diantaranya:

⑴ Waktu Takbir

Sebagaimana yang dijelaskan oleh  penulis, bahwasanya;

√ Untuk ‘Iedul Fitri adalah mulai terbenamnya matahari pada malam ‘Ied sampai Imām masuk tempat shalāt ‘Ied.

√ Untuk ‘Iedul Adha, mulai pada waktu Subuh hari Arafah tangal  9 Dzulhijjah sampai ‘ashar di hari akhir Tasyrik yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.

⑵ Hukum Takbir

Adapun hukum takbir pada ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha adalah sunnah, berdasarkan pendapat mayoritas ulamā dari kalangan Mālikiyyah, Syāfi’iyah, dan Hanābilah. Bahkan Imām Nawawi menyatakan bahwa hal itu adalah ijma’.

Takbir pada shalāt ‘Iedul Fitri disebut takbir mutlaq atau takbir yang dilakukan atau diucapkan kapan saja.

⑶ Waktu Takbir

Waktu takbir dimulai semenjak terlihat hilal pada bulan Syawwal atau dengan kata lain mulai terbenamnya matahari pada malam ‘Ied atau setelah maghrib pada tanggal 30 Ramadhān. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulamā.

Adapun waktu berakhirnya ada khilaf perbedaan pendapat dikalangan ulamā.

Dan pendapat Syāfi’iyah dan Mālikiyyah adalah berakhir manakala Imām telah datang untuk melaksanakan shalāt ‘Ied. Maka ini adalah waktu akhir untuk bertakbir pada ‘Iedul Fitri yaitu dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam ‘Ied atau akhir dari bulan Ramadhān sampai datangnya Imām untuk melaksanakan shalāt ‘Ied.

Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Utsaimin.

⑷ Hukum Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad adalah takbir yang diucapkan setelah selesai melaksanakan shalāt.

Sehingga takbir muqayyad tidak disyariatkan pada malam ‘Iedul  Fitri,  baik setelah shalāt Maghrib atau shalāt ‘Isya atau setelah selesai shalāt ‘Ied.

⇒ Takbir pada saat  ‘Ied Fitri  yang berlaku adalah takbir  mutlaq,  maksudnya adalah bebas kapan saja baik di rumah, di pasar atau ditempat manapun dan tidak muqayyad, artinya tidak dilakukan setelah shalāt fardhu.

Ini adalah pendapat mayoritas ulamā Syāfi’iyah dan madzhab Hanābilah dan yang dipilih Imām Nawawi, Ibnu Taymiyyah dan Syaikh Utsaimin.

⇒ Adapun takbir untuk ‘Iedul Adha, maka berlaku mutlaq dan muqayyad.

Jadi selain disunnahkan di jalan-jalan, di rumah, di pasar, maka disunnahkan pula selesai melaksanakan shalāt fardhu untuk mengucapkan takbir.

⑸ Mengeraskan Takbir

Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki manakala keluar dari rumah menuju lapangan (tempat shalāt) ‘Ied pada saat ‘Ied Fitri dan ‘Ied Adha, ini adalah pendapat mayoritas ulamā.

Ini adalah beberapa keterangan atau sunnah-sunnah yang bisa disampaikan dalam masalah shalāt ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.

Semoga bermanfaat.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar