Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Beberapa Faedah Tentang Sikap Tawaqquf (Berhenti ) Pada Hal Yang Tidak Diketahui

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekarang kita memasuki Fawaidul Tawaqquf amma la ya’lam beberapa faedah tawaqquf (berdiam diri dari perkara-perkara yang tidak diketahuinya). Ada faedah, ada manfaat yang terkandung dari sikap yang mulia ini. Berkata Mualif, “Didalam sikap berdiam diri dari perkara-perkara yang tidak diketahui ada faedah yang banyak bahwa sikap ini adalah kewajiban bagi dia, bagi setiap orang”. Berdiam diri, tidak bicara, tidak bersikap dalam perkara-perkara yang tidak diketahui adalah wajib. Allah subhanahu wa ta’ala yang memerintahkan demikian dalam surat Al-Isra ayat 36, Allah berfirman : وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ “Dalam perkara-perkara yang kamu tidak tahu ilmunya tentang hal itu jangan bersikap, jangan berbicara, jangan berkomentar, maknanya bertawaqquf-lah (berdiam diri-lah dari hal itu)”. Ini larangan dari Allah azza wa jalla, larangan dari apa ? larangan dari bersikap tentang perkara yang kita tidak tahu. Salah satu diantara sikap yang dimaksud dalam ayat ini adalah berbicara, berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya termasuk menjawab pertanyaan yang dia tidak paham tentang jawaban yang sebenarnya tetapi dia paksa-kan diri untuk menjawab, ini keliru. Jadi tawaqquf terhadap sesuatu yang kita tidak tahu hukumnya wajib dengan mengatakan wallahu ‘alam atau laa ‘alam atau laa adri atau laa afham, saya tidak tahu, saya tidak paham, saya tidak begitu mengerti, Allah lah yang lebih tahu tentang masalah itu. Abdullah bin Mas’ud menyatakan, “wallahu’alam nisful ilmi” perkataan wallahu ‘alam adalah setengah dari ilmu. Jadi yang pertama wajib, kalau yang wajib ini dilakukan berpahala atau tidak ? berpahala, kalau dilanggar bagaimana ? berdosa, berbicara tentang sesuatu tanpa ilmu adalah dosa bahkan tidak hanya keliru untuk dirinya tetapi membuat orang lain ikut keliru mengikuti kekeliruan dirinya, dhollu wa mudhillu. Kedua ini teralami oleh setiap ustadz dan setiap murid yang berguru ke ustadz tersebut. Diantara faedah dari tawaqquf dalam perkara yang tidak diketahui adalah bila seorang ustadz, seorang guru, pengajar dia mengatakan wallahu ‘alam dalam perkara yang tidak diketahui maka ilmu akan datang kepada orang itu dengan segera, karena apa ? karena dia akan mencari setelah itu, “oh ternyata perkara ini saya belum pelajari, perkara ini saya belum pahami, perkara ini belum saya ketahui, setelah ngaji saya pulang saya bongkar kitab, saya cari jawaban dari pertanyaan itu”, jadi dia termotivasi untuk memuroja’ah atau setelah itu datang salah satu muridnya memberitahukan “ustadz yang tadi ditanyakan oleh ikhwan tadi yang bilang ustadz wallahu ‘alam atau belum tahu, ini nih jawabannya nih silahkan dibaca” ada yang seperti itu. Jadi informasi itu datang lebih cepat, dia terdorong untuk memuroja’ah kembali, kadang-kadang kalau si ustadz belajar sendiri atau membaca sendiri kadang-kadang banyak perkara yang luput, tidak atau belum dia pelajari dan itu muncul di pertanyaan, dia belum tahu maka dia akan segera mencari tahu setelah pengajian selesai dan itu menjadi hutang bagi dirinya dan itu motivasi besar untuk membaca lebih giat lagi. Jadi ini faedah yang kedua dia akan segera mencari jawaban dari pertanyaan yang tadi ditanyakan yang dia belum tahu jawabannya, cepat dia pulang, cepat dia membuka kitab, cepat dia kalau tidak didapati didalam kitab dia mungkin menghubungi orang yang lebih berilmu daripada dirinya. Oleh karena itulah, maka salah satu diantara salah satu faedah wallahu ‘alam adalah memotivasi dia untuk mencari jawaban dari pertanyaan tadi. Salah satu diantara faedah dari tawaqquf adalah menyadarkan si ustadz, si mualim bahwa dia itu kurang belajar buktinya masih ada yang belum dia ketahui, memotivasi dia untuk belajar lebih giat lagi, lebih sering lagi, lebih rajin lagi daripada sebelumnya, nanti ngaji lagi ditempat lain ada pertanyaan lain yang tidak dia ketahui lagi padahal mungkin jawaban dari pertanyaan itu urgen (segera) mau diamalkan saat itu juga tetapi dia tidak tahu jawabannya dan itu menimbulkan madhorot bagi si penanya karena dia berharap akan dapat jawaban yang segera akan diamalkan ternyata jawaban yang dia harapkan tidak kunjung tiba dari ustadz yang ditanya. Dengan adanya pertanyaan yang tidak diketahui “oh benar saya ini masih bodoh, saya ini kurang belajar, saya ini kurang giat, saya ini kurang baca, mungkin lebih banyak waktu untuk yang lain daripada menela’ah.. menela’ah.. dan menela’ah”. Jadi menanamkan kesadaran tentang kurangnya ilmu pada diri sang ustadz. Demikian yang bisa disampaikan.

Keempat diantara faedah dari sikap wallahu ‘alam adalah hal itu menjadi dalil, menjadi indikasi tentang terpercaya nya dia, sikap amanahnya dia. Jadi kalau ditanya, ‘Aduh wallahu ‘alam saya belum baca, saya belum temukan, saya belum tahu tentang hal itu’ ini menunjukan orang tersebut amanah, orang ini terpercaya dan orang ini yakin terhadap perkara yang dia sampaikan, apa yang dia sampaikan berarti dia sudah yakini kebenaran dari apa yang dia sampaikan, kalau belum yakin dia tidak akan sampaikan, buktinya ketika ditanya tentang sesuatu yang dia tidak tahu dia jawab ‘saya tidak tahu, saya belum tahu, saya belum baca tentang hal itu’, berarti apa yang dia sampaikan sudah dia yakini kebenarannya. Sebab kalau orang itu tidak jujur, orang itu tidak terpercaya dia bisa menjawab semaunya, mau benar mau tidak yang penting jawab walaupun dia belum yakin tentang kebenaran dari apa yang dia jawab, sebagaimana orang yang selalu bersegera berbicara termasuk kedalam perkara yang tidak dia ketahui. Umpamanya dia berbicara tentang sesuatu yang murid-muridnya sudah tahu tentang sesuatu itu, mana yang benar dari sesuatu yang disampaikan oleh sang ustadz, ternyata sang ustadz itu menyampaikan atau memberi jawaban yang keliru, yang salah. Sering ada mad’u, ada mustami, ada murid bertanya kepada guru bukan karena ingin tahu tetapi karena ingin ngetes seberapa luas ilmu sang ustadz, dia tahu jawabannya lalu dia tanyakan kembali, ada yang seperti itu ? ada, macam-macam motivasi nya pertama ngetes, kedua untuk mengadu dengan jawaban ustadz lainnya (dibenturkan), yang ketiga mencari masalah saja, bukan karena ingin jawaban yang sebenarnya tetapi kadang ingin mempermalukan ustadz ‘nih saya beri pertanyaan yang sulit, kalau ustadz itu gak bisa jawab, malu dia’, disangkanya kalau ustadz tidak bisa jawab dia akan malu ? engga, cukup mengatakan wallahu ‘alam. Apakah dengan mengatakan wallahu ‘alam itu turun derajat ke ustadz-an nya ? engga, malah orang semakin percaya ‘oh kalau ustadz ini mengatakan tidak tahu berarti dia amanah’, jadi kalau orang berbicara apapun dia omongin, dia jawab walaupun jawabannya ngaco timbul keraguan dalam diri si murid ‘ini yang diomongin ustadz benar engga semua dari awal tadi sampai sekarang, buktinya ketika ditanya tentang A jawabannya begini dia jawab begitu’ ragu dia, akhirnya karena ragu terhadap satu jawaban maka seluruh penjelasan dia dari awal sampai akhir diragukan kembali. Berdasarkan hal itulah maka orang yang mengatakan wallahu ‘alam, saya tidak tahu, saya tidak paham, saya tidak mengerti maka orang itu adalah orang yang amanah, orang yang jujur, orang yang tsiqoh (terpercaya) sehingga dia bisa dipercaya terus oleh murid-muridnya. Kelima sesungguhnya seorang mualim (guru, ustadz, kiyai) bila murid-muridnya muta’alim (orang yang belajar) melihat sang guru tawaqquf dalam perkara yang tidak diketahuinya itu disebutnya ‘teaching by doing‘ artinya mengajar sambil langsung praktik. Si guru mempraktikkan sebuah pelajaran yang berharga, apa pelajaran yang berharga itu ? kalau dalam perkara tidak tahu jujur-lah bilang tidak tahu, jangan memaksa-maksakan diri menjawab dengan kebodohannya. Si guru langsung mempraktikkannya dan itu yang disebut tadi ‘teaching by doing‘ mengajar dengan cara langsung praktik, langsung di aplikasikan, langsung di wujudkan didalam sikap dan ittiba’ mengikuti amal itu lebih bagus, lebih sempurna daripada mengikuti ucapan. Mengajar dengan praktik jauh lebih hebat pengaruhnya daripada mengajar dengan kata-kata. Dahulu Imam Ahmad bin Hamba rahimahullah kalau ngaji tidak kurang dari dua puluh ribu orang yang hadir tetapi hanya sedikit diantara murid-muridnya yang menulis, yang mencatat. Umumnya belasan ribu dari kalangan murid-muridnya belajar tanpa mencatat satu huruf-pun, lalu apa yang mereka pelajari ? mereka belajar langsung dari pengamalan imam Ahmad, diperhatikan segala sesuatu yang dilakukan oleh imam Ahmad, seluruh amalan yang dilakukan oleh para ulama zaman dahulu baik prilaku yang dilakukan oleh anggota badan termasuk ekspresi wajah, termasuk bagaimana ketika si ulama itu berbicara, itu seluruhnya merupakan aplikasi dari ilmu, pengamalan dari ilmu. Jadi untuk mempelajari ilmunya para ulama lihatlah sikapnya, lihat bagaimana mereka ibadah, lihat bagaimana mereka berbicara, lihat bagaimana mereka bermuamalah dengan sesama manusia (kepada muridnya, kepada tetangganya, kepada kawannya, kepada anggota keluarganya, kepada orang tuanya) itu semua merupakan perwujudan nyata dari ilmu yang sudah dipahami oleh para ulama. Jadi betapa banyaknya dan lebih banyak murid yang belajar ilmu dengan melihat amal yang dilakukan oleh guru-gurunya. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘Al iqtida bil ahwal wal amal, ablaghu minal iqtida bil akwal‘ mengikuti keadaan dan amalan sang guru jauh lebih efektif daripada mengikuti ucapan. Itulah lima faedah yang terkandung didalam sikap ungkapan wallahu ‘alam. Demikian yang bisa disampaikan

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar