Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Beberapa Perkataan Ulama Tentang Konsisten Dalam Menuntut Ilmu Dan Menjauhi Penyakit-Penyakitnya

Berkata Ba’dul Hukama (Hukama : bentuk jamak dari hakim dan hakim pasti ulama) orang yang diangkat menjadi hakim adalah orang yang paling menguasai ilmu syar’i dan setiap hakim pasti ulama tetapi tidak semua ulama menjadi hakim, perkataan Nabi ﷺ ,”Tidak seorang hakim ber-ijtihad (benar) maka dia dapat 2 pahala apabila ber-ijtihad (salah) maka mendapatkan 1 pahala“. Berkata para Hukama, “Semoga Allah memberi manfaat kepada kami dan kalian dengan ilmu dan semoga ilmu-ilmu yang sampai kepada kita itu memberi manfaat dan semoga Allah tidak menjadikan bagian untuk kita dari ilmu itu hanya mendengar dan takjub dengan dirinya sendiri setelah menguasai ilmu itu tetapi pengalamannya nol (tidak ada)“. Hasil nyata dari ilmu adalah adanya perubahan kearah yang lebih baik dari segala segi, bicaranya lebih santun, lebih berhati-hati dan tidak menyakiti, kemudian akhlak nya lebih mulia, dia lebih rajin daripada sebelumnya, lebih peduli dan perhatian kepada sesama dan lebih baik sikapnya kepada keluarganya. Berkata Imam At-Tsauri (seorang yang bergelar syaikhul islam pada zamannya), “Bila seseorang laki-laki ataupun perempuan menjadi pemimpin, menjadi tokoh, menjadi seseorang yang diikuti orang lain, dia menjadi pemimpin secara cepat, menjadi pemimpin begitu dini maka itu akan memberikan mudhorot terhadap banyak ilmu yang tadinya dikuasainya“. Para masyaikh mengatakan, “Tidak akan bisa belajar ilmu seorang mudir (organisator, manager, yang harus memimpin sebuah sistem organisasi apapun, yayasan apapun karena dia sudah banyak waktunya tersisa oleh urusan administrasi urusan organisasi) maka ilmu-ilmu yang dipelajarinya akan hilang, tidak di muroja’ah, tidak ada waktu untuk mengulang-ngulang pelajaran apalagi menambah untuk baca kitab, baca buku yang bermanfaat bagi dirinya karena waktu dan tenaganya habis untuk itu (organisasinya) tetapi dia kalau belajar dan belajar nanti dia akan sampai kepada tujuan yang dia inginkan“. Berkata Abbas bin Mughirah bin Abdurrahman tentang bapaknya. Siapa bapaknya Abbas bin Mughroh ? yakni Mughiroh bin Abdurrahman. Berkata Abbas bin Mughirah dari Bapaknya Mughirah bin Abdurrahman (seorang anak menceritakan kisah bapaknya), “Datang Abdul Aziz Addaro Wardi ke jama’ah bapak ku (bapaknya mughirah siapa ? abdurrahman yakni kakeknya Abbas) untuk membawa sebuah kitab kemudian disodorkan kepada gurunya lalu dia baca kitab tersebut dan disimak oleh gurunya. Cara membacanya benar atau tidak kemudian diterjemahkan, lalu diterangkan. Lalu Addaro Wardi ini membaca kitab tersebut dihadapan teman-temannya dan dihadapan gurunya, gurunya itu yaitu Abdurrahman tadi. Dan Addaro Wardi ini lisannya buruk maksudnya yakni cara ucapannya itu tidak bagus, tidak tepat, tidak fasih dan lahn (dialegnya, aksennya) itu buruk. Jadi ketika dia baca tidak enak didengar“, berkata Bapak ku (yakni Abdurrahman), “Aduhai celaka engkau wahai Addaro Wardi kamu ini lebih butuh, lebih penting, lebih harus diprioritaskan memperbaiki cara pengucapan mu sebelum kamu belajar isi kitab ini atau sebelum belajar yang lain-lain coba perbaiki dulu cara bicaramu yang benar“. Karena nanti kalau orang ini sudah berilmu kemudian mengajar tetapi masih rungseb ketika mengajarnya, tidak enak didengar dan tidak masuk kedalam hati maka disuruh untuk memperbaiki terlebih dahulu hal tersebut. Ini berbicara tentang marhalah-marhalah tut ta’lim (fase-fase belajar) harus mendasar, harus bertahap dari yang paling dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi sehingga kesalahan, kekurangan, kekeliruan di tahap yang paling dasar itu ter perbaiki terlebih dahulu baru setelah semuanya siap dan mantap baru ke atas. Orang umpamanya membaca Al-Qur’an tajwidnya, makhrajnya masih salah, baca Al-Qur’annya umpamanya belum lancar ingin belajar nahwu shorof maka tidak bisa karena nanti dalam hal pengucapan baca banyak yang keliru dan banyak salahnya, salah panjang pendek itu bisa salah arti bahkan artinya bisa bertolak belakang. Maka perbaiki aspek yang paling mendasar terlebih dahulu ketika belajar ilmu.

Berkata Az-Zuhri kepada Yunus bin Yazid, “Janganlah kamu mengingkari ilmu, membantah ilmu, jangan sekali-kali membantah dalil“. Kitab kecil dengan judul Ta’zhimus Sunnah (mengagungkan sunnah) dibuku itu ada satu bab Ta’zilu ukubatin ma lam Ya Adzimi sunnah disegerakannya adzab, siksa, sanksi bagi orang yang menghinakan sunnah, bagi orang yang tidak mengagungkan sunnah. Salah satu contoh menghinakan sunnah itu membantah dalil dengan akal, bahaya didunia dan di akhirat. Didunia Allah akan mensegerakan adzab baginya, di akhirat seluruh amal-amalnya batal, terhapus dan diadzab oleh Allah azza wa jalla. Karena mendahulukan akal dan melanggar ayat ” لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya“. Mendahului Allah artinya membantah Al-Qur’an atau hadits dengan akal. Seperti umpamanya ada hadits, “Kalau ada seekor lalat hinggap di minuman kamu maka dicelupkan si lalatnya kemudian ambil dan buang (lalatnya dibuang bukan minumannya) karena disalah satu sayapnya ada penyakit dan disayap lainnya ada penawarnya” Ini hadits dan shahih jangan sekali-kali dibantah dengan akal dan pikiran atau perasaan kita sampai ada yang menyatakan, “Saya lebih percaya kepada dokter kafir daripada hadits ini“, jadi kalau begitu Nabi ﷺ berdusta atau tidak berdusta tetapi ngomong sembarangan atas nama agama ? apapun alasannya menolak hadits itu ada dua kemungkinan. Pertama tidak percaya kepada ucapan Nabi ﷺ dan Kedua Nabi ﷺ sembrono berbicara atas nama agama tentang perkara yang diluar bidangnya. Dua-duanya tuduhannya buruk kepada Nabi ﷺ. Hal ini termasuk membantah ilmu, membantah nash Al-Qur’an dan Sunnah. Nah, ada orang yang ketika menemukan sebuah hadits kata Nabi ﷺ, “Apabila kalian bangun tidur jangan kalian mencelupkan tangannya kedalam wadah atau minum sebelum dicuci karena kalian tidak tahu dimana kalian meletakkan tangan kalian selama tidur“, cuci dahulu baru makan ataupun minum. Ada seseoran mengatakan, “Ah, saya tidak perlu tahu dimana tangan saya diletakkan ketika tidur” dibantah itu hadits maka apa yang terjadi ? malam dia tidur keesokan harinya dia menemukan tangannya sudah masuk sampai sikutnya ke lubang duburnya wal iyaudzubillah. Didalam buku Al-Qolmuwin fii akhto Mushollin ketika menjelaskan tentang salah satu diantara kesalahan orang yang sholat dalam berjama’ah mendahului imam ada suatu kisah seorang ulama besar yang sangat dikagumi mengajar tentang islam ini tetapi wajahnya ditutup sehingga murid-murid tidak tahu bagaimana wajah gurunya. Kemudian ada salah satu muridnya yang penasaran, “Wahai guru kenapa engkau tutup wajahmu ?“, kata gurunya, “Kamu tidak ingin mengetahuinya“, kemudian “Beritahukan saya pasti akan normal dan wajar saja sikapnya“, kata gurunya, “Kalau kamu kekeh (memaksa) ingin melihat wajah saya datanglah setelah pengajian kerumah“. Akhirnya setelah pengajian datang kerumah lalu dia (gurunya) membuka penutup wajahnya. Si murid tadi merasa kaget sampai menjerit, ternyata wajahnya mirip seperti wajah keledai. Muridnya bertanya, “Apa yang terjadi wahai guru?“, kata guru, “Inilah adzab yang Allah segerakan kepada saya karena saya merendahkan sunnah. Ketika dulu saya masih jahil, saya mendahului imam ketika sholat lalu ditegur, lalu dibacakan hadits oleh orang yang menegur, ‘Jangan kamu mendahului imam atau wajah kamu nanti akan dirubah menjadi wajah himarun (keledai)’ kemudian saya tidak percaya dan sengaja mendahului imam awalnya tidak apa-apa namun begitu sampai dirumah lalu saya bercermin dan saya kaget setengah mati karena wajah saya berubah menjadi wajah himarun (keledai)“, dan itu dibahas oleh para ulama dalam bab Ta’zilu ukubatin ma lam Ya Adzimi sunnah disegerakannya sanksi bagi orang yang tidak mengagungkan sunnah. Maka gurunya berkata kembali, “Sejak saat itu saya taubat kepada Allah dengan sebenarnya lalu saya belajar dengan sungguh-sungguh dan saya sampai memahami agama ini dan mengajar“. Ini tidak terjadi pada setiap orang betapa banyak orang yang menghinakan sunnah bahkan Al-Qur’an tapi tidak disegerakan adzabnya oleh Allah didunia karena Allah benci kepada dia. Allah ingin menunda adzab itu di akhirat. Kalau disegerakan didunia berarti Allah cinta kepada dia dan diakhirat dia tidak lagi menerima adzab karena hal itu. Begitu disegerakan dia cepat dan takut bertaubat dari seluruh dosanya dan bebas di akhiratnya walaupun adzabnya sudah diberikan didunia. Berkata Az-Zuhri kepada Yunus, “Jangan kamu membantah ilmu karena ilmu itu audiyah, ilmu itu sesuatu yang sangat-sangat berharga. Ilmu mana saja yang kamu ambil, audiyah itu kata jamak dari wadi atau lembah. Ilmu itu lembah ibaratnya lembah yang sangat banyak. Berlembah-lembah. Ilmu mana saja yang kamu ambil dari lembah itu maka itu akan menjegal kamu sebelum kamu sampai kepadanya. Jadi kalau kamu bantah ilmu sudah ilmu itu tidak akan mau menjadi milik kamu selama-lamanya tetapi ambil-lah ilmu itu selama rentang beberapa lama dari waktu yang kamu lalui dan jangan kamu pelajari ilmu sekaligus karena siapa orang yang memaksakan diri mengambil ilmu sekaligus maka ilmu sebelumnya yang sudah dikuasai bisa hilang dari dirinya tetapi step by step dalam rentang waktu yang cukup panjang. Bagaimanapun luasnya ilmu menyebabkan waktu yang kita miliki tidak akan pernah cukup untuk menguasai walaupun hanya sebagaian besar dari ilmu hanya sedikit dari ilmu yang ada“. Inilah penjelasan beberapa ulama tentang masalah ilmu.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar