Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Larangan-Larangan Di Dalam Ihram Bagian 3

6. MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla Berfirman :

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan Ihram” (QS : Al Maidah 95)

“Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat selama kalian ihram” (QS : Al Maidah 96)

Di dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim : Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat, dalam keadaan para Sahabat sedang ihram dan Abu Qotadah tidak ihram. Mereka melihat seekor keledai liar, maka Abu Qotadah membunuhnya dan merekapun memakan dari nya. Kemudian mereka bertanya “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihram ?”. Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?” Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.

Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat yang ke 95 dari Surat Al Maidah :

✅ Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau

✅ Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5 kg beras, atau

✅ Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin

7. MENGADAKAN AKAD NIKAH,

Tidak boleh orang yang sedang melaksanakan Ikhram mengadakan akad nikah baik sebagai suami atau wali dan dilarang juga untuk melamar.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

“Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar” (HR Muslim)

8. BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL

Allāh Subhānahu wa Ta’āla Berfirman :

“Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji” (QS Al Baqarah : 197)

Masuk dalam makna Rofats :

1⃣ Berjima’ dengan kemaluan

2⃣ Memeluk

3⃣ Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok

Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal :

1⃣ Hajinya rusak

2⃣ Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut

3⃣ Diwajibkan untuk berhaji tahun depan

4⃣ Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah

Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla meridhai semuanya.

Adapun apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.

Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka :

1⃣ rusak umrohnya

2⃣ diharuskan untuk menyempurnakan umrohnya yang rusak

3⃣ diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama

4⃣ diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah

Dan apabila dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar