Skip to main content

Panduan Umat Islam dalam menjalankan tuntunan ibadah sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

Tafsir Surah Al-Insan

Surah Al-Insan adalah surah yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الجُمُعَةِ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَهَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering membaca pada hari Jumat dalam shalat fajar (subuh): ‘ALIF LAAM MIIM TANZIIL’ surah As-Sajadah, dan ‘HAL ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI’ (Surah Al-Insan).”([1])

Ini menunjukkan bahwa setiap pekannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud mengingatkan para sahabat untuk mendengar surah Al-Insan. Dan ini menunjukkan tentang pentingnya surah ini, terlebih lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakannya setiap shalat subuh pada hari Jumat yang hari tersebut merupakan hari raya pada setiap pekan bagi orang Islam, yang hari tersebut dibuka dengan mendengarkan tilawah surah al-Insan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membacakan surah Al-Insan setiap pekannya pada hari Jumat karena surah ini berbicara tentang hakikat manusia, yaitu dari mana dia berasal. Kemudian surah ini juga untuk menerangkan bahwasanya manusia diciptakan untuk di uji. Kemudian juga untuk menjelaskan bahwa kesudahan manusia hanya ada dua yaitu bersyukur atau kufur serta balasan bagi keduanya. Sehingga setiap pekannya kita diingatkan akan hakikat kita sebagai manusia, yaitu apa tugas kita di muka bumi untuk diuji, dan bagaimana kesudahan (hasil) dari ujian tersebut. Hal ini akan mendorong diri kita untuk senantiasa memperbaiki diri kita, agar kita bisa menuju kepada golongan orang-orang yang berhasil dalam ujian tersebut. Inilah di antara rahasia mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rutin membaca surah Al-Insan disetiap pekannya pada hari Jumat.

Surah Al-Insan memiliki enam nama. Yang pertama, surah ini disebut sebagai “Hal Ataa ‘Alal Insan”, dan nama inilah yang dikenal oleh para sahabat sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sebelumnya. Yang kedua, surah ini juga disebut dengan surah “Hal Ataa”. Yang ketiga, surah ini juga disebut dengan surah Ad-Dahr. Yang keempat, surah ini juga disebut dengan Al-Amsyaj. Dan penamaan dengan lafal Al-Amsyaj dikarenakan lafal ini tidak terdapat dalam surah-surah yang lain, kecuali hanya ada pada surah Al-Insan. Dan sebagaimana di antara kebiasaan dalam penamaan surah adalah mencari nama istimewa, yang ketika orang mendengar lafal tersebut, maka orang-orang bisa mengingat lafal dan sekaligus nama suratnya tersebut. Maka ditemukanlah lafal Al-Amsyaj yang artinya campuran. Yang kelima, surah ini disebut juga sebagai surah Al-Abrar, hanya saja kata-kata Al-Abrar banyak disebutkan dalam surah-surah yang lain. Dan yang keenam adalah surah Al-Insan itu sendiri karena lafal ini disebutkan di awal surah. Inilah di antara nama-nama surah Al-Insan([2]).

Diperselisihkan oleh para ulama tentang apakah surah Al-Insan ini surah Makkiyah atau Madaniyah. Ada tiga pendapat mengenai khilaf ini([3]). Pendapat pertama menyebutkan bahwa dari awal hingga akhir ayat ini merupakan Makkiyah. Pendapat kedua menyebutkan bahwa seluruh ayat dalam surah ini merupakan Madaniyah. Pendapat ketiga menyebutkan bahwa surah ini seluruhnya Makkiyah kecuali satu ayat yang Madaniyah, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan : 8)

Ayat inilah yang membuat sebagian ulama memandang bahwa dalam surah Al-Insan terdapat ayat Madaniyah, dan sebagian memandang bahwa seluruhnya adalah surah Madaniyah. Hal ini dikarenakan tawanan tidaklah ada kecuali setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika di Mekkah tidak memiliki tawanan, bahkan beliau diintimidasi dan diusir. Oleh karenanya ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini adalah Madaniyah.

Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh sebagian ulama. Karena nuansa ayat-ayat dalam surah ini adalah nuansa surah-surah Makkiyah, yaitu nuansa tentang hari kiamat, tentang orang-orang yang mendustakan hari akhir, dan tentang penciptaan. Kemudian para ulama juga membantah bahwa penyebutan tentang orang-orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan, tidak melazimkan bahwa ayat tersebut atau bahkan surah Al-Insan ini merupakan surah Madaniyah. Karena orang-orang Arab dahulu juga sering menawan orang-orang ketika terjadi pertikaian atau peperangan di antara kabilah-kabilah. Oleh karenanya tawanan tidak harus ada setelah terjadinya peperangan antara orang Islam dan orang kafir. Dan ada pula yang memberikan bantahan dengan mengatakan bahwa yang dimaksud tawanan dalam ayat ini adalah budak-budak. Sebagian lagi menyebutkan bahwa yang dimaksud tawanan adalah istri, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ

“Berbuat baiklah terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan di sisi kalian.”([4])

Karena istri adalah tawanan di rumah, maka seorang suami harus memberi makanan yang terbaik bagi istrinya.

Ini semua adalah sebagian di antara tafsiran kata أَسِير. Dan pendapat ini merupakan pendapat yang lebih kuat, wallahu a’lam bisshawwab. Oleh karenanya yang benar adalah seluruh di dalam surah Al-Insan adalah surah Makkiyah([5]).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan : 1)

Kata هَلْ merupakan kata istifhamiyah (kata tanya), sehingga jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka akan menjadi ‘apakah’ atau ‘bukankah’. Akan tetapi jika Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengajukan pertanyaan, bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengetahui jawabannya? Oleh karenanya disebutkan oleh Ahli Bahasa Al-Farra’ bahwa kalimat istifham di dalam Alquran hanya bisa bermakna dua, yaitu bisa sebagai penekanan (taqriri) atau bisa sebagai pengingkaran (ingkari) ([6]), dan kata istifham dengan dua makna ini banyak kita jumpai di dalam Alquran.

Yang benar dalam ayat ini adalah kata هَلْ di sini berfungsi untuk menekankan, sehingga maknanya menjadi قد (sungguh). Sehingga seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan “Sungguh, telah datang kepada manusia suatu zaman di mana mereka bukanlah sesuatu yang disebut” ([7]).

Adapun kata الْإِنْسَانِ dalam ayat ini, ada dua pendapat dikalangan para ahli tafsir,

Pendapat pertama mengatakan bahwa ال (Alif lam) dalam kata الْإِنْسَانِ adalah ال العهدية (Alif Lam Al-‘Ahdiyah) yang menunjukkan kepada manusia yang telah ditentukan yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam([8]). Maka sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini berbicara tentang Nabi Adam ‘alaihissalam. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala melalui ayat ini mengingatkan kita tentang nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam.

Nabi Adam ‘alaihissalam termasuk dari makhluk terakhir diciptakan. Oleh karenanya dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.”([9])

Dari hadits ini, secara urutan zaman penciptaan, Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan terakhir oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan kita dapati sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan bumi dan langit beserta isinya terlebih dahulu.

Maka dengan ayat ini seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan “Bukankah telah datang suatu zaman Wahai Adam, yang alam semesta telah ada sebelum engkau diciptakan jutaan tahun lamanya tanpa ada manusia”. Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa tanpa manusia pun alam semesta ini akan tetap berjalan. Maka di sini Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan bahwa telah ada suatu zaman di mana Nabi Adam ‘alaihissalam bukanlah sesuatu yang ada dan tidak pula disebutkan([10]), sehingga ini menunjukkan ketiadaan yang sempurna.

Akan tetapi sebagian Ahli Tafsir berpendapat bahwa maksud Allah ada masa dimana Nabi Adam telah ada namun tidak memiliki nilai sama sekali. Mereka mengemukakan pendapat ini berdasarkan maksud dari kata شَيْئًا مَذْكُورًا “sesuatu yang dapat disebut” sehingga dipahami bahwa Adam sudah sudah ada namun belum disebut-sebut, yaitu belum bernilai yaitu ketika Adam masih berupa jasad dari tanah belum ditiupkan ruh padanya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa ال (Alif Lam) dalam kata الْإِنْسَانِ merupakan ال للإستغراق (Alif Lam Lil-Istighraq) yang menunjukkan keumuman, yaitu seluruh manusia([11]). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr 1-3)

Manusia dalam ayat ini tidak menunjukkan satu orang, melainkan berlaku umum yaitu seluruh manusia. Oleh karenanya firman Allah Subhanahu wa ta’ala ini seakan-akan mengatakan “Wahai manusia, bukankah telah datang suatu zaman dimana kalian tidak ada dan tidak disebut-sebut”. Intinya adalah jika kita berbicara 100 atau ribuan tahun yang lalu, maka kita ini adalah sesuatu yang tidak ada dan bahkan tidak disebut-sebut.

Intinya adalah ayat ini bisa merujuk kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan bisa pula berlaku untuk seluruh manusia. Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan bahwasanya agar Nabi Adam ‘alaihissalam atau manusia seluruhnya itu tahu diri serta tidak sombong dan angkuh. Dan juga agar manusia itu ingat bahwasanya ada yang menciptakan mereka yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan : 2)

Ayat ini menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud الْإِنْسَانَ pada ayat sebelumnya adalah manusia secara keseluruhan dan bukan Nabi Adam ‘alaihissalam. Karena pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan penciptaan manusia dari nuthfah, sedangkan kita tahu bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan dari tanah. Oleh karenanya pendapat yang benar adalah bahwa الْإِنْسَانَ pada ayat ini dan sebelumnya adalah manusia secara umum, sehingga topik pembicaraan dalam surah ini adalah kepada kita semuanya.

Kata أَمْشَاجٍ secara bahasa artinya tercampur. Apa yang dimaksud tercampur di sini? Kalau kita kembali kepada perkataan para salaf tentang makna kata ini, maka ada khilaf di kalangan mereka.

Pendapat pertama mengatakan أَمْشَاجٍ adalah,

اِخْتِلاَطُ مَاءِ الرَّجُلِ وَمَاءِ الْمَرْأَةِ

“Percampuran antara air mani laki-laki dan air mani perempuan.”

Artinya, أَمْشَاجٍ adalah pertemuan antara air mani laki-laki dan sel ovum wanita yang kemudian menjadi nuthfah, dan inilah pendapat ini yang lebih kuat. Dahulu orang-orang Arab yang tidak memiliki pengetahuan tentang ini menyangka bahwa manusia itu berasal dari air mani laki-laki saja dan perempuan hanya berfungsi sebagai bejana yang menampung sperma tersebut untuk tumbuh. Mereka tidak tahu bahwasanya proses terjadinya manusia itu adalah percampuran antara sel sperma laki-laki dan sel ovum wanita. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya nuthfah tidak hanya dihasilkan dari sel sperma laki-laki. Dan di sini Allah Subhanahu wa ta’ala bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang Arab dahulu bahwasanya manusia terjadi dengan proses pertemuan sel sperma dan sel ovum, serta bukan sebagaimana persangkaan mereka. Berdasarkan tafsir ini maka menunjukan bahwa al-Qurán telah menjelaskan ilmu biologi yang tidak dipahami oleh orang-orang arab tatkala itu.

Pendapat kedua mengatakan bahwa أَمْشَاجٍ (bercampur) adalah tahapan-tahapan yang terjadi terhadap nuthfah, yaitu di mana yang awalnya sperma, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging), kemudian menjadi tulang belulang yang kemudian dibungkus dengan daging, dan jadilah manusia. Akan tetapi tafsiran ini dibantah Ibnu Jarir Ath-Thabari bahwa tafsiran ini kurang kuat karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala hanya berbicara tentang nuthfah semata. Adapun proses perkembangan janin setelah nuthfah (seperti ‘alaqah, mudghah dan seterusnya) tentunya tidak lagi dinamakan nuthfah, dan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak berbicara hal tersebut pada ayat ini.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa أَمْشَاجٍ maksudnya adalah pada nuthfah terdapat berbagai macam campuran atau untuk menjadikan sebuah nuthfah terdapat campuran-campuran. Adapun campuran-campuran apa saja, maka hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang tahu.

Pendapat keempat mengatakan bahwa أَمْشَاجٍ maksudnya adalah nuthfah terdiri dari bermacam-macam sebagaimana Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan dari berbagai macam tanah, sehingga akhirnya menjadikan manusia memiliki tabiat yang berbeda-beda.

Akan tetapi sebagaimana telah disebutkan bahwa pendapat yang paling kuat mengenai makna kata أَمْشَاجٍ adalah percampuran antara sel sperma dan sel ovum wanita([12]).

Kemudian pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang nikmat penciptaan manusia ini dengan tujuan untuk menguji manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan kita manusia hanya sekadar untuk senda gurau dan tanpa tujuan, melainkan semua Allah Subhanahu wa ta’ala ciptakan karena ada hikmah dibalik itu. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia tidak sebagaimana kita manusia yang tatkala melakukan sesuatu terkadang tidak memiliki tujuan dan hanya menghabis-habiskan waktu. Dan banyak di dalam Alquran ayat-ayat yang lain yang menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan untuk diuji. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“(Dia Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi : 7)

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam ayat ini bahwa tujuan penciptaan manusia itu adalah نَبْتَلِيهِ (untuk diuji).

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa penciptaan manusia adalah untuk diuji, maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

Kenapa Allah Subhanahu wa ta’ala mengkhusukan penyebutan mendengar dan melihat? Tidak lain karena dari dua sifat inilah seseorang sering diuji. Sebagaimana kita ketahui bahwa ucapan biasanya merupakan hasil dari apa yang seseorang kumpulkan dari mendengar dan melihat, oleh karenanya sumber ujian yang dihadapi oleh seseorang adalah pendengaran dan penglihatan. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Karenanya hendaknya seseorang berhati-hati dalam mendengar dan melihat, karena sesungguhnya pendengaran dan penglihatan merupakan ujian yang diberikan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa ta’ala atas apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat.

Tentunya ini menunjukkan akan beratnya kehidupan kita sekarang ini. Saat ini sudah terlalu banyak yang kita lihat dan dengar, sehingga akhirnya hal tersebut berkumpul di dada kita yang kemudian tidak jarang kita keluarkan dalam bentuk komentar, akhirnya semakin banyak hal yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya ketika kita telah sadar bahwa pendengaran dan penglihatan kita akan dan sedang diuji serta akan dimintai pertanggungjawaban, maka hendaknya kita berhati-hati dalam mendengar dan melihat.

Dahulu para salaf melarang yang namanya fudhul nadzhar (Kepo ingin tahu dengan melihat), yaitu kurang kerjaan melihat sana-sini. Setiap kali berjalan dia akan menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat-lihat, dan setelah dia tahu maka pasti dia akan mengomentari apa yang dia lihat. Sedangkan kita sekarang berada di zaman yang rasa ingin tahunya sangat tinggi. Padahal ketika kita mengumbar pandangan, maka sejatinya saat itulah kita diuji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula sama halnya dengan mendengar, maka sering kita kepo dengan mendengar hal-hal yang bukan urusan kita dan tidak perlu untuk kita dengar. Padahal pendengaran kita diuji oleh Allah dan akan dimintai pertanggung jawaban.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan : 3)

Perhatikanlah dalam ayat ini. Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menguji seseorang dengan pendengaran dan penglihatan seseorang, maka Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian menyebutkan adanya dua model hasil manusia dari ujian tersebut yaitu bersyukur atau kufur. Kalau kita kembali kepada bahasa Arab, maka شَاكِرًا merupakan bentuk isim fa’il yang artinya bersyukur dan كَفُورًا merupakan bentuk sighoh mubalaghah sehingga artinya adalah sangat kufur.  Kenapa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menggunakan sifat mubalaghah pada kata syukur sebagaimana kata kufur? Para ulama menjelaskan bahwa alasannya adalah karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menuntut manusia untuk bersyukur dengan sangat tinggi karena manusia tidak akan mampu. Bagaimana pun seseorang berusaha untuk bersyukur dengan semestinya pasti tidak akan bisa karena nikmat yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan terlalu banyak, sementara kita tidak bisa mempertanggungjawabkannya([13]). Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan,

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: ‘Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa Anda yang telah berlalu dan yang akan datang?’ Beliau bersabda: ‘Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?’.”([14])

Jika seseorang bisa sampai derajat شَكُورًا (sighoh/bentuk mubaalaghoh dari شَاكِر yang berarti sangat bersyukur), maka bisa dikatakan dia telah sampai pada derajat wali-wali Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengatakan شَاكِرًا, artinya seseorang bersyukur (biasa) pun sudah bisa memasukkannya ke dalam surga. Hanya saja kita harus ingat bahwa surga itu bertingkat-tingkat. Akan tetapi ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut kata kufur, Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan sifat mubalaghah yang menunjukkan sangat kufur. Artinya adalah jika seseorang kufur nikmatnya sedikit mungkin Allah Subhanahu wa ta’ala akan maafkan, dan tidaklah Allah Subhanahu wa ta’ala mengazab seseorang kecuali dia sangat kufur nikmat. Kalau sudah seperti ini, apa lagi yang kurang dari Maha Baiknya Allah Subhanahu wa ta’ala?

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا

“Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Insan : 4)

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa model manusia itu ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur, maka kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang balasan bagi masing-masing orang yang kufur dan orang-orang yang bersyukur. Dan pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan balasan bagi orang yang kufur nikmat.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mengazab seseorang dengan berbagai macam model. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa azab Allah Subhanahu wa ta’ala bagi penghuni neraka sangatlah beragam. Ada yang diazab dengan lembah wail, ada yang diazab dengan memanjat gunung yang sangat panas, dan siksaan lainnya seperti yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat ini berupa rantai-rantai, belenggu-belenggu, dan api yang menyala-nyala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

“Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS. Al-Insan : 5)

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang orang-orang penghuni neraka yang kufur nikmat, kemudian Dia menyebutkan tentang penghuni surga yang bersyukur.

Kata الْأَبْرَارَ dalam ayat ini merupakan jamak dari الْبَر yang artinya adalah orang yang sangat baik. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa الْبَر secara bahasa menunjukkan keluasan, sebagaimana daratan juga disebut dengan الْبَر. Oleh karenanya tidaklah seseorang dikatakan الْأَبْرَارَ kecuali dia telah melakukan kebajikan yang banyak, dan tentunya balasan surga bagi orang-orang tersebut adalah surga yang tertentu. Intinya adalah kalau dia bersedekah maka sedekahnya pasti banyak, kalau dia shalat malam maka shalat malamnya banyak, kalau dia baca Alquran maka bacaannya banyak, dan amalan lain yang dilakukannya pasti telah banyak.

Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa الْأَبْرَارَ artinya orang mengumpulkan dua hal, yaitu berbuat baik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak mengganggu orang lain. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa yang disebut dengan orang saleh adalah orang yang menunaikan hak Allah Subhanahu wa ta’ala dan menunaikan hak manusia. Ketika seseorang telah menunaikan hak Allah Subhanahu wa ta’ala dan hak manusia, maka dia telah dikatakan orang yang saleh atau dengan kata lain Al-Abrar.

Sebagian ulama yang lain berpendapat sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang berkata,

إِنَّمَا سَمَّاهُمُ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ الْأَبْرَارَ لِأَنَّهُمْ بَرُّوا الْآبَاءَ وَالْأَبْنَاءَ

“Sesungguhnya mereka disebut oleh Allah dengan Al-Abrar karena mereka berbuat baik kepada orang tua dan anak-anak mereka.”([15])

Sebagian orang sangat perhatian kepada orang tuanya akan tetapi kurang perhatian terhadap anak-anaknya. Akhirnya anak-anak mereka dibiarkan bebas tanpa diperhatikan shalatnya, tidak diperhatikan bacaan Alquran-nya, atau tidak dibangunkan pada waktu shalat dengan berbagai macam alasan kesibukan. Atau sebaliknya sebagian orang berbuat baik kepada anaknya namun tidak perhatian kepada orang tuanya. Keinginan anaknya sering dia penuhi, akan tetapi jangankan untuk memenuhi keinginan orang tuanya, menjenguknya pun mungkin sudah tidak pernah. Dan yang lebih parah lagi adalah orang yang tidak memperhatikan keduanya, orang tua maupun anak. Dia beranggapan bahwa anak itu cukup diberi kebutuhan dunianya berupa makanan, padahal jika anak hanya butuh yang demikian maka hewan pun bisa melakukannya. Sesungguhnya yang membedakan antara kita dengan hewan adalah bagaimana kita berjuang mendidik anak agar bisa menjadi anak yang baik dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka orang-orang yang demikian tidak bisa dikatakan seorang orang yang Al-Abrar. Adapun jika seseorang telah berbuat baik kepada orang tuanya dan anak-anaknya, maka barulah dia dikatakan Al-Abrar sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Tafsiran yang lain, Al-Hasan al-Bashri berkata,

الْأَبْرَارُ الَّذِينَ لَا يُؤْذُونَ أَحَدًا

“Al-Abrar adalah yang tidak mengganggu seorang pun.”([16])

Maka ingatlah bahwa jika kita ingin tergolong ke dalam orang-orang yang Al-Abrar, perbanyaklah berbuat kebaikan, tunaikan hak Allah Subhanahu wa ta’ala dan hak manusia, serta jangan sampai menzalmi orang.

كَأْسٍ maksudnya adalah gelas yang telah ada isinya. Jadi penduduk surga akan minum dari gelas yang berisi khamr di akhirat yang disediakan oleh pelayan-pelayan. Adapun كَافُورًا yang dimaksud dalam ayat ini adalah semacam zat yang telah dikeluarkan dari sebuah pohon tua yang berwarna putih serta bau yang harum dan asalnya tidak untuk diminum([17]). Sehingga para ulama menyebutkan bahwa campuran kafur di sini adalah dari sisi harum dan warnanya yang putih. Adapun rasa dari minuman tersebut adalah tetap khamr, dan tentunya khamr di dunia berbeda dengan khamr di akhirat. Allah Subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan kafur agar orang-orang mudah untuk paham bahwa tidak ada di atas muka bumi yang sama hakikatnya dibandingkan dengan apa yang ada di akhirat. Sebagai contoh adalah pohon di akhirat tidak sama dengan pohon di dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا فِي الجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ

“Tidak ada pohon di surga kecuali dahannya (batangnya) terbuat dari emas.”([18])

Demikian pula sungai di surga disebutkan,

أَنَّ أَنْهَارَهَا تَجْرِي مِنْ غَيْرِ أُخْدُودٍ

“Bahwa sungai-sungai di surga mengalir tanpa ada lubang.”([19])

Oleh karenanya jangan kemudian kita membayangkan bahwa yang dimaksud kafur adalah kapur barus yang ada di dunia.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

“(yaitu) mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Insan : 6)

Perhatikan dalam ayat ini. Jika kita merujuk kepada tatanan bahasa Arab yang benar, maka kata عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا (mata air yang diminum dengannya) seharusnya ditulis dengan عَيْنًا يَشْرَبُ مِنْهَا (mata air yang diminum darinya). Akan tetapi ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata بِهَا (dengannya), sehingga sulit bagi kita untuk memahami maknanya. Kalau gelas maka cocok kita katakana “minum dengannya”, namun kalau mata air mestinya kita katakana “minum darinya” bukan “denganya”. Maka para ulama menyebutkan bahwa ada yang namanya ushlub dalam Alquran yang namanya أُسْلُوْبُ التَّضْمِيْنِ (metode yang digunakan untuk mengiysaratkan ada kandungan yang lain), yaitu ada isyarat kata kerja yang tersembunyi dalam kata kerja tersebut. Bagaimana maksudnya? Sebagaimana kita tahu bahwa orang -orang di surga minum bukan karena kehausan karena tidak ada yang haus dan tidak ada yang lapar. Kata Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى، وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

“Sungguh, untukmu di sana engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (QS. Thaha : 118-119)

Akan tetapi manusia minum di surga karena berlezat-lezat. Maka jika menggunakan lafal مِنْهَا maka seakan-akan orang-orang akan minum karena sebab haus. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala ingin menyatakan bahwa dalam lafal minum tersebut ada makna kelezatan, dan kelezatan kata gandengnya adalah بِهَا. Maka para ulama mengatakan bahwa penggunaan kata بِهَا memberikan makna “Minum dari mata air dengan kelezatan”. Dan para ulama menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata بِهَا agar orang-orang tidak menyangka bahwa penduduk surga minum karena kehausan, serta Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menggunakan kata lezat secara langsung agar tidak dikira bahwa lezat yang dialami oleh penduduk surga karena hanya sekedar memandang mata air tersebut([20]).

Kemudian para salaf menyebutkan bahwasanya makna kata يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (memancar sebanyal-banyaknya) adalah dimana para penduduk surga hendak minum maka mereka tinggal mengeluarkan mata air. Di mana pun mereka berada mata air bisa keluar. Dan sebagian salaf mengatakan bahwa setiap penduduk surga memegang sebuah tongkat yang mereka tinggal mengarahkannya maka air akan keluar dari tempat tersebut([21]). Maka para penduduk surga tidak perlu berjalan untuk mencari mata air, akan tetapi kapan saja mereka butuh maka mereka bisa tinggal menunjuk dan mata air akan keluar dan minum dari situ. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan kata يُفَجِّرُون untuk menerangkan bahwa merekalah (penduduk surga) yang mengeluarkan mata air tersebut. Dan ini adalah nikmat yang sangat luar biasa.

Tatkala kita membaca tentang kenikmatan yang luar biasa yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang-orang yang Al-Abrar, maka kita akan bertanya-tanya bagaimana cara kita bisa mendapatkan kenikmatan tersebut. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala pun memberikan jawaban dengan menyebutkan tentang sifat orang-orang Al-Abrar (saleh) yang berhak mendapatkan nikmat-nikmat tersebut.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang keburukannya merata di mana-mana (tersebar).” (QS. Al-Insan : 7)

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat orang-orang Al-Abrar adalah memenuhi nazar. Nazar pada ayat ini bukan hanya nazar sebagaimana pengertian yang kita ketahui seperti berjanji kepada Allah Subhanahu wa ta’ala akan melakukan sesuatu jika mendapatkan sesuatu. Bahkan para ulama mengatakan nazar yang seperti ini hukumnya adalah makruh. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

لَا تَنْذِرُوا، فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Janganlah kalian bernazar, karena nazar sedikitpun tidak akan merubah takdir. Dan nazar itu dikeluarkan hanya dari orang bakhil.”([22])

Nazar yang seperti ini adalah nazar muqayyad dan hukumnya makruh. Maka nazar yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah nazar tersebut, melainkan nazar mutlaq yang seseorang mengilzamkan dirinya untuk melakukan sesuatu tanpa ada syarat.

Atau maksud yang lain dia berusaha menunaikan nazarnya adalah dia benar-benar bertekad untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata يُوفُونَ yang termasuk fi’il mudhari yang menunjukkan mereka selalu menunaikan nazar mereka. Artinya adalah mereka senantiasa memperbaharui diri mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala([23]).

Sifat kedua dari Al-Abrar adalah mereka takut kepada hari kiamat yang pada hari tersebut keburukannya (azab) akan mudah tersebar karena adanya hisab, persidangan, mizan, dan sirath. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengatakan hari kiamat dengan Ath-Thammah yang artinya malapetaka yang tersebar dan tidak seorang pun dapat menghindarinya. Dan lagi-lagi Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata يَخَافُونَ yang merupakan fi’il mudhari, sehingga maksudnya adalah mereka senantiasa takut pada hari kiamat waktu demi waktu, sehingga mereka senantiasa beramal saleh([24]). Akan tetapi perlu diperhatikan di sini bahwa ketakutan mereka bukan tatkala tiba hari kiamat, melainkan mereka takut pada hari kiamat ketika di dunia. Karena orang-orang beriman pada hari kiamat diberikan rasa tenteram oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri.” (QS. ‘Abasa : 38)

Orang-orang beriman pada hari kiamat wajahnya akan berseri-seri tanpa rasa takut.

Allah juga berkata :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

“Barangsiapa yang membawa kebaikan, makai a memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tentram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu” (QS An-Naml : 89)

Adapun rasa takut mereka terhadap hari kiamat adalah tatkala mereka masih hidup di dunia. Dan ketakutan tersebut berjalan terus waktu demi waktu.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan : 8)

Sifat yang ketiga dari Al-Abrar adalah memberi makan yang dia sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Memberi makan adalah sifat yang sangat mulia dalam Islam, dan banyak disebutkan dalam Alquran maupun hadits-hadits tentang keutamaannya. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan dan laksanakanlah shalat pada saat manusia tertidur niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”([25])

Oleh karenanya di antara yang menyebabkan orang-orang kafir masuk neraka adalah karena tidak memberi makan. Dalam surah Al-Muddatstsir Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

“(ditanyakan kepada mereka) ‘Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin’.” (QS. Al-Muddatstsir : 42-44)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ، فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ، وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un : 1-3)

Adapun sifat orang yang beriman adalah sebaliknya yaitu senantiasa memberi makan kepada orang miskin.

Dan yang perlu kita perhatikan di sini adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa makanan yang diberikan kepada orang lain adalah makanan yang mereka sukai. Artinya adalah makanan yang diberikan bukan makanan yang tidak disukai. Oleh karenanya dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh (tingkatan) kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali-‘Imran : 92)

Banyak di antara kita tatkala memberi suatu pemberian kepada tetangga biasanya dengan sesuatu yang tidak kita butuhkan, atau karena takut makanan tersebut basi, atau bahkan untuk mengurangi perabot isi rumah atau dapur. Akan tetapi yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat ini adalah kita memberikan barang yang kita butuh atau sukai.

Kepada siapa pemberian itu dikasih? Yaitu orang-orang miskin, anak yatim dan tawanan.

Orang miskin

Orang miskin disebut pertama kali karena jumlahnya lebih banyak daripada anak yatim dan tawanan, sehingga orang-orang miskin sangat mudah kita jumpai disekitar kita. Miskin terbagi menjadi dua, pertama adalah orang miskin yang langsung meminta kepada kita (mengetuk pintu), dan yang kedua adalah orang miskin yang kita mengetuk pintu mereka (mencari). Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta” (QS. Al-Ma’arij : 25)

Orang miskin jenis pertama yang meminta-minta kita tahu modelnya seperti apa. Yaitu mereka yang meminta-minta di jalan, di rumah, dan yang lainnya. Dan orang seperti ini juga perlu kita bantu. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan jenis orang miskin kedua yang beliau isyaratkan dalam sabda beliau,

لَيْسَ المِسْكِينُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنِ المِسْكِينُ الَّذِي لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلاَ يُفْطَنُ بِهِ، فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلاَ يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

“Bukanlah disebut miskin orang berkeliling meminta-minta kepada manusia dan bisa diatasi dengan satu atau dua suap makanan atau satu dua butir kurma. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak mendapatkan seseorang yang bisa memenuhi kecukupannya, dan kondisinya tidak diketahui orang sehingga orang tidak bersedekah kepadanya, dan orang yang tidak meminta-minta kepada manusia.”([26])

Inilah jenis orang miskin kedua yang harus kita cari, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa orang seperti inilah orang miskin yang sesungguhnya. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Orang jahil yang tidak tahu, (mereka) menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 273)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa orang miskin yang tidak meminta-minta bisa untuk dikenali ciri-cirinya. Bukankah raut wajah orang kaya dan orang miskin berbeda? Mungkin dia kerja di kantor dengan pakaian berdasi, akan tetapi bisa saja ternyata penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dan orang seperti ini adalah orang dengan ciri yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

المِسْكِينُ الَّذِي لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ

“Orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan seseorang yang bisa memenuhi kecukupannya.” ([27])

Yaitu dia telah berusaha bekerja namun tidak mencukupi kebutuhannya.

Maka lihatlah teman-teman kita, terlebih teman-teman kita di masjid. Kita bisa tahu mana yang membutuhkan bantuan dari raut wajahnya, dari air matanya ketika berdoa, dan yang lainnya. Contohnya adalah ada orang yang anaknya berminggu-minggu tidak masuk sekolah padahal telah waktunya masuk sekolah. Setelah dicek ternyata dia tidak bisa beli baju sekolah, atau tidak bisa bayar iuran bulanan, sehingga akhirnya tidak sekolah. Ada pula sebagian orang ketika hari raya, anak-anak mereka tidak keluar rumah karena malu tidak memiliki baju baru saat lebaran. Bahkan mungkin shalat Ied pun mereka tidak keluar karena saking malunya. Oleh karenanya orang miskin seperti inilah yang kita cari, kita ketuk rumahnya, lalu kita bantu.

Maka ingatlah bahwa orang miskin itu ada dua, orang miskin yang mengetuk pintu rumah kita dan kita memberikan apa yang dibutuhkan, dan orang miskin yang kita mengetuk pintu rumahnya untuk memberi bantuan. Akan tetapi ketahuilah bahwa orang yang mencari orang miskin untuk dibantu itu lebih utama daripada menunggu orang miskin datang ke rumahnya.

Anak Yatim

Definisi anak yatim secara syar’i adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sementara ia belum baligh([28]). Sehingga selama dia telah baligh maka tidak lagi dia dikatakan sebagai anak yatim. Adapun jika ibu yang meninggal maka anak tidak dikatakan anak yatim karena ayahnya masih bisa mencari nafkah untuknya atau nikah lagi untuk mendapatkan ibu untuk mengayomi sang anak. Akan tetapi kebanyakan yatim di tanah air kita, ketika mereka telah baligh tetap menjadi orang miskin. Status yatim mereka mungkin telah lepas, akan tetapi mereka masuk kategori miskin karena tidak ada yang memperhatikan mereka atau bahkan mereka belum bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Maka jika sebelumnya kita telah menyantuni mereka ketika masih yatim, maka tidak mengapa untuk kita lanjutkan bantuan tersebut karena status mereka menjadi orang miskin.

Tawanan

Orang yang selanjutnya disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah tawanan. Biasanya yang menjadi tawanan orang-orang muslim adalah orang-orang kafir. Dan ijma’ para ulama menyebutkan bahwa ini dalil yang menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang kafir yang menjadi tawanan pun bernilai pahala meskipun disebutkan terakhir, selama hal tersebut mendatangkan maslahat. Maka meskipun tawanan itu orang kafir, maka tidak mengapa untuk kita bantu. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita membantu orang-orang yang kesusahan baik itu muslim ataupun kafir.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“(mereka berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu’.” (QS. Al-Insan : 9)

Para ulama menyebutkan bahwa orang-orang beriman yang memberi makan tersebut mengatakan perkataan ini di dalam hati mereka (tidak diucapkan).

Ayat ini menegaskan bahwa mereka melakukannya (memberi makan) dengan ikhlas. Dan di ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya tidaklah memberi makan itu berpahala kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas. Oleh karenanya dari ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengajarkan kita bahwa tatkala seseorang berbuat baik kepada seseorang, sejatinya dia sedang bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dan bukan kepada orang tersebut. Dan di sini Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyuruh kita untuk memberi untuk mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala dan bukan mengharap balasan dan terima kasih dari orang yang diberi.

Dan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya tentang orang miskin, maka bukti bahwa kita memberi untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dengan mencari orang miskin untuk dibantu, bukan menunggu untuk didatangi. Ingatlah bahwa tidak harus kita menunggu didatangi dan merendahkan diri agar kita memberi. Karena di antara mereka ada yang pemalu dan tidak berani untuk meminta, sehingga kitalah yang harus mendatangi mereka dan menawarkan bantuan. Dan menawarkan bantuan lebih menunjukkan keikhlasan seseorang dalam beramal. Oleh karenanya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika memberi bantuan kepada orang, maka dia akan mengirim budak perempuannya untuk membawakan pemberian tersebut. Kemudian ‘Aisyah memerintahkan untuk budaknya menunggu hingga mendengar apa yang diucapkan orang tersebut. Ketika orang tersebut mengucapkan doa untuk ‘Aisyah, maka dia pun juga mendoakan orang tersebut karena tidak menginginkan balasan doa tersebut dan hanya mengharapkan ganti dari Allah di akhirat kelak.

Tatkala kita memberi, maka di hadapan kita ada dua pilihan, balasan terima kasih dari manusia atau menunggu balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau kita ingin mengharapkan balasan dari Allah bagi orang-orang Al-Abrar, maka jangan berharap dari manusia balasan apa pun meskipun hanya sekedar terima kasih. Sungguh perkara ini adalah hal yang berat, namun demikianlah sifat-sifat orang-orang Al-Abrar yang mereka memberi dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka ayat ini menerangkan bahwa ada dua model manusia, yaitu yang memberi dan yang diberi. Orang yang memberi diperintahkan oleh syariat agar tidak mengharap balas budi dari orang yang diberi. Jangankan mengharap balas budi, mengharap terima kasih pun tidak diperbolehkan. Hal ini untuk menjaga keikhlasannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika diberikan pilihan untuk mendapatkan balasan pujian di dunia atau balasan dari Allah di akhirat, maka hendaknya dia memilih balasan di akhirat agar yang diberi pun tidak perlu melakukan balas budi dan berterima kasih. Adapun orang yang diberi diperintahkan oleh syariat untuk pandai berterima kasih. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”([29])

Maka kewajiban seseorang yang dibantu adalah berterima kasih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersada,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Dan barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, kemudian apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.”([30])

Oleh karenanya lihatlah posisi kita. Jika kita diposisi yang memberi maka hendaknya kita tidak berharap balas budi maupun terima kasih karena muamalah kita adalah dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga kita hanya berharap balasan dari Allah. Bahkan mungkin kita berterima kasih kepada orang yang kita bantu karena dengannya Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan kepada kita pintu untuk beramal saleh. Adapun jika posisi kita sebagai orang yang diberi maka hendaknya kita tahu diri untuk berterima kasih. Jika kita mampu untuk membalas budi dengan yang semisal, maka hati kita tidak akan tergantung kepadanya dan itu adalah perbuatan yang lebih baik. Karena bagaimanapun juga orang yang diberi seringnya tampak rendah daripada orang yang memberi.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

“Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan : 10)

Kata عَبُوسًا dalam bahasa Arab maknanya adalah mengkerutkan dahi. Artinya mereka melihat kejadian yang sangat dahsyat sehingga pada hari kiamat dia dalam kondisi demikian, dan takut yang bercampur dengan kegelisahan.

Adapun قَمْطَرِيرًا terdapat dua tafsiran di kalangan para ulama. Tafsiran yang pertama maksudnya adalah شدة, yang maksudnya adalah dia merasa berat pada hari tersebut. Tafsiran yang kedua maksudnya طويلا, yaitu adalah kesulitan yang dihadapi pada hari itu terasa sangat panjang. Bagaimana hari tersebut tidak menjadi hari yang berat, sedangkan di padang mahsyar orang-orang kafir akan menjalani tahapan-tahapan pada hari itu yang satu harinya seperti lima puluh ribu tahun sehingga terasa sangat lama([31]).

Dan telah kita sebutkan pula bahwa orang-orang beriman itu takut dengan hari kiamat. Akan tetapi ketika mereka sampai pada hari tersebut, maka Allah Subhanahu wa ta’ala menghilangkan rasa takut mereka dan menggantinya dengan ketenangan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

“Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan (buruknya) hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (QS. Al-Insan : 11)

Hari kiamat adalah hari yang buruk dan penuh kesusahan. Akan tetapi keburukan dengan segala kedahsyatannya dicegah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga tidak mengenai orang-orang yang beriman. Oleh karenanya dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa akan melindungi mereka. Tidak lain Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi orang-orang beriman pada hari kiamat karena sewaktu di dunia mereka senantiasa takut akan hari kiamat. Adapun orang-orang kafir di dunia tidak pernah merasa takut dengan hari kiamat, bahkan merasa aman darinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا، إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq : 13-14)

Oleh karenanya takut dengan hari kiamat itu adalah ibadah. Dan rasa takut itu merupakan sebab seseorang dilindungi pada hari kiamat kelak. Oleh karenanya kita belajar tentang dahsyatnya hari kiamat, dahsyatnya hisab, dahsyatnya mizan, dan dahsyatnya sirath, tidak lain agar tumbuh rasa takut dalam diri kita setelah menyadari akan betapa banyak kekurangan dan kesalahan kita. Dan rasa takut terhadap hari kiamat itu akan Allah Subhanahu wa ta’ala berikan balasan berupa perlindungan dari buruknya hari tersebut.

Selain Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi orang-orang beriman dari keburukan hari kiamat, Allah Subhanahu wa ta’ala juga akan memberikan mereka نَضْرَةً وَسُرُورًا. نَضْرَةً dalam bahasa Arab adalah keindahan yang berkaitan dengan fisik. Yaitu orang-orang beriman akan diberikan fisik yang putih (bercahaya) dan wajah yang berseri-seri. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ

“Pada hari itu ada wajah yang putih.” (QS. Ali-‘Imran : 106)

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri.” (QS. ‘Abasa : 38)

Adapun وَسُرُورًا adalah balasan yang berkaitan dengan batin([32]). Yaitu akan dimasukkan dalam hati-hati orang beriman kebahagiaan dan kegembiraan. Inilah dua balasan yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka pada hari kiamat kelak.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra.” (QS. Al-Insan : 12)

Huruf ما di dalam ayat ini adalah Ma Al-Maushulah yang bermakna الذي. Dan dalam Ushul Fiqh, Ma Al-Maushulah memberikan faedah keumuman. Jika demikian, maka arti ayat ini adalah “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena seluruh kesabaran mereka (di dunia) berupa surga dan (pakaian) sutra”. Oleh karenanya kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini mencakup seluruh kesabaran.

Sebagian ulama ada yang membagi kesabaran menjadi tiga,

Sabar dalam menjalankan ketaatan. Menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala membutuhkan kesabaran. Di antaranya adalah sabar dalam mendirikan shalat, sabar untuk bangun malam, sabar dalam berlisaturahmi, atau sabar dalam bergaul dengan kawan-kawan.

Sabar dalam meninggalkan maksiat. Sabar dalam meninggalkan maksiat juga merupakan hal yang berat di zaman ini. Di antaranya adalah sabar untuk menundukkan pandangan, sabar untuk tidak melihat gambar maupun video wanita yang memperlihatkan aurat, dan yang lainnya.

Sabar ketika ditimpa musibah. Ketika seseorang ditimpa dengan musibah, maka orang harus bisa bersabar. Bisa jadi musibah itu berupa kezaliman orang lain terhadap kita, atau kehilangan harta, atau dihina dan dicaci. Maka kita harus bersabar karena hidup ini memang adalah ujian.

Dan sebagian ulama yang lain membagi kesabaran menjadi empat, tiga di antaranya sebagaimana yang disebutkan di atas. Adapun yang keempat adalah sabar sejak pertama kali terkena musibah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa sabar jenis keempat ini adalah sabar tingkat tinggi([33]). Dan ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang musibah).” ([34])

Tatkala seseorang terkena musibah, maka seketika itu pula dia langsung bersabar dengan berucap “qadarullah wa-ma-syaa-a fa’ala”. Atau bisa juga berucap,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah : 156)

Pada dasarnya sabar yang keempat ini merupakan bagian dari sabar jenis ketiga, yaitu sabar ketika ditimpa musibah. Akan tetapi sebagian ulama menyebutkan sabar ini menjadi sabar yang keempat karena memiliki keutamaan yang lebih tinggi.

Intinya adalah hidup ini isinya adalah ujian. Maka seseorang harus bersabar dengan segala ujian tersebut agar dia mendapat balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala berupa surga. Dan nikmat lain yang akan di dapatkan oleh penghuni surga adalah mereka masuk surga dengan menggunakan pakaian dari sutra. Padahal kita tahu bahwa di dunia laki-laki dilarang menggunakan sutra. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ لَبِسَ الحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الآخِرَةِ

“Barangsiapa mengenakan kain sutra di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat kelak.”([35])

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا

“Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.” (QS. Al-Insan : 13)

الْأَرَائِكِ merupakan jamak dari kata أَرِيْكَةْ. Adapun أَرِيْكَةْ artinya adalah سَرِيْر (tempat tidur) namun telah dihias. Oleh karenanya yang dimaksud الْأَرَائِكِ adalah tempat tidur yang telah dihias dengan selimut, kelambu, dan bantal-bantal([36]). Adapun مُتَّكِئِينَ adalah kondisi di mana seseorang berada di antara duduk dan berbaring, yaitu bersandar([37]). Maka tatkala orang-orang beriman masuk ke dalam surga, maka mereka bersandar di atas dipan atau tempat tidur yang telah dihias sambil bersantai dan bercakap-cakap dengan istri dan bidadari.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan dalam ayat ini bahwa kelak di surga tidak ada matahari yang panas dan tidak pula rasa dingin yang menusuk, karena memang pada hari kiamat matahari dan bulan ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

“Dan (pada hari itu) matahari dan bulan dikumpulkan.” (QS. Al-Qiyamah : 9)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa matahari dan bulan akan dilemparkan ke dalam neraka. Maka tidak ada kepanasan dan kedinginan, yang ada hanyalah rasa sejuk. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berkata kepada Nabi Adam ‘alaihissalam,

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى، وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

“Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (QS. Thaha : 118-119)

Intinya para penghuni surga tidak akan kepanasan dan tidak pula kedinginan, melainkan hawanya sejuk yang menyenangkan penghuni surga.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا

“Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik buahnya.” (QS. Al-Insan : 14)

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa pohon di dunia berbeda dengan pohon di surga. Dan di sini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa pohon-pohon yang tinggi di surga memiliki naungan yang rendah sehingga membuat para penghuni surga nyaman. Para ulama menyebutkan bahwa meskipun tidak ada panas di dalam surga, Allah Subhanahu wa ta’ala tetap memberikan naungan. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan bahwa tidak ada rasa lapar dan haus di surga, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala berikan makan dan minum untuk berlezat-lezat dengannya. Maka meskipun di surga tidak ada panas, Allah Subhanahu wa ta’ala tetap memberikan naungan dari pohon untuk menambah keindahan surga.

Kemudian penghuni surga akan dimudahkan untuk mendapatkan buah-buah di surga. Kata ذُلِّلَتْ artinya adalah ditundukkan. Para ulama menyebutkan dalam buku-buku tafsirnya bahwa kapan saja penghuni surga menginginkan buah, maka buah tersebut akan datang mendekat kepadanya dan langsung dimakan([38]). Dan dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

“Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haqqah : 23)

Artinya tidak ada orang yang memanjat pohon untuk mengambil buah. Semua buah-buahan akan datang sendiri sesuai kehendak setiap orang, baik orang tersebut dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring.

Demikianlah surga dengan segala puncak kenikmatannya. Bahkan karena surga adalah tempat puncaknya kenikmatan, maka tidak ada orang yang tidur di surga. Oleh karenanya tatkala ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنَامُ أَهْلُ الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَأَهْلُ الْجَنَّةِ لَا يَنَامُونَ

“Wahai Rasulullah, apakah penduduk surga tidur?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Tidur itu adalah saudara kematian, dan penduduk surga tidak tidur’.”([39])

Kalau sekiranya penduduk surga tidur di dalam surga, maka saat itu dia sedang tidak merasakan kenikmatan. Sedangkan di surga seseorang tidak boleh berhenti dari kenikmatan. Oleh karenanya penduduk surga akan terus merasakan kenikmatan demi kenikmatan tanpa ada tidur.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا، قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا

“Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan cangkir-cangkir yang bening laksana kristal, kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka).” (QS. Al-Insan : 15-16)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ

“Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak.”

Pada hari kiamat kelak, akan diedarkan bagi para penghuni surga bejana-bejana yang terbuat dari perak. Dalam ayat yang lain menyebutkan,

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ

“Kepada mereka diedarkan piring-piring dari emas.” (QS. Az-Zukhruf : 71)

Maka yang diedarkan kepada para penghuni surga itu beragam, ada yang dari perak dan ada pula yang dari emas. Tentunya ini menunjukkan kesempurnaan nikmat surga.  Dan sebagaimana di dunia yang dijadikan patokan keindahan adalah emas dan perak, maka di surga pun juga ada emas dan perak. Akan tetapi emas dan perak di surga berbeda dengan emas dan perak di dunia, sehingga jangan disangka sama hakikatnya. Oleh karenanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْجَنَّةِ شَيْءٌ إِلَّا الْأَسْمَاءَ

“Tidak ada sesuatu perkara yang sama di dunia dan surga kecuali hanya nama.”([40])

Dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا، قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ

“Dan cangkir-cangkir yang bening laksana kristal, yang kristal jernih terbuat dari perak.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa perumpamaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat ini yang tidak pernah kita jumpai di dunia. Karena sebagaimana kita jumpai, kita tidak pernah mendapati ada perak setipis apa pun yang tembus pandang (bening). Akan tetapi di surga ada perak yang tembus pandang seperti kaca. Ini menunjukkan bahwa perak di dunia berbeda dengan perak yang ada di surga. Adapun yang sama hanya sekedar nama.

Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا

“Mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka).”

Para ulama mengatakan bahwa maksud potongan ayat ini adalah dayang-dayang (pelayan) orang-orang yang beriman di surga ketika menuangkan minuman kepada penghuni surga, maka akan dituangkan sesuai dengan kebutuhan (keinginan) penghuni surga tersebut. Jadi pelayannya tiba-tiba tahu bahwa penghuni surga tersebut butuhnya setengah gelas, atau jumlah yang lainnya. Intinya pelayan tersebut tahu berapa banyak yang harus dituangkan sehingga tidak ada minuman yang tersisa. Dan sebagaimana telah disebutkan bahwa mereka bukan minum karena kehausan, melainkan karena berlezat-lezat.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

“Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe.” (QS. Al-Insan : 17)

Kalau dalam bahasa kita, maka زَنْجَبِيلًا adalah jahe. Akan tetapi sekali lagi kita tidak tahu seperti apakah zanjabil di surga. Akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan,

فَتَارَةً يُمزَج لَهُمُ الشَّرَابُ بالكافور وَهُوَ بَارِدٌ، وَتَارَةً بِالزَّنْجَبِيلِ وَهُوَ حَارٌّ، لِيَعْتَدِلَ الْأَمْرُ، وَهَؤُلَاءِ يُمْزَجُ لَهُمْ مِنْ هَذَا تَارَةً وَمِنْ هَذَا تَارَةً

“Terkadang minuman mereka diberi campuran kafur yang sejuk (dingin), dan terkadang diberi campuran dengan jahe yang hangat, sehingga rasanya beragam. Orang-orang yang bertakwa dari kalangan ahli surga diberi minuman yang adakalanya dicampur dengan kafur, adakalanya pula dicampur dengan jahe.”([41])

Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan minuman kepada penduduk surga dengan minuman yang beragam, yaitu ada yang bercampur dengan dingin dan ada pula yang bercampur dengan kehangatan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

“(Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil.” (QS. Al-Insan : 18)

Kata سَلْسَبِيلًا di dalam ayat ini membuat para ulama bertanya-tanya tentang apa Salsabil. Kita bisa membayangkan bagaimana itu mata air, hanya saja arti penamaan Salsabil itu tidak diketahui oleh para ulama, sehingga para ulama membahas apa makna kata ini. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa kata سَلْسَبِيلًا diambil dari kata سَلَاسَة yang maknanya mudah untuk masuk ke dalam mulut seseorang. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa kata سَلْسَبِيلًا diambil dari kata سَبَلَ yang artinya banyak, seperti kata سَبَلَتِ السَّمّاء امطارا (langit mengeluarkan hujan dengan deras). Maka dari sini kata سَلْسَبِيلًا merupakan perpaduan dari kata سَلَاسَة dan سَبَلَ yang artinya adalah air yang mudah diminum dan jumlahnya banyak([42]). Akan tetapi kita katakan bahwa ini adalah di antara usaha para ulama tafsir dalam menafsirkan kata Salsabila. Hanya saja kembali lagi bahwa itu hanya sekedar nama. Yang jelas kita pahami bahwa itu adalah mata air, meskipun nama tersebut tidak ada di dunia.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Dan mereka dikelilingi oleh para anak-anak yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, kamu akan mengira (seperti) mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan : 19)

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kenikmatan surga, maka kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang pelayan-pelayan di surga. Karena yang namanya raja tentu harus memiliki pelayan dan selir.

Yang pertama Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan bahwa pelayan di surga itu berupa anak-anak. Secara bahasa, kata وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ artinya adalah anak-anak yang abadi. Abadi yang dimaksud di sini bukanlah masalah umur karena kita telah paham dan tahu bahwa penduduk surga semua akan abadi di akhirat kelak. Akan tetapi abadi maksudnya adalah anak-anak tersebut tidak akan tua. Di antara sebab Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan khusus anak-anak sebagai pelayan penghuni surga, pertama adalah agar yang menyuruh pun bersikap santai sebab anak-anak lebih mudah untuk disuruh; dan kedua adalah karena anak-anak lebih giat (lincah)([43]).

Kemudian pelayan anak-anak tersebut jumlahnya sangat banyak bertebaran. Sehingga kapan saja penghuni surga ingin dilayani, maka mereka langsung bisa dilayani karena saking banyaknya pelayan yang bertebaran. Berbeda halnya dengan bidadari, pelayan anak-anak Allah Subhanahu wa ta’ala sebut dengan mutiara yang bertebaran, sedangkan bidadari Allah Subhanahu wa ta’ala sebut,

وَحُورٌ عِينٌ، كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan.” (QS. Al-Waqi’ah : 22-23)

Bidadari itu dipingit dan tidak berkeliaran layaknya pelayan-pelayan anak-anak. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ، فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ، حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rahman : 70-72)

Maka berbeda dengan pelayan anak-anak, bidadari melayani penghuni surga dengan pelayanan khusus yang tidak dilakukan oleh pelayan anak-anak. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala menamakan bidadari dengan “mutiara yang tersimpan”.

Perhatikan di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut bahwa penghuni surga akan melihat pelayan anak-anak itu seperti mutiara yang bertebaran. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa mutiara itu warnanya putih bersih dan tidak ada noda sama sekali. Maka sebagian ulama mengatakan bahwa jika pelayannya saja tampak putih-putih seperti mutiara, maka bagaimana lagi dengan bosnya (yang dilayani)? Tentunya jauh lebih putih. Artinya orang yang masuk surga akan diubah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala menjadi lebih gagah bagi laki-laki atau cantik bagi perempuan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

“Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan : 20)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan isim syarat jika-maka. Artinya jika seseorang telah melihat surga, maka tidak ada yang dilihat kecuali kenikmatan. Ini diantara nikmat yang diberikan untuk para penghuni surga. Berbeda dengan akhirat, di dunia kita terkadang melihat hal-hal yang membahagiakan, akan tetapi terkadang kita juga melihat hal-hal yang menyesakkan dada. Jadi seluruh isi surga adalah kenikmatan dan tidak ada kesedihan sedikitpun. Oleh karenanya tatkala penghuni surga dimasukkan ke dalam surga, mereka berkata,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir : 34)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan وَمُلْكًا كَبِيرًا (kerajaan yang besar). Apa maksudnya? Para Ahli tafsir menyebutkan beberapa tafsiran,

Tafsiran pertama, وَمُلْكًا كَبِيرًا maksudnya adalah setiap penghuni surga akan memiliki kerajaan yang luas([44]). Dan telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan tentang penghuni surga yang terakhir masuk ke dalam surga, namun Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan baginya surga dengan luas sepuluh kali dunia. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ، فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا، وَكَانَ يَقُولُ: ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Allah berfirman (kepada orang tersebut), ‘Pergi dan masuklah ke dalam surga, dan bagimu surga seluas dunia dan bahkan sepuluh kali lipatnya’. Dan Nabi berkata, ‘Itulah penghuni surga yang tingkatannya paling rendah’.”([45])

Dunia ini saja sudah sangat besar, maka bagaimana lagi dengan kerajaan yang luasnya sepuluh kali dunia? Dunia ini saja belum ada yang bisa merajai sepenuhnya. Akan tetapi intinya semua orang di surga memiliki kerajaan yang sangat luas.

Tafsiran kedua, وَمُلْكًا كَبِيرًا maksudnya adalah seorang penghuni surga memiliki kekuasaan yang luar biasa. Karena kekuasaannya yang sangat luar biasa, sampai-sampai malaikat yang mau datang bertemu dengannya pun harus minta izin terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa penghuni surga benar-benar dirajakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala([46]).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

“Mereka berpakaian sutra halus yang hijau dan tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (suci).” (QS. Al-Insan : 21)

Disebutkan oleh Syaikh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wa At-Tanwir bahwa سُنْدُسٍ (kain sutra yang halus) adalah jenis kain yang didatangkan dari India, sedangkan وَإِسْتَبْرَقٌ (kain sutra yang tebal) adalah jenis kain yang didatangkan dari Persia.([47]) Kedua model kain sutra ini dipakai oleh penghuni surga kelak. Dan sebagaimana kita melihat para ulama di Arab Saudi, mereka biasanya mengenakan jubah putih tebal yang kemudian dilapisi dengan jubah coklat yang tipis, sehingga jika mereka berjalan tampak karismatik, hebat, dan indah. Maka di surga pun demikian, penghuni surga akan memakai kain sutra yang tebal dan tipis.

Kemudian penghuni surga juga akan memakai gelang-gelang yang dahulu di dunia laki-laki dilarang menggunakannya. Akan tetapi raja-raja dahulu seperti Fir’aun, Kisra, dan para Kaisar menggunakan gelang. Maka di akhirat kelak laki-laki yang menjadi raja akan memakai gelang yang terbuat dari perak. Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan,

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا

“Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara.” (QS. Al-Hajj : 23)

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam surah Fathir dan Al-Kahfi. Para ulama mengatakan bahwa ini adalah dalil bahwasanya di tubuh penghuni surga terdapat gelang yang terbuat dari perak dan ada pula yang terbuat dari emas. Sehingga segala jenis kenikmatan mereka miliki.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

“Dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci).”

طَهُورًا artinya adalah bersih dan membersihkan atau suci dan menyucikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih (dan membersihkan).” (QS. Al-Furqan : 48)

Apa maksudnya minuman yang mensucikan? Secara umum ada dua tafsiran di kalangan para ulama,

Tafsiran pertama menyebutkan bahwa maksud mensucikan adalah ketika penduduk surga minum, maka seluruh makanan tidak berubah menjadi kotoran([48]). Oleh karenanya di surga tidak ada kotoran-kotoran yang biasa keluar dari tubuh manusia. Adapun makanan tersebut tercerna menjadi keringat yang baunya seperti Kasturi karena minum air tersebut. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتْفُلُونَ وَلَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ، قَالُوا: فَمَا بَالُ الطَّعَامِ؟ قَالَ: جُشَاءٌ وَرَشْحٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ

“Sesungguhnya penghuni surga makan dan minum di dalamnya, mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak berak dan tidak ingusan”. Mereka bertanya ‘Bagaimana dengan makanannya?’ Beliau menjawab, ‘(mereka) bersendawa dan keringat (yang baunya) seperti minyak kesturi’.”([49])

Tafsiran kedua menyebutkan bahwa maksud minuman tersebut mensucikan adalah minuman itu membersihkan segala penyakit hati para penduduk surga. Jadi tatkala mereka minum air yang mensucikan tersebut, maka hati mereka bersih dari segala penyakit iri, dengki, hasad, dan akhlak tercela lainnya. Dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir rahimahullah sebagaimana beliau sebutkan dalam tafsirnya.([50]) Dan semakin mereka minum air tersebut, maka mereka akan bertambah bahagia. Karena bukankah seseorang itu tidak bahagia ketika memiliki iri, dengki, hasad, dan jengkel di hatinya? Maka penduduk di surga akan diberikan minuman yang menghilangkan kotoran-kotoran di hati sehingga menambah kebahagiaan bagi mereka.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا

“Inilah balasan untukmu, dan (karena) segala usahamu diterima dan diakui (Allah).” (QS. Al-Insan : 22)

Setelah orang-orang beriman itu masuk surga, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengatakan kepada mereka sebagaimana dalam ayat ini. Mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala ucapkan ini kepada mereka? Sebagian ulama menyebutkan bahwa agar mereka tidak merasa malu. Bukankah kalau seseorang bertamu ke rumah seseorang lantas diberikan segala apa yang dia mau tanpa alasan yang jelas, maka pasti orang tersebut merasa tidak enak. Akan tetapi jika orang yang memberi mengatakan “Ini pantas untukmu”, maka yang menerima pun tidak akan segan. Maka demikian pula Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan demikian agar hati mereka lega bahwa kenikmatan yang mereka lakukan itu sebab amal mereka selama di dunia, sehingga mereka pantas untuk mendapatkannya([51]).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur.” (QS. Al-Insan : 23)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan dua kata yang sama-sama menggunakan dhamir نحن, yaitu pada kata إِنَّا dan نَحْنُ. Para ulama menyebutkan bahwa ini menunjukkan penekanan, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan penekanan di atas penekanan bahwa hanya Allah yang menurunkan Alquran itu secara berangsur-angsur([52]). Bukan karangan siapapun, baik itu Jibril ataupun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk tidak menghiraukan perkataan orang-orang kafir. Karena orang-orang kafir berkata dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” (QS. Al-Furqan : 32)

Oleh karenanya ini dalil bahwa Alquran bukanlah karangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan tentunya Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan Alquran secara berangsur-angsur tentunya dengan sengaja dan ada hikmah di baliknya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

“Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) keputusan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (QS. Al-Insan : 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan agar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengikuti seorang pun dari orang-orang kafir, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut dengan tidak mengikuti آثِمًا أَوْ كَفُورًا (pendosa atau orang kafir). Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berkata آثِمًا أَوْ كَفُورًا agar jelas hukumnya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mengikuti permintaan orang-orang kafir adalah dosa dan perbuatan kekufuran. Sehingga jika beliau mengikuti mereka maka beliau pun bisa terjerumus dalam dosa dan kekufuran.

Ayat ini berkaitan dengan tawaran orang-orang musyrikin seperti ‘Utbah bin Rabi’ah yang menawarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anak perempuannya untuk dinikahi dengan syarat beliau berhenti berdakwah. Demikian pula Al-Walid Ibnul Mughirah yang menawarkan harta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau tidak mencela tuhan-tuhan mereka([53]). Dan orang-orang musyrikin memiliki permintaan yang banyak, di antaranya adalah meminta agar Alquran turun secara keseluruhan dan tidak berangsur-angsur, meminta agar Mekkah yang tandus dialiri sungai, dan permintaan yang lainnya. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak mengikuti semua permintaan mereka sama sekali.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan : 25-26)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan cara agar bisa tegar mengahadapi gangguan dan ejekan orang-orang musyrikin. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang musyrikin mengancam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa jika beliau tidak menjalankan keinginan mereka, maka mereka akan menuduh beliau sebagai orang gila, dukun, penyihir, yang tersihir, dan ejekan lainnya. Dan tentunya tuduhan-tuduhan itu sangat mengganggu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr : 97)

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengajarkan bahwa cara menghadapi ucapan dan tuduhan orang-orang musyrikin adalah dengan berdzikir di pagi dan sore hari, serta shalat di malam hari. Ibadah di pagi, petang dan malam hari adalah hal yang bisa membuat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kuat dan kuat untuk tidak terjerumus dalam godaan orang-orang musyrikin. Dan telah sering penulis sampaikan bahwa shalat malam adalah senjata yang sangat ampuh bagi seorang mukmin untuk bisa menghadapi berbagai macam godaan dan cobaan di siang hari dalam kehidupan ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai sesuatu yang disegerakan (dunia) dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya.” (QS. Al-Insan : 27)

Orang-orang kafir itu tidak peduli dengan hari kiamat. Bagaimana mereka mau peduli? Sedangkan mereka tidak beriman dengan hari kebangkitan. Dan yang mereka inginkan hanyalah kenikmatan yang ada di depan mata, sedangkan kenikmatan yang ada di depan mata itu sangat tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan nikmat akhirat. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar itu lebih baik (pahalanya) daripada dunia dan seisinya.”([54])

Maka kenikmatan yang disegerakan di dunia ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenikmatan di surga, bahkan tidak ada nilainya sama sekali. Sementara orang-orang kafir ingin kenikmatan yang bisa mereka lihat langsung namun mereka juga tidak dapati, sehingga mereka mengabaikan hari kebangkitan.

Seseorang boleh saja menikmati dunia, akan tetapi jangan sampai melupakan akhirat. Oleh karenanya orang-orang saleh menasihati Qarun. Mereka berkata dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash : 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa akhirat itu lebih utama, namun dunia tetap diperlukan. Dan ayat ini tidak menunjukkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, melainkan Allah Subhanahu wa ta’ala menitik beratkan pada mencari untuk kehidupan akhirat. Karena banyak orang yang menafsirkan bahwa dunia dan akhirat itu harus seimbang, padahal tidak demikian. Dan tidaklah kita mengambil dunia hanya untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.

Adapun orang kafir meninggalkan kehidupan akhirat, padahal hari kiamat adalah yang sangat berat bagi semua orang.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا

“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami dapat mengganti dengan yang serupa mereka.” (QS. Al-Insan : 28)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan orang-orang kafir. Adapun tafsiran firman Allah Subhanahu wa ta’ala وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا, terdapat dua tafsiran di kalangan para ulama mengenai ayat ini.

Tafsiran pertama, disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwasanya seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

وَإِذَا شِئْنَا بَعَثْنَاهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وبَدَّلْنَاهُمْ فَأَعَدْنَاهُمْ خَلْقًا جَدِيدًا

“(Yakni) apabila Kami menghendaki, Kami bangkitkan mereka di hari kiamat dan Kami ganti mereka dengan mengembalikan mereka dalam ciptaan yang baru.”([55])

Artinya jika Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk membuat yang semisal dengan mereka pada hari kiamat kelak atau dibangkitkan dalam bentuk yang lain adalah hal yang mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tafsiran kedua, Allah Subhanahu wa ta’ala menguasai mereka (orang-orang kafir), sehingga jika Allah Subhanahu wa ta’ala ingin membinasakannya dan menggantinya dengan makhluk yang lain, maka tentu Allah Subhanahu wa ta’ala mampu([56]).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا

“Sungguh, ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju kepada Tuhannya.” (QS. Al-Insan : 29)

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menegaskan tentang jalan menuju-Nya secara tegas. Jika seseorang ingin masuk surga, maka telah jelas jalannya dan tinggal ditempuh jika mau.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah kehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan : 30)

Sesungguhnya yang membuat seseorang menempuh jalan yang lurus itu adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka jika seseorang telah berada di jalan tersebut, hendaknya dia tidak ujub dan minta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar terus ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Karena kita tidak mungkin tercapai segala keinginan kita jika Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki kehendak yang lain.

Jadi Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar seseorang memiliki keinginan untuk berada di jalan yang lurus. Akan tetapi jika seseorang telah menempuh jalan yang lurus, maka segeralah meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar kita bisa dikokohkan di jalan tersebut, karena rintangan yang dapat memalingkan dari jalan tersebut sangatlah banyak. Kalau kita tetap berada di jalan tersebut, maka pasti itu akan mengantarkan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan tentunya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Tahu mana hamba-Nya yang berhak masuk surga, yang mampu menempuh jalan menuju surga, yang mana ikhlas dan riya’, yang mana sombong dan munafik. Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Tahu segalanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-orang zalim disediakan azab yang pedih.” (QS. Al-Insan : 31)

 _________________________________________________-

([1])  HR. Bukhari no. 891

([2]) Lihat Tafsir At-Tahrir wat tanwir 29/362

([3]) Lihat Al-Bahrul Muhith fi Tafsir 10/358

([4])  HR. Tirmdzi no. 116

([5]) Lihat Tafsir At-Tahrir wat tanwir 29/370

([6])  Untuk mengetahui apakah istifham tersebut merupakan taqriri (penekanan) ataukah ingkari (pengingkaran) maka dengan cara menjawab pertanyaan tersebut. Jika jawabannya adalah “iya” maka itu merupakan istifham taqriri, dan jika jawabannya adalah “tidak” maka itu adalah istifham ingkari. Jika kita mem

perhatikan ayat 1 dari surah al-Insan yaitu

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan : 1)

Tentu jawaban yang tepat adalah “iya”. Maka diketahui bahwa istifham pada ayat tersebut adalah untuk taqriri.

([7])  Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-Imam al-Bukhari, beliau berkata :

سُورَةُ هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ يُقَالُ: مَعْنَاهُ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ، وَهَلْ تَكُونُ جَحْدًا، وَتَكُونُ خَبَرًا، وَهَذَا مِنَ الخَبَرِ

“Surah “Hal ataa álaal insaan (Bukankah pernah datang kepada manusia)” dikatakan maknanya adalah “Telah datang kepada manusia”. Dan هَلْ “Hal” bisa untuk mengingkari dan bisa untuk mengkabarkan, dan “Hal” disini untuk mengabarkan (menekankan)” (Shahih al-Bukhari 6/164). Lihat juga penjelasan Ibnu Hajar (Fathul Baari 8/684)

([8]) Tafsir Al-Qurthuby 19/119.

([9])  HR. Muslim no. 2996

([10])  Tingkatakan ketiadaan ada dua: Pertama adalah belum ada namun telah disebut-sebut, contohnya adalah seseorang yang berencana melakukan sesuatu di tahun depan lantas kemudian menyebut-nyebut rencana tersebut; Kedua adalah belum ada dan tidak disebut sama sekali, contohnya adalah salah seorang di zaman ini belum ada 1000 tahun yang lalu dan tidak pula disebut-sebut.

([11]) Lihat Tafsir At-Tahrir wat tanwir 29/373, Tafsir Al-Qurthuby 19/119-120

([12]) Lihat Al-Bahrul Muhith fi Tafsir karya Abu Hayyan Al-Andalusy 10/358.

([13])  Lihat Tafsir Hadaaiq Ar-Ruh war Raihan karya Muhammad Al-Amin Al-Harory 30/523.

([14])  HR. Bukhari no. 4837

([15])  Tafsir Al-Qurthubi 19/125

([16])  Tafsir Al-Qurthubi 19/125

([17])  Lihat At-Tahrir wat tanwir 29/380.

([18])  HR. Tirmidzi no. 2525

([19])  Tafsir Ibnu Katsir 1/204

([20]) Lihat Al-I’jaaz Al-Bayani fil Udul An-nahwi karya Dr. Abdullah Al-Harory hal.147.

([21]) Lihat Tafsir Al-Qurthuby 19/126

([22])  HR. Muslim no. 1640

([23]) Lihat At-Tahrir wat tanwir 29/382.

([24]) Lihat At-Tahrir wat tanwir 29/383.

([25])  HR. TIrmidzi no. 2485

([26])  HR. Bukhari no. 1479 dan HR. Muslim no. 1039, dengan lafal Al-Bukhari

([27])  Idem.

([28]) Lihat Tafsir Al-Bahrul Muhith 10/361.

([29])  HR. Abu Daud no. 4811

([30])  HR. Abu Daud no. 1672

([31]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/296

([32]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/263.

([33]) Lihat Syarah Riyadhusshalihin karya Ibnu Utsaimin 1/229, Tafsir Al-Qurthuby 2/174.

([34])  HR. Bukhari no. 1302 dan HR. Muslim no. 926

([35])  HR. Bukhari no. 5833

([36]) Lihat At-Tahrir wat tanwir 30/204.

([37]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 5/156.

([38]) Lihat Tafsir Al-Qurthuby 18/270.

([39])  HR. Ath-Thabrani no. 919 dalam Mu’jam Al-Ausath

([40])  Tafsir Ath-Thabari 1/392

([41])  Tafsir Ibnu Katsir 8/291-292

([42]) Lihat At-Tahrir wat Tanwir 29/396.

([43]) Idem 29/397.

([44]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/292.

([45])  HR. Bukhari no. 6571

([46]) Lihat tafsir As-Sam’aany 6/120.

([47])  At-Tahrir wa At-Tanwir 15/313

([48]) Lihat Al-Bahrul Muhith fi Tafsir 10/368.

([49])  HR. Muslim no. 2835

([50])  Tafsir Ibnu Katsir 8/293.

([51]) Lihat Al-Bahrul Muhith fi Tafsir 10/369.

([52]) Lihat Tafsir Al-Qurthuby 19/149.

([53]) Lihat Tafsir As-Sam’aany 6/122.

([54])  HR. Muslim no. 725

([55])  Tafsir Ibnu Katsir 8/294

([56]) Lihat Tafsir As-Sam’aany 6/123.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar